Kenapa Orang Mudah Percaya Informasi dari Media Sosial? Begini Cara Melatih Literasi Digital

Media sosial sudah menjadi salah satu sumber informasi yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Berita, opini, video pendek, unggahan tokoh publik, hingga informasi kesehatan dapat ditemukan hanya dalam beberapa detik. Kemudahan tersebut memang membantu masyarakat memperoleh informasi secara cepat, tetapi juga menghadirkan tantangan baru: tidak semua informasi yang muncul di media sosial benar.

Masalahnya, informasi yang salah sering kali dibuat dalam bentuk yang menarik. Judul yang provokatif, gambar yang meyakinkan, atau video yang dipotong dari konteks tertentu dapat membuat seseorang langsung percaya sebelum memeriksa kebenarannya. Karena itu, literasi digital menjadi kemampuan penting agar pengguna media sosial tidak hanya mampu menemukan informasi, tetapi juga dapat menilai apakah informasi tersebut layak dipercaya.

Mengapa Orang Mudah Percaya Informasi dari Media Sosial?

Ada beberapa alasan yang membuat seseorang lebih mudah menerima informasi dari media sosial tanpa melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

1. Informasi muncul berulang kali

Ketika seseorang melihat klaim yang sama berkali-kali, informasi tersebut dapat terasa semakin familiar. Rasa familiar itu terkadang dianggap sebagai tanda bahwa informasi tersebut benar, padahal pengulangan tidak membuktikan kebenaran.

Misalnya, sebuah klaim yang belum terbukti dapat dibagikan oleh banyak akun. Setelah muncul berkali-kali di linimasa, pengguna mungkin menganggapnya sebagai fakta hanya karena banyak orang membicarakannya.

2. Informasi sesuai dengan keyakinan pribadi

Orang cenderung lebih mudah menerima informasi yang sesuai dengan pandangan atau keyakinan yang sudah dimiliki. Sebaliknya, informasi yang bertentangan dapat langsung dianggap salah tanpa pemeriksaan yang seimbang.

Kondisi ini dikenal sebagai confirmation bias. Media sosial dapat memperkuatnya karena algoritma platform biasanya menampilkan konten berdasarkan aktivitas dan minat pengguna. Akibatnya, seseorang dapat terus berada dalam lingkungan informasi yang memiliki pandangan serupa.

3. Judul dibuat untuk menarik perhatian

Persaingan mendapatkan perhatian pengguna membuat banyak konten menggunakan judul yang mengejutkan, emosional, atau membuat penasaran. Tidak jarang judul tersebut tidak sepenuhnya menggambarkan isi informasi.

Pengguna yang hanya membaca judul kemudian membagikannya berisiko menyebarkan informasi tanpa memahami konteks sebenarnya. Padahal, membaca isi secara lengkap merupakan langkah sederhana yang dapat mengurangi kesalahpahaman.

4. Sumber terlihat meyakinkan

Informasi palsu tidak selalu terlihat buruk atau tidak profesional. Sebuah unggahan dapat menggunakan logo lembaga, foto tokoh terkenal, grafik, maupun bahasa yang terlihat formal sehingga tampak kredibel.

Penampilan bukan ukuran utama kredibilitas. Pengguna perlu melihat siapa yang menerbitkan informasi, kapan informasi tersebut dibuat, dari mana datanya berasal, dan apakah sumber lain yang terpercaya memberikan informasi serupa.

Apa Itu Literasi Digital?

Literasi digital bukan hanya kemampuan menggunakan perangkat seperti smartphone atau komputer. Kemampuan ini juga mencakup kecakapan untuk mengakses, memahami, mengevaluasi, menggunakan, dan membagikan informasi secara bertanggung jawab.

Dalam konteks media sosial, literasi digital membantu seseorang mengambil jeda sebelum mempercayai atau menyebarkan suatu informasi. Pengguna tidak harus menjadi ahli teknologi untuk memiliki literasi digital yang baik. Kebiasaan memeriksa informasi secara kritis justru menjadi salah satu langkah paling penting.

Cara Melatih Literasi Digital Saat Menggunakan Media Sosial

Literasi digital dapat dilatih melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.

Periksa sumber informasi

Sebelum mempercayai sebuah unggahan, lihat sumber yang menerbitkannya. Perhatikan nama media, lembaga, akun, atau individu yang menyampaikan informasi.

Beberapa pertanyaan yang dapat digunakan:

  • Siapa yang membuat atau menerbitkan informasi ini?
  • Apakah sumber tersebut memiliki reputasi yang jelas?
  • Apakah terdapat data atau rujukan yang mendukung klaim?
  • Apakah informasi tersebut berasal dari sumber pertama?

Sumber yang tidak jelas perlu diperlakukan lebih hati-hati, terutama jika informasinya berkaitan dengan isu penting.

