B09396b3668314ea

Yuk Kenali Beberapa Tools & Teknik Hipnoterapi

Konseling merupakan salah satu kegiatan yang saat ini sangat dibutuhkan terlebih untuk beberapa orang yag mengalami kesulitan dalam menjalani kehidupannya, baik disebabkan oleh sebuah trauma maupun hal-hal lain. Untuk beberapa kasus, seorang konselor memilih Teknik Hipnoterapi saat dibutuhkan. Terkadang sebuah fakta mengenai kondisi orang yang menceritakan masalahnya belum bisa terkuak jika alam bawah sadar mereka belum tergali sehingga dibutuhkan Teknik Hipnosis. Untuk teknik terapi sendiri, biasanya seorang therapist ataupun konselor akan menggunakan submodality intervention, object imagery, gestalt, part therapy, ego state, forgiveness therapy, dan future pace.

1) Regression

Regression (regresi) berarti mundur. Gangguan yang dialami klien tak  lepas dari pengalamannya dari waktu ke waktu. Setiap pengalaman memberi pelajaran pada pikiran bawah sadar,  terlepas apakah pembelajaran tersebut membawa dampak yang baik atau malah sebaliknya. Akumulasi dari pembelajaran tersebut membentuk suatu kondisi yang dinamakan “keadaan saat ini". Regresi di gunakan hipnoterapis untuk 2 hal. Pertama untuk mencari penyebab, sehingga kita bisa menentukan terapi selanjutnya. Kedua untuk dilakukan terapi di waktu awal mula terjadi suatu gangguan, dalam ingatan klien.

2) Ideo Motor Response

 Tools ini digunakan untuk komunikasi hipnoterapi dengan pikiran bawah sadar kalian. Pada beberapa momentum, pikiran bawah sadar klien tidak bisa mengkomunikasikan secara gamblang tentang apa yang terjadi. Ini karena mungkin data untuk bahan komunikasi masih samar untuk diingat atau ada hambatan lain, seperti data merupakan menyangkut privasi, sehingga pikiran bawah sadar tidak leluasa dalam mengkomunikasikannya. Agar hipnoterapis tetap mendapatkan jawaban dari klien, maka ideo motor response bisa digunakan. Biasanya dalam hipnoterapi, menggunakan sedikit gerakan. jari tangan untuk memberikan jawaban "ya" atau "tidak".

3) Submodality Intervention

Sebuah pengalaman memiliki struktur tertentu, dan ketika kita mengubah struktur tersebut maka respon kita terhadap pengalaman yang tersimpan di pikiran kita juga akan berubah. Misalnya saat seseorang takut terhadap ulat karena ia membayangkan bahwa ulat itu adalah hewan yang menjijikan, kotor dan berbahaya. Setelah gambaran ulat diubah, yaitu bentuk ulat tersebut lucu, tersenyum, makan daun dengan tingkah yang imut, lalu perlahan jadi kepompong dan akhirnya menjadi kupu-kupu. Ketika modalitasnya diubah, strukturnya berubah, reaksi juga berubah. Modalitas yang dimaksud adalah visual, auditory, kinesthetic, olfactory, gustatory.

4) Object Imagery

Teknik  ini sebenarnya mirip dengan submodality intervention, yaitu menggunakan cara mengedit modalitas juga. Bedanya adalah, object imagery dengan membayangkan suatu objek dan menganalogikan objek itu dengan perasaan atau emosi kita. Saat objek itu kita edit, maka perasaan kita juga akan berubah. Misalnya dengan membayangkan bola warna merah sebagai analogi perasaan marah kita, lalu secara perlahan warna tersebut memudar hingga menjadi putih, dan emosi marah itupun juga semakin mereda.

5) Gestalt Therapy

Pendekatan gestalt memandang bahwa keseluruhan lebih penting daripada bagian. Saat seseorang mengalami unfinished business, maka ia hanya berfokus pada bagian atau potongan kecil dari keseluruhan rangkaian pengalaman. Misalnya seorang anak dendam terhadap Ibunya karena Ibunya tidak menurutinya sekolah di perguruan tinggi idamannya. Dengan membantu anak dendam yang terhadap ibu ini memahami bahwa ibunya tidak memiliki uang yang cukup untuk membiayai pendidikannya, juga ibunya memiliki maksud yang baik lainnya, bahwa ibunya adalah orang yang membesarkannya dengan penuh kasih sayang selama ini, maka anak ini akan memiliki  pemahaman yang lebih utuh, dari hanya sekedar "ibuku tidak mau membiayai kuliahku". Saat seseorang sudah mendapatkan "keseluruhan" dan tidak hanya "bagian" saja, maka ia akan merasa lebih baik. Bentuk teknik yang digunakan salah satunya dengan kursi kosong atau empty chair.

6) Part Therapy & Ego State Therapy

 Memandang bahwa diri (ego) seseorang juga terdiri dari sub-ego. Konflik diri terjadi ada sub-ego yang memiliki unfinished business, sehingga ia mengambil perannya secara terpisah dari pusat ego. Misalnya seseorang yang secara kompulsif mencuri suatu barang yang remeh temeh atau yang disebut dengan gangguan kleptomania. Contoh lain perilaku gagap saat akan bertemu dengan orang yang lebih berkuasa, padahal dengan orang lain ia tidak gagap. Terapi dilakukan dengan cara dialog dengan ego state yang bermasalah.

7) Forgiveness Therapy

 Teknik ini digunakan untuk kasus-kasus terkait isu konflik dengan orang lain. Memaafkan di nilai sebagai sesuatu yang penting dalam meredakan konflik dengan orang lain serta membuat batin lebih tenang. Tidak memaafkan merupakan sumber dari perasaan negatif, yang ini juga akan berdampak pada perilaku serta pengambilan keputusan. Memaafkan tidak hanya untuk orang lain, namun juga untuk diri sendiri yang pernah berbuat salah di masa lalu. Teknik ini biasanya juga bisa digunakan bersamaan atau menjadi bagian dengan teknik gestalt, part therapy maupun ego state therapy.

8) Future pacing

Teknik ini biasanya digunakan untuk mengawali sebuah terapi maupun diletakan di akhir terapi. Digunakan untuk mengawali agar klien sebelum terapi bisa "merasakan" bagaimana rasanya ketika goalnya tercapai. Bagaimana rasanya ketika gangguannya tidak lagi eksis dan merasakan kehidupan yang lebih baik. Hal ini akan meningkatkan niat (intention) klien untuk sembuh sehingga lebih kooperatif dalam hubungan terapi. Future Pacing juga bisa diletakkan di akhir dengan tujuan agar klien bisa mengkalibrasi efektifitas terapi/simulasi maupun mengunci keyakinan klien tentang perubahan dirinya.

Beberapa Teknik di atas bisa saja dibutuhkan lebih dari 1 teknik untuk beberapa kasus. Hal ini dikarenakan terdapat macam-macam gangguan mental yang sifatnya sangat kompleks. Maka dari itu seorang terapis ataupun konselor yang melakukan Teknik Hipnoterapi harus mampu membuat kliennya nyaman sehingga mereka percaya saat menceritakan permalsahannya secara detail. Namun yang perlu diingat adalah dalam dunia psikologi ataupun konseling, keberhasilan terapi tergantung dari seberapa kuat seorang klien ingin merubah keadannya menjadi lebih baik.