Pro Kontra Pemakaian MICIN (MSG)

Beranda / Berita / Pro Kontra Pemakaian MICIN (MSG)
13 September 2021
Pro Kontra Pemakaian MICIN (MSG)

Dalam dunia kuliner, nama Indonesia sudah sangat terkenal. Bagaimana tidak, negara Indoensia sangat kaya akan rempah-rempah serta Makanan dan jajanan khas Indonesia yang dikenal dengan cita rasa yang kuat. Salah satu bumbu masak yang bisa membuat cita rasa gurih yang kuat adalah MSG. Bumbu masak yang dikenal dengan istilah Micin ini selain disukai oleh masyarakat Indonesia, namun juga memiliki ancaman serius jika dikonsumsi secara berlebih. Pertanyaan berikutnya Apakah Micin aman ? 

Jika dilihat dari struktur kimianya, MSG memiliki struktur yang sama dan cenderung tidak ada bedanya dengan asam amino glutamate, sehingga metabolisme glutamat pada MSG tidak akan berbeda dengan asam glutamat. Glutamat merupakan komponen yang telah lama dikonsumsi oleh manusia, oleh karena itu glutamat akan dikenali oleh tubuh sehingga tidak akan dianggap sebagai zat asing. Bahkan, pada dasarnya tubuh kita pun bisa memproduksi glutamat sebagai salah satu asam amino dan tubuh kita sanggup memproduksi 50gr glutamat untuk memenuhi kebutuhan metabolism tubuh setiap harinya.

Tanpa disadari, glutamat memiliki peran penting dalam proses metabolism tubuh. Pada system otak, glutamate memiliki peran sebagai neotransmitter (senyawa yang berperan membawa sinyal antara sel saraf). Adapun peran glutamat sebagai sumber energi usus halus dalam proses penyerapan zat gizi dari makanan yang kita konsumsi. Namun dengan penjelasan diatas apakah kita bisa mengambil kesimpulan bahwa MSG itu aman bagi tubuh?

KONTROVERSI MSG

Ada banyak sekali penelitian yang didasari oleh kontroversi penggunaan MSG. monosodium L-glutamat atau Micin, dituding sebagai senyawa yang dapat menyebabkan kerusakan saraf, obesitas, kanker dan berbagai penyakit lainnya. Hal ini bermula ini bermula ketika Robert Ho Man Kwok seorang dokter keturunan China-Amerika membagikan tulisannya tentang bahaya dari MSG. pada tahun 1968, Robert menuliskan sebuah esai ke New England Journal of Medicine tentang sindrom restoran china. Dalam tulisannya Robert mencertikan pengalaman dia setiap mengunjungi restoran china untuk makan, setelahnya Robert mengalami mati rasa di belakang leher yang menyebar hingga ke lengan dan punggung, jantung berdebar-debar dan tubuh menjadi lemas. Ia sempat menduga hal itu mungkin terjadi karena ia mengonsumsi kecap dan anggur, namun kemudian Robert menduga MSG sebagai dalangnya, karena MSG merupakan bahan pelengkap sebagai bumbu di restoran china. Karna hal itulah kemudian memantik pakar untuk melakukan penelitian ilmiah guna mengetahui efek MSG pada hewan dan manusia.

International Food Information Council Foundation menentang saat seorang psikiater asal Washington University yang bernama John Onley yang membagikan hasil penelitiannya terhadap tikus, Onley berasumsi bahwa MSG dapat menyebabkan neurotoksisitas (kerusakan fungsi otak) akibat tingginya konsentrasi glutamate pada tikus. Hal itu ditentang lantaran metodologi yang dilakukan onley tidak sesuai karena onley menggunakan dosis yang terlalu tinggi untuk ukuran tikus dan metode injeksi (suntikan) pada tikus tidak mewakili perilaku manusia normal ketika mengkonsumsi MSG.

#Hastag
Berita Lainnya
Copyright © 2021 Masoem University