Rangkaian Kesatuan antara English as a Second Language dengan English as a Foreign Language (PART 2)

Beranda / Berita / Rangkaian Kesatuan antara English as a Second Language dengan English as a Foreign Language (PART 2)
21 Agustus 2019
Rangkaian Kesatuan antara English as a Second Language dengan English as a Foreign Language (PART 2)

Pengenalan teknologi internet telah membantu pengalaman mengajar dan belajar bahasa Inggris menjadi lebih mudah. Guru-guru bisa berkomunikasi dan berbagi pengalaman mereka dengan guru lain, dan mendownload permainan, latihan tata bahasa dan rencana pelajaran. Demikian pula, ketersediaan perangkat lunak belajar bahasa Inggris telah membantu banyak pelajar bahasa Inggris di seluruh dunia menguasai bahasa tersebut dengan lebih baik dan lebih cepat.

Di masa depan, bahasa Inggris tidak akan menjadi bahasa asing lagi. Bahasa Inggris akan menjadi bahasa kedua atau bahkan bahasa pertama. Lebih banyak orang tua yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris lebih suka berbicara kepada anak-anak mereka dalam bahasa Inggris. Ini bisa dilihat di antara para migran yang hidup di Amerika Serikat, Kanada, dan Australia. Fenomena ini juga dapat dilihat di Singapura dan Malaysia.

Belajar EFL (English as a Foreign Language), atau bahasa Inggris sebagai bahasa asing yaitu, bahasa Inggris di budaya asli seseorang dengan sedikit sekali kesempatan untuk menggunakan bahasa itu di dalam lingkungan budaya itu (misalnya, orang Jepang yang belajar bahasa Inggris di Jepang), mungkin pada awalnya terlihat mudah di definisikan. Ada dua perkembangan global, yang boleh jadi, mengurangi kejelasan pengidentifikasian konteks “EFL” yang sederhana:

  1. kecenderungan terbaru adanya komunitas imigran yang memapankan diri mereka di berbagai negara (misalnya, komunitas Hispanik, China, dan Rusia di sebuah kota besar di Amerika Serikat) menghadirkan akses lengkap untuk para pengguna bahasa-bahasa yang disebut asing ini.
  2. dalam kasus bahasa inggris, penetrasi media berbasis bahasa Inggris (terutama televisi, internet, dan industry film) memberikan akses lengkap lagi kepada bahasa Inggris bahkan di lokasi yang boleh dibilang terisolasi.

Masalah dengan peristilahan ESL/EFL, seperti yang Nayar (1997) tunjuk, adalah bahwa istilah ini “tampaknya telah menciptakan cara pandang bahwa dengan menjadi penutur asli bahasa Inggris akan dengan sendirinya orang diyakini tak hanya komponen dalam penggunaan dan pengajaran tetapi juga cakap dalam memberi tahu orang-orang lain bagaimana seharusnya bahasa Inggris diajarkan”. Beragam konteks penggunaan bahasa Inggris di seluruh dunia menuntut perhatian saksama pada variabel masing-masing situasi sebelum membuat generalisasi pukul rata tentang berlakunya satu dari dua model yang ada, ESL atau EFL.

Berita Lainnya
Copyright © 2019 Masoem University