Internet menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan anak-anak saat ini. Melalui YouTube, TikTok, gim online, media sosial, hingga berbagai platform hiburan, anak dapat menemukan banyak kosakata dan gaya komunikasi baru. Tidak jarang, mereka kemudian meniru bahasa yang sering didengar atau dibaca di internet.
Kebiasaan meniru bahasa dari internet sebenarnya merupakan bagian dari proses belajar anak. Namun, orang tua tetap perlu memberikan pendampingan agar anak dapat membedakan bahasa yang sesuai untuk digunakan dalam situasi tertentu dan bahasa yang sebaiknya tidak ditiru.
Mengapa Anak Suka Meniru Bahasa dari Internet?
Anak belajar banyak hal melalui proses mengamati dan meniru. Ketika sebuah kata atau ungkapan muncul berulang kali dalam konten yang mereka tonton, kemungkinan anak menggunakannya dalam percakapan sehari-hari menjadi lebih besar.
Bahasa dari internet juga sering terasa lebih menarik karena muncul dalam konteks hiburan. Istilah baru, singkatan, bahasa gaul, atau ungkapan yang digunakan kreator favorit dapat dianggap sebagai sesuatu yang keren dan menyenangkan.
Beberapa faktor yang membuat anak mudah meniru bahasa dari internet antara lain:
- Frekuensi mendengar atau membaca kata tertentu cukup tinggi.
- Anak menganggap kreator atau tokoh di internet sebagai panutan.
- Bahasa tersebut digunakan oleh teman-teman seusianya.
- Anak ingin merasa diterima dalam lingkungan pergaulannya.
- Penggunaan istilah tertentu membuat komunikasi terasa lebih santai dan menarik.
Karena itu, orang tua tidak perlu langsung menganggap setiap penggunaan bahasa internet sebagai perilaku buruk. Hal yang lebih penting adalah memahami apa yang ditiru, dari mana asalnya, dan bagaimana anak menggunakannya.
Tidak Semua Bahasa Internet Perlu Dilarang
Respons orang tua yang terlalu keras justru dapat membuat anak enggan bercerita mengenai apa yang mereka lihat di internet. Padahal, keterbukaan sangat dibutuhkan agar orang tua dapat mengetahui jenis konten yang dikonsumsi anak.
Bahasa gaul atau istilah populer tidak selalu memiliki dampak negatif. Beberapa istilah bahkan dapat menjadi bagian dari perkembangan bahasa dan budaya komunikasi anak muda.
Masalah muncul ketika anak mulai meniru kata-kata kasar, hinaan, ujaran yang merendahkan orang lain, atau bahasa yang tidak sesuai usia. Penggunaan bahasa tersebut perlu diarahkan, terutama jika mulai terbawa ke lingkungan sekolah, keluarga, atau situasi formal.
Cara Orang Tua Menyikapi Anak yang Sering Meniru Bahasa dari Internet
1. Tanyakan arti kata yang digunakan
Ketika anak mengucapkan istilah yang tidak biasa, orang tua dapat bertanya secara santai, “Itu artinya apa?” atau “Kamu dengar kata itu dari mana?”
Pertanyaan sederhana dapat membuka percakapan tanpa membuat anak merasa sedang dihakimi. Orang tua juga bisa mengetahui apakah anak benar-benar memahami arti kata tersebut atau sekadar menirunya.
2. Jelaskan konteks penggunaan bahasa
Anak perlu memahami bahwa satu kata dapat memiliki dampak berbeda tergantung situasi dan lawan bicara. Bahasa yang dianggap lucu ketika berbicara bersama teman belum tentu pantas digunakan kepada guru, orang yang lebih tua, atau dalam lingkungan resmi.
Ajarkan anak mengenali perbedaan antara bahasa santai dan bahasa formal. Kemampuan tersebut penting agar anak tidak hanya menghafal kosakata, tetapi juga memahami kapan sebuah ungkapan layak digunakan.
3. Hindari langsung memarahi anak
Teguran keras dapat membuat anak merasa malu, terutama jika dilakukan di depan orang lain. Alih-alih mengatakan bahwa anak “tidak sopan” atau “berbahasa buruk”, orang tua dapat menjelaskan dampak dari kata yang digunakan.
Misalnya, jika anak menggunakan kata yang menghina orang lain, jelaskan bahwa ucapan tersebut dapat membuat orang lain merasa tersinggung. Pendekatan seperti ini membantu anak memahami alasan di balik aturan, bukan sekadar takut mendapat hukuman.