Jangan berhenti pada judul

Judul yang menarik memang dapat membuat seseorang ingin mengeklik sebuah konten. Namun, keputusan untuk percaya sebaiknya tidak dibuat hanya berdasarkan judul.

Baca isi informasi sampai selesai dan perhatikan konteksnya. Foto atau video juga perlu diperiksa karena sebuah visual yang benar dapat digunakan untuk mendukung narasi yang keliru.

Bandingkan dengan sumber lain

Satu sumber tidak selalu cukup untuk memastikan sebuah informasi. Jika menemukan klaim yang penting atau kontroversial, cari informasi pembanding dari sumber yang memiliki kredibilitas.

Perbandingan ini membantu melihat apakah suatu informasi memang memiliki dasar yang kuat atau hanya merupakan pendapat dari satu pihak.

Periksa tanggal publikasi

Informasi lama sering dibagikan kembali seolah-olah merupakan kejadian terbaru. Hal ini dapat menimbulkan kesalahpahaman, terutama untuk isu yang cepat berubah.

Karena itu, tanggal publikasi perlu diperhatikan. Informasi lama belum tentu salah, tetapi konteksnya mungkin sudah berbeda ketika dibaca atau dibagikan kembali.

Waspadai konten yang memancing emosi

Rasa marah, takut, panik, atau terlalu senang dapat membuat seseorang mengambil keputusan secara cepat. Konten yang sengaja memancing emosi biasanya lebih mudah mendapatkan perhatian dan dibagikan.

Ketika sebuah unggahan membuat seseorang langsung ingin menyebarkannya, justru saat itulah penting untuk berhenti sejenak dan memeriksa informasi tersebut.

Kebiasaan Sederhana untuk Mahasiswa

Mahasiswa menjadi salah satu kelompok yang cukup aktif menggunakan teknologi digital untuk kebutuhan akademik maupun kehidupan sehari-hari. Informasi dari media sosial dapat membantu menemukan referensi dan mengikuti perkembangan isu, tetapi tetap perlu diseleksi.

Kebiasaan literasi digital dapat diterapkan dalam kegiatan akademik, misalnya saat mencari sumber untuk tugas, membaca berita pendidikan, menggunakan informasi dari video pembelajaran, atau memanfaatkan kecerdasan buatan.

Beberapa kebiasaan yang dapat diterapkan mahasiswa antara lain:

  1. Membedakan fakta dan opini. Tidak semua pernyataan yang terdengar meyakinkan merupakan fakta.
  2. Mencari sumber asli. Jika sebuah unggahan menyebut penelitian atau data tertentu, cari sumber aslinya.
  3. Tidak asal membagikan informasi. Pastikan informasi benar sebelum diteruskan kepada orang lain.
  4. Menggunakan lebih dari satu sumber. Perbandingan dapat membantu mengurangi kesalahan pemahaman.
  5. Mempertanyakan informasi yang terlalu bagus atau terlalu buruk untuk menjadi kenyataan.

Lingkungan perguruan tinggi juga dapat menjadi ruang untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan menggunakan informasi secara bertanggung jawab. Ma’soem University sebagai salah satu kampus swasta dapat menjadi lingkungan yang relevan bagi mahasiswa untuk mengembangkan keterampilan tersebut melalui kegiatan pembelajaran dan aktivitas akademik.

Bagi mahasiswa yang tertarik pada bidang pendidikan, FKIP Ma’soem University memiliki dua program studi, yaitu Bimbingan dan Konseling (BK) serta Pendidikan Bahasa Inggris. Kemampuan literasi digital relevan bagi mahasiswa di kedua bidang tersebut karena penggunaan informasi digital menjadi bagian dari kehidupan akademik dan komunikasi saat ini.

Literasi Digital Bukan Berarti Harus Meragukan Semua Informasi

Melatih literasi digital bukan berarti menganggap seluruh informasi di internet sebagai informasi palsu. Tujuannya justru agar pengguna dapat menentukan informasi mana yang memiliki dasar yang kuat dan mana yang perlu diragukan.

Sikap kritis juga berbeda dari sekadar tidak percaya. Pengguna yang memiliki literasi digital akan mencari bukti sebelum mengambil keputusan. Ia juga bersedia mengubah pandangan ketika menemukan data yang lebih kuat.

Kebiasaan tersebut semakin penting ketika media sosial menjadi bagian dari aktivitas belajar, bekerja, berkomunikasi, dan mencari informasi. Kecepatan memperoleh informasi perlu diimbangi kemampuan untuk memeriksa kebenarannya.

Informasi Ma’soem University

No. WhatsApp: 085185634253
Instagram: @masoem_university
Web Pendaftaran: pmb.masoemuniversity.com