Masa ini lazim disebut masa Trotzalter, periode perlawanan atau masa krisis pertama. Dia mulai menemukan bahwa tidak setiap keinginannya dipenuhi orang lain, memperhatikan kepentingannya. Pertentangan antara kemauan diri dan tuntutan lingkungannya, dapat mengakibatkan ketegangan dalam diri anak, sehingga tidak jarang anak meresponnya dengan sikap membandel atau keras kepala. Bagi usia kanak-kanak, sikap membandel ini merupakan suatu kewajaran, karena perkembangan pribadi mereka sedang bergerak dari sikap dependen ke independen.
Aspek-aspek perkembangan kepribadian anak itu meliputi hal-hal berikut:
1. Dependency & Self Image
Konsep anak usia kanak-kanak tentang dirinya sulit dipahami dan dianalisis, karena keterampilan bahasanya belum jelas, dan pandangannya terhadap orang lain masih egosentris.
Perkembangan sikap Independensi dan kepercayaan diri anak amat terkait dengan cara perlakuan orang tuanya. sebagai orang tua, mereka memberikan perlindungan kepada anaknya dari sesuatu yang membahayakan membahayakan, dari kefrustasian. Gaya perlakuan orang tua kepada anak ternyata sangat beragam.
Anak yang biasa dihukum karena pelanggaran biasa dengan tidak memberikan perhatian atau kasih sayang atau perhatian kepadanya, maka anak tersebut cenderung lebih dependen daripada anak yang diikuti keinginannya dengan pengasuhan yang penuh kasih sayang.
Namun apabila perlindungan orang tua terlalu berlebihan, maka anak cenderung kurang bertanggungjawab dan kurang mandiri.
2. Intiative vs Guilt
Erik Erikson mengemukakan suatu teori bahwa pada usia kanak-kanak, anak mengalami satu krisis perkembangan, karena mereka kurang dependen dan mengalami konflik antara intiative (inisiatif) dan guilt (rasa bersalah). Anak berkembang, baik secara fisik maupun kemampuan intelektual serta berkembangnya rasa percaya diri untuk melakukan sesuatu. Mereka menjadi lebih mampu mengontrol lingkungan fisik sebagaimana dia mampu mengontrol tubuhnya. Anak mulai memahami bahwa orang lain memiliki perbedaan dengan dirinya, baik menyangkut persepsi maupun motivasi, dan mereka menyenangi kemampuan dirinya untuk melakukan sesuatu..
Perkembangan ini semua mendorong lahirnya apa yang disebut Erikson dengan initiative (inisiatif). Pada tahap ini, anak sudah siap dan berkeinginan untuk belajar dan bekerja sama dengan orang lain untuk mencapai tujuannya. Yang berbahaya pada tahp ini, adalah tidak tersalurkannya energy yang mendorong anak untuk aktif (dalam rangka memenuhi keinginannya), karena mengalami hambatan atau kegagalan, sehingga anak mengalami guilt (rasa bersalah). Rasa bersalah ini berdampak kurang baik bagi perkembangan kepribadian anak, dia bisa menjadi nakal atau pendiam.