4. Dampingi anak saat menggunakan internet
Pendampingan tidak selalu berarti orang tua harus berada di samping anak setiap kali mereka menggunakan gawai. Orang tua dapat mengetahui platform yang digunakan, jenis konten yang disukai, serta tokoh atau kreator yang sering ditonton.
Sesekali, orang tua juga dapat menonton konten bersama anak. Cara ini membantu membangun komunikasi sekaligus memberikan kesempatan untuk mendiskusikan bahasa, perilaku, dan nilai yang muncul dalam konten tersebut.
5. Jadilah contoh dalam berkomunikasi
Anak tidak hanya belajar dari internet. Mereka juga mengamati cara orang tua berbicara setiap hari.
Jika orang tua terbiasa menggunakan bahasa yang sopan, menghargai lawan bicara, dan mampu mengendalikan ucapan ketika marah, anak memperoleh contoh nyata mengenai komunikasi yang sehat.
Keteladanan menjadi penting karena nasihat akan lebih mudah diterima ketika sesuai dengan perilaku yang anak lihat di rumah.
Ajarkan Anak Berpikir Sebelum Meniru
Kemampuan menyaring informasi menjadi keterampilan penting di era digital. Anak tidak harus dijauhkan dari semua istilah yang berasal dari internet, tetapi perlu dibiasakan untuk berpikir sebelum menirunya.
Orang tua dapat mengajarkan beberapa pertanyaan sederhana:
- Apa arti kata tersebut?
- Apakah kata itu bisa menyakiti orang lain?
- Siapa yang pantas menggunakan atau menerima ucapan tersebut?
- Apakah kata itu sesuai digunakan di sekolah atau lingkungan keluarga?
- Apa dampaknya jika kata tersebut digunakan kepada orang lain?
Kebiasaan sederhana ini dapat membantu anak membangun kemampuan berpikir kritis terhadap bahasa yang mereka temukan di dunia digital.
Peran Pendidikan dalam Membentuk Kemampuan Komunikasi Anak
Kemampuan berbahasa tidak hanya berkaitan dengan penguasaan kosakata, tetapi juga kemampuan memahami konteks, berkomunikasi secara efektif, dan menghargai orang lain. Lingkungan pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk kemampuan tersebut.
Pembahasan mengenai perkembangan bahasa, perilaku, dan pendampingan peserta didik juga berkaitan erat dengan bidang pendidikan dan bimbingan konseling. Karena itu, kebutuhan terhadap tenaga pendidik dan konselor yang memahami perkembangan anak tetap relevan di tengah perubahan lingkungan digital.
Salah satu perguruan tinggi swasta yang memiliki bidang pendidikan adalah Ma’soem University. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Ma’soem University saat ini memiliki dua program studi, yaitu S1 Bimbingan dan Konseling (BK) serta S1 Pendidikan Bahasa Inggris.
Program Bimbingan dan Konseling memiliki relevansi terhadap pendampingan peserta didik dalam aspek pribadi, sosial, akademik, dan pengembangan diri. Sementara itu, Pendidikan Bahasa Inggris berfokus pada kompetensi bahasa sekaligus kemampuan pedagogis untuk menjadi pendidik.
Lingkungan akademik seperti ini dapat menjadi pilihan bagi calon mahasiswa yang tertarik pada dunia pendidikan, komunikasi, perkembangan peserta didik, maupun pendampingan di tengah tantangan era digital.
Kapan Orang Tua Perlu Lebih Waspada?
Meniru bahasa dari internet perlu mendapatkan perhatian lebih apabila penggunaannya mulai berdampak pada perilaku anak atau hubungan sosialnya. Misalnya, anak semakin sering menghina teman, menggunakan kata kasar kepada anggota keluarga, mengikuti ujaran yang merendahkan kelompok tertentu, atau menunjukkan perubahan perilaku setelah mengakses konten tertentu.
Orang tua dapat mencari tahu sumber konten yang ditonton dan mengajak anak berdiskusi mengenai alasan mereka menyukai konten tersebut. Jika diperlukan, aturan penggunaan gawai juga dapat disusun secara jelas, termasuk batas waktu dan jenis konten yang boleh diakses.
Pendekatan yang konsisten membantu anak memahami bahwa kebebasan menggunakan internet tetap perlu disertai tanggung jawab dalam berkomunikasi.
Kontak Ma’soem University
Bagi calon mahasiswa yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai program studi di Ma’soem University, khususnya FKIP, informasi dapat diperoleh melalui kontak berikut:
No. WhatsApp: 085185634253
Instagram: @masoem_university
Web Pendaftaran: pmb.masoemuniversity.com




