Saat bicara soal ketahanan pangan, banyak orang langsung terbayang soal pertanian. Padahal, pengolahan makanan yang aman, tahan lama, dan bergizi juga bagian penting dari sistem pangan nasional. Di sinilah peran mahasiswa jurusan Teknologi Pangan jadi krusial.
Di Ma’soem University, mahasiswa Teknologi Pangan dilatih untuk menjadi inovator dan pelaku perubahan—tidak hanya di industri besar, tapi juga untuk masyarakat umum. Melalui berbagai proyek berbasis lapangan, mahasiswa belajar bagaimana membuat produk pangan yang solutif, murah, dan aplikatif.
Contoh nyata kontribusi mahasiswa Teknologi Pangan dalam mendukung ketahanan pangan:
1. Produk Pangan Lokal yang Tahan Lama
Mahasiswa diajak mengolah bahan pangan lokal agar bisa disimpan lebih lama tanpa pengawet kimia berbahaya. Ini penting untuk daerah terpencil yang akses makanannya terbatas.
2. Edukasi Gizi dan Keamanan Pangan ke Masyarakat
Lewat program pengabdian, mahasiswa mengedukasi masyarakat soal cara menyimpan makanan yang aman dan tetap bergizi.
3. Inovasi Pangan untuk Anak dan Ibu Hamil
Menciptakan makanan tinggi protein, camilan sehat, atau bubur instan berbahan lokal untuk kebutuhan gizi spesifik.
4. Kolaborasi dengan UMKM dan Petani
Mahasiswa mendampingi pelaku usaha lokal untuk meningkatkan kualitas produknya, dari rasa, kemasan, hingga masa simpan.
“Kampus berdampak itu bukan cuma soal IPK tinggi, tapi juga bagaimana ilmu yang kita pelajari bisa langsung membantu masyarakat,” ujar dosen pembimbing Teknologi Pangan Ma’soem University.
Lewat kurikulum yang kuat, pembelajaran lapangan, dan program magang seperti ke Jepang, mahasiswa tidak hanya dilatih jadi tenaga profesional di industri makanan, tapi juga penggerak perubahan di sektor pangan masyarakat.





