“Kenapa langit berwarna biru?”
“Kenapa harus tidur?”
“Kenapa Ayah pergi kerja?”
Pertanyaan seperti itu mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi orang tua, situasinya bisa menjadi melelahkan ketika anak terus mengulang pertanyaan yang sama, bahkan setelah mendapatkan jawaban.
Kebiasaan anak kecil mengulang pertanyaan sebenarnya merupakan bagian dari proses tumbuh kembang. Anak sedang belajar memahami lingkungan, mengembangkan kemampuan berbahasa, menguji respons orang lain, sekaligus mencari rasa aman. Jadi, pengulangan pertanyaan tidak selalu berarti anak belum mendengar atau sengaja membuat orang tua kesal.
Anak Sedang Mengembangkan Kemampuan Berpikir
Pada usia dini, kemampuan berpikir anak masih berkembang secara bertahap. Mereka belum memiliki pengetahuan dan pengalaman sebanyak orang dewasa sehingga informasi baru perlu diproses berulang kali.
Ketika anak bertanya, “Besok kita pergi ke rumah Nenek?”, lalu kembali menanyakannya beberapa menit kemudian, ia mungkin sedang memastikan informasi tersebut benar-benar dipahami.
Pengulangan juga membantu anak menghubungkan informasi baru dengan pengalaman yang sudah dimiliki. Karena itu, pertanyaan yang sama dapat muncul berkali-kali sampai anak merasa cukup memahami jawabannya.
Mengulang Pertanyaan Membantu Anak Belajar Bahasa
Bahasa tidak dikuasai dalam satu kali percakapan. Anak membutuhkan banyak kesempatan untuk mendengar, meniru, dan menggunakan kata atau kalimat yang sama.
Pertanyaan yang berulang bisa menjadi latihan komunikasi. Anak belajar bagaimana menyusun kalimat, menggunakan kata tanya seperti “apa”, “kenapa”, “kapan”, dan “di mana”, serta memahami pola percakapan.
Misalnya, setelah mendengar orang dewasa menjawab pertanyaan “Kenapa hujan?”, anak mungkin mengulangi pertanyaan tersebut karena tertarik pada struktur kalimatnya. Ia tidak selalu hanya mencari informasi baru.
Orang tua dapat memanfaatkan momen ini untuk memperkaya kosakata anak. Jawaban tidak harus panjang. Gunakan kalimat sederhana yang sesuai usia agar mudah dipahami.
Anak Bisa Sedang Mencari Kepastian
Pengulangan pertanyaan juga dapat berkaitan dengan kebutuhan anak terhadap kepastian. Anak kecil sering merasa lebih tenang ketika mengetahui apa yang akan terjadi.
Contohnya, anak bertanya:
“Besok sekolah?”
Ketika dijawab “Iya”, beberapa saat kemudian ia bertanya lagi. Pengulangan tersebut bisa menjadi cara anak memastikan rutinitas yang akan dijalaninya tetap sama.
Situasi seperti ini sering muncul ketika ada perubahan jadwal, lingkungan baru, atau kegiatan yang belum familiar. Respons orang tua yang tenang dapat membantu anak merasa lebih aman.
Pertanyaan yang Sama Bisa Menjadi Cara Mencari Perhatian
Ada kalanya anak sebenarnya sudah mengetahui jawabannya, tetapi tetap mengulang pertanyaan karena ingin mendapatkan perhatian dari orang tua.
Perhatikan situasinya. Jika anak hanya mengulang pertanyaan ketika orang tua sedang sibuk menggunakan ponsel, bekerja, atau berbicara dengan orang lain, kemungkinan ada kebutuhan untuk berinteraksi.
Dalam kondisi tersebut, orang tua tidak harus selalu memberikan penjelasan panjang. Berikan perhatian secukupnya, lalu arahkan percakapan ke aktivitas lain.
Contohnya, setelah menjawab pertanyaan, orang tua bisa mengatakan, “Kamu sudah tahu jawabannya. Sekarang mau bantu Ibu menyusun mainan?”
Anak Sedang Menguji Respons Orang Dewasa
Anak juga belajar melalui respons orang di sekitarnya. Mereka bisa mengulang pertanyaan untuk melihat apakah jawaban orang tua tetap sama atau apakah reaksi yang muncul berbeda.
