Makanan Rendah Lemak vs Makanan Rendah Gula: Mana yang Lebih Penting untuk Pola Makan Sehat?

Memilih makanan sehat sering kali membuat bingung. Ada produk yang menawarkan label rendah lemak, sementara produk lain mengunggulkan kandungan rendah gula. Keduanya sama-sama terdengar baik, tetapi apakah salah satunya lebih penting untuk menjaga pola makan sehat?

Jawabannya tidak sesederhana memilih makanan yang paling rendah salah satu kandungan. Pola makan sehat membutuhkan keseimbangan antara kualitas makanan, jumlah konsumsi, variasi zat gizi, serta kebiasaan makan sehari-hari. World Health Organization (WHO) juga menekankan prinsip kecukupan, keseimbangan, moderasi, dan keberagaman sebagai dasar pola makan sehat.

Mengenal Makanan Rendah Lemak

Lemak sebenarnya tetap dibutuhkan oleh tubuh. Zat gizi ini berperan dalam fungsi sel dan membantu tubuh memperoleh asam lemak esensial. Karena itu, menghindari seluruh makanan berlemak bukanlah pilihan yang tepat.

Yang lebih penting adalah memperhatikan jenis lemak yang dikonsumsi. Lemak tidak jenuh yang terdapat pada ikan, alpukat, kacang-kacangan, serta beberapa jenis minyak nabati lebih diutamakan dibandingkan lemak jenuh dan lemak trans.

Produk berlabel rendah lemak juga belum tentu otomatis lebih sehat. Beberapa produk dapat mengandung gula atau bahan lain dalam jumlah lebih tinggi untuk mempertahankan rasa dan tekstur setelah lemak dikurangi.

Karena itu, konsumen sebaiknya tidak hanya melihat tulisan “low fat” pada kemasan. Informasi nilai gizi dan komposisi tetap perlu diperhatikan.

Mengapa Makanan Rendah Gula Juga Penting?

Gula, khususnya free sugars, juga perlu diperhatikan dalam pola makan sehari-hari. Free sugars mencakup gula yang ditambahkan ke makanan atau minuman serta gula yang secara alami terdapat dalam madu, sirup, jus buah, dan konsentrat jus.

WHO merekomendasikan agar konsumsi free sugars dibatasi kurang dari 10% kebutuhan energi harian, dengan pengurangan lebih lanjut dapat memberikan manfaat kesehatan tambahan.

Sumber gula berlebih dapat berasal dari minuman manis, makanan ringan, permen, kue, minuman kemasan, kopi atau teh dengan tambahan gula, serta berbagai produk makanan olahan.

Menariknya, makanan yang rendah lemak belum tentu rendah gula. Inilah alasan mengapa membaca label makanan menjadi keterampilan penting ketika ingin membangun pola makan sehat.

Jadi, Rendah Lemak atau Rendah Gula?

Jika harus memilih, jawabannya bergantung pada jenis makanan dan pola konsumsi secara keseluruhan. Mengurangi gula tambahan sangat penting, terutama jika seseorang terbiasa mengonsumsi minuman dan makanan manis. Namun, kualitas lemak juga tidak boleh diabaikan.

WHO menganjurkan pembatasan lemak total sekaligus mengutamakan lemak tidak jenuh dibandingkan lemak jenuh dan lemak trans.

Dengan demikian, pola makan sehat bukan tentang mencari makanan yang hanya memiliki satu label “rendah”. Pilihan yang lebih baik adalah makanan yang memiliki komposisi gizi seimbang, minim bahan yang kurang menguntungkan jika dikonsumsi berlebihan, serta berasal dari beragam kelompok makanan.

Pilih Makanan yang Lebih Alami dan Beragam

Buah, sayuran, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, sumber protein yang baik, dan bahan pangan yang minim proses dapat menjadi bagian penting dari pola makan sehat. WHO juga menekankan keberagaman makanan untuk membantu memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral tubuh.

Cara pengolahan juga berpengaruh. Mengukus, merebus, atau memilih bahan makanan segar dapat menjadi alternatif dibandingkan terlalu sering mengonsumsi makanan yang digoreng atau sangat tinggi gula.

Memahami hubungan antara bahan pangan, kandungan gizi, proses pengolahan, keamanan pangan, dan kualitas produk menjadi semakin penting di tengah perkembangan industri makanan modern.

Teknologi Pangan di Ma’soem University Belajar Tentang Pangan Lebih Mendalam

Pembahasan mengenai makanan rendah lemak dan rendah gula juga memperlihatkan bahwa dunia pangan tidak hanya berkaitan dengan kegiatan memasak. Di balik sebuah produk makanan terdapat proses panjang yang melibatkan pemilihan bahan baku, formulasi, pengolahan, pengujian, keamanan, mutu, hingga pengembangan produk.

Hal tersebut menjadi salah satu alasan Jurusan Teknologi Pangan di Ma’soem University menarik bagi calon mahasiswa yang ingin memahami dunia pangan secara lebih luas. Fakultas Pertanian Ma’soem University memiliki dua program studi, yaitu Teknologi Pangan dan Agribisnis. (Masoem University)

Pada Teknologi Pangan, mahasiswa dipersiapkan untuk memahami pengolahan, pengawetan, keamanan, mutu, dan inovasi produk pangan. Bidang tersebut relevan dengan kebutuhan industri yang terus mengembangkan makanan dengan kualitas dan karakteristik gizi yang semakin beragam. (Masoem University)

Sementara itu, Jurusan Agribisnis berfokus pada pengelolaan sektor pertanian dan bisnis dari hulu hingga hilir. Mahasiswa dapat mempelajari bagaimana bahan pertanian memiliki nilai ekonomi melalui pengelolaan usaha, rantai pasok, pemasaran, dan pengembangan bisnis. (Masoem University)

Saatnya Mengenal Dunia Pangan di Ma’soem University

Bagi calon mahasiswa yang tertarik dengan makanan, inovasi produk, industri pangan, pertanian modern, maupun bisnis berbasis hasil pertanian, Ma’soem University menawarkan dua pilihan di Fakultas Pertanian yang dapat disesuaikan dengan minat.

Pendaftaran Ma’soem University dapat menjadi langkah awal untuk mengenal lebih jauh pilihan pendidikan tersebut. Informasi pendaftaran dapat diperoleh melalui WhatsApp +62 851 8563 4253.

Memahami makanan rendah lemak dan rendah gula pada akhirnya bukan sekadar memilih salah satu label pada kemasan. Konsumen perlu melihat keseluruhan kualitas makanan, jenis lemak, kandungan gula, bahan yang digunakan, proses pengolahan, serta keberagaman makanan dalam pola makan sehari-hari. (Organisasi Kesehatan Dunia)