FOOD DETECTIVE #1, Mengapa Cabai Terasa Pedas? Ternyata Pedas Bukanlah Sebuah Rasa!

Oleh : Lenny Amelia HK

Kasus Hari Ini: Misteri Pedasnya Cabai 🌶️

Bayangkan Anda sedang menikmati semangkuk bakso yang hangat. Rasanya belum lengkap tanpa tambahan sambal. Satu sendok… masih biasa saja. Dua sendok… mulai terasa. Tiga sendok… tiba-tiba wajah memerah, keringat bercucuran, hidung mulai berair, dan Anda buru-buru mencari segelas air. Pertanyaannya, apa sebenarnya yang sedang terjadi? Apakah lidah kita sedang “merasakan” pedas Jawabannya ternyata tidak. Dalam ilmu pangan dan fisiologi, pedas bukan termasuk rasa, melainkan sensasi yang diterima oleh sistem saraf.

Lidah Hanya Mengenal Lima Rasa Dasar

Secara umum, lidah manusia mengenali lima rasa utama, yaitu:

  • Manis
  • Asin
  • Asam
  • Pahit
  • Umami (gurih)

Lalu di mana posisi pedas? Tidak ada. Ketika Anda makan cabai, yang bekerja bukan reseptor pengecap, melainkan reseptor saraf yang mendeteksi panas dan iritasi.

Bertemu dengan Tokoh Utama: Capsaicin

Penyebab utama rasa pedas adalah senyawa alami bernama capsaicin. Capsaicin banyak terdapat pada bagian dalam cabai, terutama di jaringan tempat biji menempel. Itulah sebabnya cabai rawit biasanya terasa jauh lebih pedas dibandingkan paprika, karena kandungan capsaicinnya lebih tinggi. Yang menarik, capsaicin sebenarnya tidak meningkatkan suhu makanan. Namun, senyawa ini mampu “mengelabui” sistem saraf sehingga otak mengira mulut sedang terkena panas. Akibatnya, tubuh bereaksi seolah-olah sedang menghadapi suhu tinggi.

Mengapa Kita Berkeringat?

Saat reseptor panas diaktifkan oleh capsaicin, otak mengirimkan berbagai respons, antara lain:

  • Wajah memerah.
  • Tubuh berkeringat.
  • Jantung berdetak lebih cepat.
  • Hidung berair.
  • Mata berair.

Semua ini merupakan mekanisme alami tubuh untuk “mendinginkan” diri, padahal suhu sebenarnya tidak berubah.

Kenapa Minum Air Putih Tidak Banyak Membantu?

Ini adalah kesalahan yang sering dilakukan. Capsaicin tidak larut dalam air, sehingga minum air putih hanya memindahkan senyawa tersebut ke bagian lain di dalam mulut. Sebaliknya, capsaicin mudah larut dalam lemak. Karena itu, susu, yoghurt, atau es krim sering kali lebih efektif meredakan sensasi pedas. Protein dalam susu, terutama kasein, membantu melepaskan capsaicin dari reseptor di rongga mulut sehingga rasa pedas berkurang.

Mengapa Ada Orang Sangat Suka Pedas?

Pernah bertanya mengapa teman Anda bisa makan mi dengan sepuluh cabai, sementara Anda sudah menyerah pada cabai kedua? Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti:

  • Kebiasaan mengonsumsi makanan pedas.
  • Sensitivitas reseptor saraf.
  • Faktor genetik.
  • Adaptasi tubuh terhadap capsaicin.

Semakin sering seseorang mengonsumsi makanan pedas, tubuh dapat menjadi lebih terbiasa sehingga sensasi pedas terasa lebih ringan.

Cabai Tidak Hanya Memberi Sensasi Pedas

Selain capsaicin, cabai juga mengandung berbagai zat gizi, seperti:

  • Vitamin C.
  • Vitamin A.
  • Antioksidan.
  • Serat pangan.

Dalam jumlah yang sesuai, cabai dapat menjadi bagian dari pola makan yang beragam dan seimbang.

Apa Hubungannya dengan Teknologi Pangan?

Bagi seorang teknolog pangan, tingkat kepedasan bukan sekadar soal selera. Dalam industri makanan, kepedasan harus dibuat konsisten. Misalnya, setiap botol saus sambal atau setiap bungkus mi pedas harus memiliki tingkat kepedasan yang sama agar konsumen mendapatkan pengalaman yang konsisten setiap kali membeli produk. Untuk itu, dilakukan pengujian bahan baku, formulasi, hingga evaluasi sensori.