Siapa Bilang Kuliah Jurusan Perbankan Tak Bisa Wirausaha

Beranda / Berita / Siapa Bilang Kuliah Jurusan Perbankan Tak Bisa Wirausaha
27 Februari 2020
Siapa Bilang Kuliah Jurusan Perbankan Tak Bisa Wirausaha

Kuliah di perbankan bukan berarti harus kerja di bank. Setidaknya inilah yang diyakini Opi Sopianti, alumnus jurusan perbankan yang memilih terjun bisnis kuliner dari nol. Sempat ketipu puluhan juta, tapi berhasil bangkit dan mengembangkan usaha beromzet menggiurkan.

Rich Tate, nama merek kuliner buatan ibu dua anak tersebut, kini dipromosikan di media sosial baik Instagram maupun Facebook. Namun jauh sebelum booming media sosial, Opi mengawali bisnisnya ketika anaknya masih Taman Kanak-kanak (TK) pada 2002. Waktu itu ia melihat peluang usaha selama mengantar jemput anaknya.

“Jadi waktu nunggu anak TK itu kan ada waktu, saya pikir bisa dipakai jualan sambil nunggu,” tutur Opi, mengawali cerita bisnis kuliner, saat ditemui Kabar Kampus, awal Januari lalu.

Dari situ, ia mulai menerima pesanan dari tetangga. Menurut tetangga, cerita Opi, kue-kue buatannya enak dan menarik. Tak hanya kue, ia pun mengerjakan pesanan tumpeng atau berbagai jenis masakan. Sementara jualan kuenya berlanjut hingga anaknya sekolah SD.

Pesanan mulai mengalir dari tetangga, ibu-ibu sosialita, instansi pemerintahan maupun swasta. Menu andalan Opi terutama snack box yang berisi roti, bolu, dan aneka kue-kue basah mulai risoles, pudding, bugis, lontong, dan lain-lain.  

Opi sendiri sebenarnya tidak memiliki latar pendidikan tata boga. Perempuan kelahiran Bandung 24 Januari 1974 ini mengenyam pendidikan di sebuah kampus swasta di Bandung jurusan perbankan. Bahkan sejak gadis Opi mengaku tidak bisa memasak.

“Saya mulai belajar masak setelah menikah. Pas nikah, saya tidak bisa memasak. Orang yang kenal sama saya, heran saya bisa bisnis kue karena saya dulunya tidak bisa memasak,” kata Opi.

Untuk memperdalam ilmu di bidang kuliner, Opi giat mengikuti berbagai kursus atau pelatihan cara membuat kue maupun masakan. Di luar usaha kulinernya, Opi juga aktif membuka peluang usaha lain, mulai dari bisnis MLM sampai investasi.

Namun sayang, di bidang investasi Opi harus kena penipuan, bahkan sampai dua kali. Musibah lain, suaminya juga kena PHK. Uang pesangon PHK suaminya senilai belasan juta diinvestasikan ke pupuk. Tetapi rupanya investasi pupuk tersebut bodong. Uang belasan juta itu pun lenyap tak kembali.

Berikutnya, Opi kembali kena tipu. Kali ini nilainya sampai Rp50 juta. Ia tergiur investasi pada suatu koperasi yang ternyata bodong juga. Akibatnya, Opi dan teman-temannya yang juga kena tipu berusaha menarik kembali uang yang mereka tanam. Bahkan temannya ada yang tertipu ratusan juta.

Penipuan tersebut akhirnya berdampak pada bisnis kuliner Opi. “Saya ikut rapat-rapat (dengan para korban penipuan) untuk mendapatkan kembali uang saya, tapi tidak membuahkan hasil. Waktu dan tenaga saya habis, saya drop sampai sakit,” katanya.

Otomatis bisnis kuenya ikut tersendat. “Bikin kue kan harus fokus. Kalau tidak fokus hasilnya ga akan benar,” ujar Opi. Akibatnya ia memutuskan berhenti memproduksi kue. Banyak pesanan yang ia tolak. “Lima tahun saya vakum bikin kue.”

Selama lima tahun, ia dan teman-teman sesama korban penipuan terus berjuang mengambil kembali uang dari koperasi bodong. Tetapi nihil. Bahkan Opi sampai harus minjam ke bank untuk menutup uang yang diinvestasikan.

Suatu waktu, ia melirik kembali bisnis kulinernya. Saat itu ia dapat pesanan kue dalam partai yang cukup besar. “Waktu itu ada yang pesan zuppa soup untuk hajatan di Bandung. Ada sisa, dijual lagi lalu hasilnya bagus,” kenang Opi.

Sejak itu Opi merasa bangkit kembali. Rasa percaya dirinya tumbuh seiring semakin bertambahnya pesanan. Ia lalu membuka lapak di pasar kaget mingguan di kawasan Sesko AU Lembang. Di sana ia menjajakan beragam jenis kue basah.

Tak hanya itu, ia test food di sebuah supermarket di Jalan Panorama, Lembang, dan hasilnya lolos untuk membuka stand kuliner di supermarket tersebut. Dalam perkembangan berikutnya, ia mulai menggunakan media sosial sebagai media promosinya.

Pertama-tama ia memakai Facebook, lalu sejak 2019 ia menggunakan Instagram. Pada 2019 itulah ia merasakan pesanan mengalir seperti air. Dalam sehari, ia sampai menerima pesanan snack box dari tiga instansi. Belum lagi pesanan dari hotel-hotel, sekolah, dan wisatawan yang mau berwisata ke Lembang.

Rich Taste yang berarti kaya rasa terus berkibar bagi para penggemar kuliner. Dalam mengembangkan usahanya itu, Opi dibantu suami dan anaknya. Jika pesanan melimpah, ia mempekerjakan tiga orang pegawai lepas.

“Setelah semua usaha dijabanin, akhirnya saya menemukan berkahnya di kue ini,” ujar Opi, yang baru saja melunasi utang-utangnya ke bank per Desember 2019. Menurutnya, media sosial menjadi salah satu pendongkrak usahanya hingga seperti sekarang ini.

#Hastag
Berita Lainnya
Copyright © 2019 Masoem University