Sinkronus dan Asinkronus dalam Pembelajaran Daring

Beranda / Berita / Sinkronus dan Asinkronus dalam Pembelajaran Daring
5 Maret 2021
Sinkronus dan Asinkronus dalam Pembelajaran Daring

Terjadinya wabah Covid-19 tanpa dipungkiri telah ikut mempengaruhi proses pembelajaran siswa di seluruh dunia. Bangunan sekolah kini tidak lagi menjadi tempat utama bagi berlangsungnya proses pendidikan dan jaringan internet menjadi tumpuan utama bagi proses pembelajaran di berbagai tempat. Dan para peneliti serta pendidik kini berusaha menemukan metode pendidikan daring yang terbaik yang dapat meningkatkan dan mengembangkan outcome pendidikan bagi siswa, baik dari tingkat pendidikan terendah sampai tertinggi.

Pembelajaran daring (dalam jaringan) yang dikenal juga dengan istilah pembelajaran online atau pendidikan jarak jauh (PJJ) sebenarnya telah digunakan oleh beberapa lembaga pendidikan di negara maju. Terjadinya wabah Covid-19 menjadikan metode tersebut semakin populer di berbagai negara dan turut memunculkan diskusi terkait teknik dan penyesuaiannya dengan metode pembelajaran yang sebelumnya.

Penerapan pembelajaran daring telah membuka beberapa keunggulan dibandingkan pembelajaran konvensional, di antaranya adalah:  keefektifannya dalam mendidik siswa, lebih ekonomis, dan bisa menyediakan pendidikan kelas dunia untuk siapapun yang bisa terhubung dengan jaringan internet. Pembelajaran daring juga dapat mengurangi tingkat putus sekolah dari pendidikan menengah ke tinggi, seiring dengan berkurangnya biaya pendidikan tinggi yang selama ini lebih banyak dialokasikan untuk kebutuhan pembangunan fisik bangunan. 

Pembelajaran daring yang sukses menuntut penyelenggara pendidikan untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan memahami keunggulan dan keterbatasan berbagai teknik dan metode pembelajaran daring. Adaptasi di sini juga mencakup penyesuaian semua fasilitas pendidikan dengan kebutuhan atau keadaan individu atau siswa (Graf, 2007). Penelitian mengenai teknik pembelajaran kemudian berujung pada pembandingan outcome berbagai metode pembelajaran daring : Synchronous (sinkronus) dan asynchronous (asinkronus).

Pembelajaran sinkronus dan asinkronus, seperti dalam penggunaan diskusi online, instant messaging, blog, dan lainnya memainkan peran penting dalam memanusiakan pembelajaran daring dengan mereplikasi pengalaman kelas dari pertukaran informasi dan konstruksi sosial, tidak hanya antara pelajar dan pengajar, tetapi juga di antara para pelajar (Shahabadi dan Uplane, 2014). Walau demikian, terdapat keunggulan dan kelemahan pada tiap metode itu sehingga perlu pertimbangan sebelum menerapkannya dalam program pembelajaran.

Pembelajaran daring jenis asinkronus adalah pembelajaran yang biasanya difasilitasi oleh berbagai media seperti email, program e-learning tertentu, atau bahkan whatsapp, mendukung proses belajar-mengajar antara siswa dan guru, bahkan ketika siswa tidak dapat online untuk waktu yang sama. Dengan demikian fleksibilitas merupakan kata kunci dari pembelajaran jenis asinkronus ini. Banyak orang lebih tertarik mengambil kursus / pembelajaran jenis ini karena mereka bisa menyesuaikannya dengan aktifitas pekerjaan, keluarga dan lainnya (Hrastinski, 2008). Kelemahan asinkronus adalah kecenderungannya untuk menghilangkan sentuhan interaksi sosial seperti berdiskusi dan berdebat dengan siswa lainnya. Asinkronus juga bisa menyebabkan sikap apatis dari seorang siswa, karena ketiadaan feedback dari pengajar secara langsung.

Di sisi lain Pembelajaran daring jenis sinkronus adalah pembelajran yang didukung oleh media seperti googlemeet, google classroom, zoom, jitsi dan lainnya, juga menjadi pilihan favorit akhir-akhir ini. Pada jenis pembelajaran ini, pengalaman belajar bersifat langsung dan real-time. Akar dari sinkronus berasal dari tiga pengaruh utama: ruang kelas, media, dan konferensi (Clark dkk., 2007). Pengajar dan siswa yang melakukan pembelajaran daring sinkronus dapat melakukan tanya jawab dan diskusi secara langsung, yang membuat partisipan merasa terlibat secara sepenuhnya alih-alih terisolasi (Hrastinski, 2008). Haythornthwaite dan Kazmer (2002) menyebutkan bahwa sinkronus dapat membuat pribadi lebih menyadari keberadaanya sebagai anggota suati komunitas, dibandingkan dengan seseorang yang hanya terhubung dengan komputer. Walau demikian, pembelajaran sinkronus sangat bergantung aspek teknis. Misalnya pada keadaan kuota internet pada siswa, kestabilan jaringan internet dan bahkan keadaan perangkat (kondisi baterai, memori, dan sebagaiknya). 

