Mahasiswa Bimbingan dan Konseling akan banyak diajari tentang ilmu psikologi manusia. Ini artinya, mereka nantinya akan diarahkan untuk mengerti bagaimana cara untuk memahami orang lain dan sepanjang perkuliahan, mereka juga akan selalu diasah rasa empatinya. Pada akhirnya mahasiswa program studi ini dapat bergelut dalam berbagai profesi atau bidang pekerjaan seperti menjadi guru BK atau menjadi konselor di berbagai perusahaan, instansi, atau organisasi.
Seperti layaknya mahasiswa lainnya, tentu tantangan selalu ada untuk mahasiswa jurusan Bimbingan dan Konseling ini. Menariknya, seiring dengan perkembangan jaman, tantangan tersebut bisa saja berbeda. Maksudnya, tantangan di jaman dulu tentu akan berbeda dengan tantangan di jaman sekarang ini dimana teknologi berkembang dengan pesat yang banyak orang menamakan era sekarang dengan era millennial. Bagi mahasiswa jurusan Bimbingan dan Konseling yang bercita cita untuk menjadi seorang guru pun harus paham bahwa nantinya murid – murid yang mereka akan hadapi pun berbeda; mereka bisa memiliki karakteristik yang berbeda, kebiasaan yang berbeda pula, dan lain sebagainya.
Oleh karena itu, penting bagi mahasiswa BK sekarang untuk tahu dan juga paham tentang tantangan apa saja yang sekiranya akan muncul nanti di era milenial terutama ketika mereka sudah memutuskan akan menjadi guru BK. Di bawah ini adalah tantangan – tantangan tersebut.
Jumlah murid yang semakin banyak
Dari waktu ke waktu jumlah murid di berbagai sekolah seringkali mengalami peningkatan. Bahkan ada sebuah data yang menunjukkann bahwa beban kerja seorang guru BK atau Bimbingan dan Konseling bertambah paling tidak sekitar 150 peserta didik / tahunnya di satu atau bahkan lebih satuan pendidikan. Ini artinya, guru BK harus bersiap dengan segala permasalahan yang bisa saja terjadi dimana setiap murid yang datang mungkin akan mengalami permasalahan yang berbeda. Bisa jadi dalam satu hari guru BK akan menangani lebih dari 1 masalah yang semoga tidak akan membuatnya menjadi kewalahan. Jumlah murid yang semakin banyak ini juga menunjukkan semakin berat pula tantangan yang akan dihadapi oleh guru BK dan tidak mungkin jumlah kehadiran guru BK di sekolah semakin dibutuhkan.
Meningkatknya Tingkat Kenakalan Siswa di Jaman Milenial
Tak bisa dipungkiri bahwa tingkat kenakalan siswa jaman sekarang sangat berbeda dengan siswa jaman dulu. Selain tingkat kenakalan yang bertambah, jenis kenakalan yang mereka miliki juga lebih beragam yang disebabkan oleh beberapa hal. Misalnya saja permasalahan seperti tawuran, tindakan yang tidak sesuai dengan norma, bolos sekolah karena bermain game online, malas belajar karena sudah kecanduan media social dan masih banyak lagi yang lainnya. Oleh karena itu, mahasiswa jurusan BK sudah sepatutnya mulai peka tentang hal ini dan banyak mencari tahu kenakalan apa sajakah yang sekiranya dilakukan oleh anak jaman sekarang. Dengan begitu, mereka bisa mencari solusi terbaik mulai dari sekarang dan dapat melakukan langkah preventif yang tepat sehingga kenakalan tak hanya bisa diatasi, namun juga bisa dicegah.
Guru BK yang tidak berasal dari lulusan Bimbingan dan Konseling
Tantangan ini sangat erat kaitannya dengan tantangan atau point no 1 yang mengatakan tentang semakin meningkatnya jumlah murid di tanah air. Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyaknya murid terkadang tak diimbangi dengan mencukupinya jumlah guru BK yang ada di Indonesia. AKibatnya, seringkali posisi guru BK diisi oleh mereka atau guru guru yang bukan berasal dari lulusan Bimbingan dan Konseling. Bukan bermaksud merendahkan, namun bisa saja hal tersebut membuat konsultasi menjadi kurang efektif. Oleh karena itu, tantangan ini harus segera diatas, bukan hanya oleh mahasiswa jurusan BK sendiri, melainkan juga oleh seluruh pihak yang terkait seperti pemerintah daerah, pemerintah pusat, dinas pendidikan, dan lain sebagainya.
Konselor yang bertugas untuk ‘Mendidik’
Selama ini banyak siswa yang memiliki anggapan bahwa guru BK layaknya seorang polisi sekolah. Mereka memiliki pandangan bahwa guru BK sangat menakutkan dan siapapun yang dipanggil atau pergi ke ruang BK adalah siswa yang bermasalah. Pandangan ini harus segera diluruskan dan siswa perlu diberitahu bahwa guru BK bukanlah momok yang menakutkan, melainkan seorang guru yang juga mendidik anak – anak agar masalah mereka cepat selesai dan mereka dapat menjadi murid yang lebih baik. Langkah ini bisa dimulai dengan hanya menjadikan lulusan S1 BK sebagai konselor atau guru BK di lingkungan sekolah, bukannya asak menunjuk guru untuk dijadikan guru BK.
Assessment yang harus ditingkatkan
Dengan semakin banyaknya jumlah murid serta semakin variatifnya kenakalan yang bisa saja dilakukan oleh anak – anak, maka ini artinya kompetensi guru BK pun harus ditingkatkan. Guru BK harus dikawal oleh asosiasi atau instansi yang tepat mulai dari bagaimana assessment penyusunan program mereka, bagaimana cara memberikan layanan, dan lain sebagainya. Di lain sisi, perlu juga diadakan berbagai acara seperti seminar, lokakarya, pendidikan, hingga pelatihan bersama untuk guru BK sehingga kualitas mereka akan terus meningkat. Ini artinya, dibutuhkan juga kesadaran dan kemauan dari guru BK itu sendiri untuk terus berusaha meningkatkan kualitas dirinya demi memberikan pelayanan atau konsultasi yang baik bagi murid atau bagi klien.
Tantangan – Tantangan untuk mahasiswa Bimbingan dan Konseling seperti diatas memang terkadang terasa sangat berat dan mungkin tak akan bisa diselesaikan dalam waktu yang singkat. Namun, dengan usaha dan adanya kerjasama yang baik antara seluruh pihak yang berkaitan, maka tantangan ini bisa diatasi.





