Anak Tidak Mau Membaca Buku? Jangan Langsung Menyebutnya Malas, Ini Kemungkinannya

Anak yang tidak tertarik membaca buku sering kali langsung mendapat label “malas membaca”. Padahal, kebiasaan tersebut tidak selalu menunjukkan kemalasan. Ada berbagai alasan yang membuat anak enggan membuka buku, mulai dari jenis bacaan yang kurang sesuai, kesulitan memahami teks, sampai pengalaman membaca yang terasa membosankan.

Memahami penyebabnya menjadi langkah penting sebelum orang tua atau guru menentukan cara untuk membantu. Alih-alih memaksa anak membaca lebih banyak, orang dewasa dapat mencari tahu terlebih dahulu apa yang membuat kegiatan membaca terasa tidak menyenangkan bagi mereka.

Anak Belum Menemukan Bacaan yang Disukai

Tidak semua anak memiliki ketertarikan pada jenis buku yang sama. Ada yang menyukai cerita petualangan, komik, cerita bergambar, buku pengetahuan, atau bacaan yang berkaitan dengan hewan dan lingkungan. Ketika anak terus diberikan buku yang tidak sesuai minatnya, membaca dapat terasa seperti kewajiban.

Orang tua dapat memberikan beberapa pilihan bacaan dan membiarkan anak menentukan sendiri. Pilihan sederhana seperti “Mau baca cerita tentang dinosaurus atau luar angkasa?” dapat membuat anak merasa memiliki kendali terhadap aktivitas tersebut.

Buku bergambar juga dapat menjadi pilihan bagi anak yang belum terbiasa membaca teks panjang. Tujuannya bukan langsung mengejar jumlah halaman, melainkan membangun pengalaman positif terhadap buku.

Membaca Terasa Sulit bagi Anak

Keengganan membaca juga dapat muncul karena anak mengalami kesulitan ketika berhadapan dengan teks. Anak mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk mengenali kata, memahami kalimat, atau menangkap isi sebuah paragraf.

Jika kondisi tersebut sering terjadi, membaca dapat membuat anak merasa lelah atau frustrasi. Akhirnya, mereka memilih menghindari buku bukan karena tidak mau belajar, tetapi karena kegiatan tersebut terasa terlalu sulit.

Orang tua dan guru perlu memperhatikan tanda-tanda seperti:

  • Anak sering kehilangan fokus ketika membaca.
  • Anak menghindari membaca keras-keras.
  • Anak kesulitan menjelaskan kembali isi bacaan.
  • Anak lebih memilih buku dengan teks yang sangat sedikit.
  • Anak mudah frustrasi ketika menemukan kata yang tidak dipahami.

Pendampingan sebaiknya dilakukan secara bertahap. Bacaan yang lebih pendek dan sesuai kemampuan dapat membantu anak membangun kepercayaan diri sebelum beralih ke teks yang lebih panjang.

Pengalaman Membaca yang Kurang Menyenangkan

Pengalaman sebelumnya dapat memengaruhi cara anak memandang kegiatan membaca. Jika membaca selalu dikaitkan dengan tugas, ujian, hukuman, atau kewajiban menyelesaikan sejumlah halaman, anak dapat menganggap buku sebagai sesuatu yang melelahkan.

Situasinya berbeda ketika membaca menjadi aktivitas yang menyenangkan. Orang tua dapat membaca bersama anak sebelum tidur, membicarakan karakter dalam cerita, atau mengajak anak menebak kelanjutan cerita.

Kegiatan tersebut membuat membaca tidak hanya berorientasi pada kemampuan akademik. Anak juga mendapatkan kesempatan untuk menikmati cerita dan berinteraksi dengan orang tua.

Terlalu Banyak Gangguan dari Gawai

Gawai juga dapat menjadi salah satu faktor yang membuat buku terasa kurang menarik. Video pendek, gim, dan aplikasi lain memberikan rangsangan visual serta respons yang cepat. Buku membutuhkan konsentrasi lebih lama sehingga pada awalnya dapat terasa kurang menarik bagi sebagian anak.

Namun, solusi tidak selalu berupa larangan total terhadap gawai. Orang tua dapat mengatur waktu penggunaan perangkat dan menyediakan waktu khusus untuk membaca.