Berdasarkan meta analisis di pendidikan tinggi, Bernard dkk. (2004) menemukan bahwa secara keseluruhan tidak ada yang signifikan antara perbedaan prestasi, sikap, dan hasil retensi antara pendidikan online dengan pendidikan tatap muka tradisional. Namun terdapat heterogenitas yang signifikan dalam outcome belajar siswa untuk kegiatan yang berbeda. Pemisahan hasil belajar siswa berdasarkan aktivitas sinkronus (synchronous) dan asinkronus (asynchronous), yaitu aktivitas yang harus dilakukan pada waktu yang sama berdasarkan kenyamanan orang masing-masing, menunjukan bahwa capaian rata-rata untuk aktivitas sinkronus lebih banyak diraih siswa yang melakukan pembelajaran tatap muka biasa, sedangkan capaian rata-rata untuk aktivitas asinkronus lebih banyak diraih oleh siswa yang melakukan pembelajaran daring.

Berbagai perdebatan terkait keunggulan dan kelemahan pembelajaran sinkronus dan asinkronus membawa para peneliti kepada tahap selanjutnya, yaitu mengapa, bagaimana, dan kapan pendidik harus menggunakan berbagai metode pembelajaran itu. Penelitian Harstinsky (2008) menyimpulkan bahwa asinkronus dilakukan ketika : 1. Mendiskusikan isu yang tidak terlalu kompleks; 2. Tahap perkenalan; 3. Perencanaan tugas. Sinkronus dilakukan dengan tujuan siswa menjadi lebih berkomitmen dan termotivasi karena guru mengharapkan tanggapan yang cepat. Adapun pembelajaran sinkronus dilakukan ketika : 1. Membicarakan isu-is yang kompleks; 2. Ketika metode sinkronus berhalangan dilakukan karena pekerjaan, kepentingan keluarga, dan lainnya. Asinkronus bisa diterapkan apabila guru tidak mengharapkan jawaban yang segera karena siswa membutuhkan lebih banyak waktu untuk berfikir. Penelitian yang sama juga menunjukan bahwa pembelajaran sinkronus bisa menguatkan partisipasi kognitif (refleksi dan kemampuan memproses informasi), sedangkan asinkronus meningkatkan gairah, konvergensi, dan motivasi belajar.

Pembelajaran daring yang efektif, dengan demikian perlu menggabungkan metode sinkronus dan asinkronus sesuai kebutuhan siswa untuk menghasilkan outcome yang maksimal. Pelajar yang lebih dewasa misalnya mungkin lebih membutuhkan dan tertarik pada metode asinkronus dibandingkan pelajar di tingkat pendidikan menengah. Pelajar yang lebih dewasa memiliki kebutuhan dan keinginan yang lebih besar untuk belajar secara aktif dan menuntut untuk memiliki lebih banyak pilihan dalam pembelajaran mereka sendiri. Walau demikian, itu bukan berarti sepenuhnya meninggalkan metode sinkronus.  Selain itu, penyelenggara pendidikan juga harus memperhatikan beberapa faktor teknis seperti konsumsi kuota data, fasilitas jaringan, dan kenyamanan dalam melakukan aktifitas pembelajaran.

Ini semua hanya media supaya siswa mendapatkan informasi/pengetahuan semaksimal mungkin, tapi semua itu ada yang lebih penting yaitu motivasi dari siswa dan perasaan butuh dari siswa itu yang disebut student engagement Diterjemahkan dari bahasa Inggris-Keterlibatan siswa terjadi ketika "siswa melakukan investasi psikologis dalam belajar. Mereka berusaha keras untuk mempelajari apa yang ditawarkan sekolah.

Sekarang institusi pendidikan harus mengalihkan fokus penyediaan dana untuk pembangunan gedung dan bangunan fisiknya menjadi fokus ke infrastruktur pendukung PJJ daring seperti penyediaan internet, pelatihan dosen/pengajar, pengembangan konten/bahan ajar, dan insentif pembuatan bahan ajar multimedia. Institusi pendidikan harus mengubah diri menjadi "school without walls".

Oleh : Dr. Ir.H. Ceppy Nasahi Ma'soem, MS. ( Ketua Yayasan Al Masoem Bandung serta Dosen Prodi Agroteknologi Fak Pertanian Unpad & Dosen Faperta Universitas Masoem)

#Hastag
Berita Lainnya
Copyright © 2019 Masoem University