Jadi konselor bukan cuma soal memahami orang lain, tapi juga soal mengenali diri sendiri terlebih dahulu. Itulah pentingnya self-awareness atau kesadaran diri yang mulai ditekankan sejak awal di jurusan Bimbingan Konseling (BK), termasuk di Ma’soem University.
Mahasiswa BK dihadapkan pada banyak dinamika psikologis saat menjalani praktik: mendengar curhatan berat, menghadapi klien yang emosional, hingga mempertahankan netralitas saat nilai pribadi diuji. Tanpa self-awareness yang kuat, mereka bisa mudah lelah secara emosional atau bahkan kehilangan objektivitas.
Self-awareness membantu mahasiswa untuk:
-
Mengenali emosi dan bias pribadi agar tidak terbawa ke ruang konseling
-
Mengelola stres dan tekanan saat menghadapi kasus yang kompleks
-
Menjaga profesionalisme dan batasan dalam hubungan konselor-klien
-
Membangun empati tanpa kehilangan arah dan kendali diri
-
Tahu kapan harus mengarahkan, dan kapan cukup mendengarkan
Di Ma’soem University, pengembangan self-awareness ini dilakukan melalui berbagai metode, seperti:
-
Refleksi pribadi setelah praktik konseling
-
Diskusi terbuka di kelas untuk mengolah perasaan saat menghadapi kasus simulasi
-
Jurnal emosi, di mana mahasiswa menuliskan respons emosional mereka setelah sesi latihan
-
Bimbingan dan mentoring, agar mahasiswa punya tempat aman untuk curhat dan belajar mengelola beban mental
Menurut dosen BK, mahasiswa yang tidak mengenali dirinya sendiri akan sulit membantu orang lain. Mereka bisa ikut larut, defensif, atau bahkan terlalu mengontrol klien. Sementara konseling yang efektif membutuhkan pikiran jernih, emosi stabil, dan kehadiran penuh.
Oleh karena itu, sebelum menjadi “penyembuh” bagi orang lain, mahasiswa BK dilatih untuk mengenali luka, potensi, serta nilai hidupnya sendiri. Hanya dengan itu, mereka bisa hadir secara utuh dan empatik sebagai konselor masa depan.