Rutinitas sederhana, seperti membaca selama 15–20 menit sebelum tidur, dapat menjadi awal yang realistis. Konsistensi lebih penting daripada menetapkan target membaca yang terlalu tinggi.

Jangan Membandingkan Anak dengan Temannya

Kalimat seperti “Lihat temanmu, dia sudah selesai membaca satu buku” mungkin dimaksudkan untuk memotivasi. Namun, perbandingan justru dapat membuat anak merasa kurang mampu.

Setiap anak memiliki perkembangan, minat, dan kecepatan belajar yang berbeda. Perhatian sebaiknya diarahkan pada perkembangan anak sendiri.

Misalnya, anak yang sebelumnya hanya mampu membaca beberapa halaman kemudian mulai membaca satu cerita pendek layak mendapatkan apresiasi. Pujian terhadap usaha dapat membantu membangun motivasi intrinsik untuk terus mencoba.

Peran Orang Tua dalam Membangun Kebiasaan Membaca

Kebiasaan membaca anak tidak hanya terbentuk melalui instruksi. Lingkungan di rumah juga memberikan pengaruh. Anak yang melihat orang tua membaca buku, majalah, atau sumber informasi lain dapat memperoleh contoh bahwa membaca merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari.

Beberapa kebiasaan yang dapat diterapkan di rumah antara lain:

  1. Sediakan buku yang mudah dijangkau. Letakkan beberapa bacaan di tempat yang sering digunakan anak.
  2. Berikan pilihan. Anak dapat memilih buku berdasarkan minatnya.
  3. Baca bersama. Pendampingan membuat anak tidak merasa menghadapi bacaan sendirian.
  4. Bicarakan isi buku. Tanyakan pendapat anak tentang karakter atau cerita, bukan hanya meminta mereka menceritakan ulang.
  5. Hindari target berlebihan. Fokus pada keteraturan dan pengalaman positif.

Guru Juga Perlu Melihat Alasan di Balik Keengganan Membaca

Di lingkungan sekolah, guru memiliki kesempatan untuk mengamati pola perilaku membaca anak. Ketika seorang siswa selalu menghindari aktivitas membaca, guru dapat melihat apakah masalahnya berkaitan dengan minat, kemampuan memahami teks, rasa percaya diri, atau faktor lain.

Pendekatan seperti ini membutuhkan pemahaman terhadap perkembangan dan kebutuhan peserta didik. Hal tersebut relevan bagi bidang pendidikan dan bimbingan konseling karena kesulitan belajar tidak selalu dapat dilihat hanya dari hasil akademik.

Di tingkat perguruan tinggi, Ma’soem University menjadi salah satu kampus swasta yang memiliki bidang pendidikan yang relevan dengan pengembangan pemahaman terhadap peserta didik. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Ma’soem University memiliki dua program studi, yaitu Bimbingan dan Konseling (BK) serta Pendidikan Bahasa Inggris. Kedua bidang tersebut dapat menjadi pilihan bagi mahasiswa yang ingin mempelajari aspek pendidikan, pembelajaran, dan kebutuhan peserta didik sesuai bidang studinya.

Membuat Buku Lebih Dekat dengan Kehidupan Anak

Salah satu cara lain untuk meningkatkan minat membaca adalah menghubungkan isi buku dengan kehidupan sehari-hari. Anak yang menyukai sepak bola, misalnya, dapat diperkenalkan pada biografi atlet atau buku tentang olahraga. Anak yang tertarik pada hewan dapat membaca ensiklopedia sederhana mengenai satwa.

Pendekatan tersebut membuat anak memahami bahwa membaca bukan hanya aktivitas untuk mengerjakan tugas sekolah. Buku juga dapat menjadi sumber informasi untuk menemukan jawaban atas hal-hal yang memang ingin mereka ketahui.

Orang tua tidak perlu terburu-buru mengejar jumlah buku yang selesai dibaca. Hal yang lebih penting adalah membantu anak menemukan alasan untuk menikmati proses membaca. Ketika anak merasa bahwa buku sesuai dengan minat dan kemampuannya, kebiasaan membaca memiliki peluang lebih besar untuk berkembang secara alami.

Informasi Ma’soem University

No. WhatsApp: 085185634253
Instagram: @masoem_university
Web Pendaftaran: pmb.masoemuniversity.com