Hal ini merupakan bagian dari proses belajar mengenai hubungan sosial. Anak mulai memahami bahwa ucapan tertentu dapat menimbulkan respons tertentu dari orang lain.
Karena itu, reaksi berlebihan seperti marah atau membentak justru dapat membuat situasi semakin sulit. Anak mungkin semakin tertarik mengulangi pertanyaan karena melihat respons tersebut.
Respons konsisten dan singkat biasanya lebih membantu.
Bagaimana Cara Menghadapi Anak yang Suka Bertanya Berulang?
Orang tua tidak perlu langsung menghentikan kebiasaan tersebut. Justru, pertanyaan anak dapat menjadi kesempatan untuk melatih komunikasi dan kemampuan berpikir.
Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain:
- Jawab secara sederhana dan konsisten. Sesuaikan penjelasan dengan usia dan kemampuan memahami anak.
- Tanyakan kembali maksud anak. Misalnya, “Kamu ingin memastikan kita jadi pergi besok?”
- Berikan kesempatan anak berpikir. Jika pertanyaannya sudah pernah dijawab, tanyakan, “Menurut kamu, jawabannya apa?”
- Gunakan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Anak lebih mudah memahami konsep melalui pengalaman konkret.
- Tetap tenang ketika pertanyaan diulang. Hindari mempermalukan anak karena rasa ingin tahunya.
- Alihkan ke aktivitas yang mendukung belajar. Membaca buku cerita, bermain peran, menggambar, atau mengamati lingkungan dapat menjadi sarana komunikasi yang menarik.
Kapan Orang Tua Perlu Lebih Memperhatikan?
Kebiasaan mengulang pertanyaan pada anak umumnya merupakan bagian dari perkembangan. Namun, orang tua tetap dapat memperhatikan pola komunikasi anak secara keseluruhan.
Hal yang perlu diamati bukan hanya seberapa sering anak mengulang pertanyaan, tetapi juga bagaimana kemampuan komunikasinya dalam situasi lain. Apakah anak dapat memahami jawaban, mengikuti percakapan, menyampaikan kebutuhan, dan berinteraksi sesuai tahap perkembangannya?
Jika orang tua memiliki kekhawatiran mengenai perkembangan komunikasi atau perilaku anak, konsultasi kepada tenaga profesional yang kompeten dapat menjadi pilihan. Pengamatan menyeluruh lebih berguna daripada menilai satu kebiasaan secara terpisah.
Pentingnya Peran Pendidik dalam Memahami Perilaku Anak
Pemahaman mengenai perkembangan anak tidak hanya dibutuhkan orang tua. Guru, konselor, dan tenaga pendidikan juga perlu memahami alasan di balik perilaku anak agar dapat memberikan respons yang tepat.
Pengetahuan mengenai perkembangan peserta didik menjadi salah satu bagian penting dalam bidang pendidikan dan bimbingan konseling. Calon pendidik yang mempelajari perkembangan anak akan lebih siap mengenali kebutuhan belajar, komunikasi, serta kondisi sosial-emosional peserta didik.
Salah satu kampus swasta yang memiliki bidang pendidikan tersebut adalah Ma’soem University. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Ma’soem University saat ini memiliki dua program studi, yaitu Bimbingan dan Konseling (BK) serta Pendidikan Bahasa Inggris.
Program Studi Bimbingan dan Konseling relevan bagi mahasiswa yang ingin memahami perkembangan individu dan mendukung peserta didik dalam lingkungan pendidikan. Sementara itu, Pendidikan Bahasa Inggris mempersiapkan mahasiswa pada kompetensi pendidikan dan pengajaran bahasa Inggris.
Pembelajaran di bidang tersebut dapat menjadi bekal bagi calon tenaga pendidikan untuk memahami bahwa perilaku anak, termasuk kebiasaan bertanya berulang kali, perlu dilihat berdasarkan tahap perkembangan dan konteksnya. Pendekatan seperti ini membantu pendidik memberikan respons yang lebih sabar, terarah, dan sesuai kebutuhan anak.
Kontak Ma’soem University
Bagi yang ingin memperoleh informasi lebih lanjut mengenai Ma’soem University, informasi kontak yang dapat digunakan adalah:
- No. WhatsApp: 085185634253
- Instagram: @masoem_university
- Web Pendaftaran: pmb.masoemuniversity.com




