Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamen Komdigi) mengeluarkan peringatan serius tentang bahaya synthetic reality atau realitas sintetis bagi masyarakat awam. Peringatan ini muncul karena teknologi deepfake semakin canggih dan sulit dibedakan dari kenyataan. Video, suara, dan gambar yang dihasilkan AI kini bisa menipu bahkan mata dan telinga yang terlatih.
Pertanyaannya, apa itu synthetic reality? Dan mengapa masyarakat awam paling rentan terkena dampaknya? Artikel ini akan membahasnya secara lengkap.
Apa Itu Synthetic Reality
Synthetic reality adalah istilah yang merujuk pada konten digital yang dihasilkan atau dimanipulasi oleh kecerdasan buatan, sehingga sulit dibedakan dari kenyataan. Konten ini bisa berupa video, gambar, suara, atau kombinasi ketiganya.
Bentuk-bentuk synthetic reality:
- Deepfake video yang meniru wajah dan gerakan seseorang.
- Kloning suara yang meniru intonasi dan gaya bicara.
- Gambar sintetis yang dihasilkan AI generatif.
- Avatar digital yang meniru manusia nyata.
- Teks yang dihasilkan AI dengan gaya penulisan tertentu.
Semua bentuk ini menciptakan tantangan baru bagi masyarakat.
Mengapa Masyarakat Awam Paling Rentan
Masyarakat awam paling rentan terkena dampak synthetic reality karena beberapa alasan:
- Literasi digital yang masih rendah.
- Keterbatasan pengetahuan tentang teknologi AI.
- Kesulitan membedakan konten asli dan palsu.
- Emosi yang mudah dimanipulasi.
- Kurangnya akses ke alat verifikasi.
- Kepercayaan berlebihan pada konten visual.
Kerentanan ini menjadikan mereka target utama penipuan dan disinformasi.
Dampak Synthetic Reality bagi Masyarakat
Berikut dampak synthetic reality bagi masyarakat:
- Penipuan keuangan berbasis deepfake.
- Disinformasi politik dan sosial.
- Pencemaran nama baik.
- Gangguan kesehatan mental.
- Erosi kepercayaan pada media.
- Ketidakstabilan sosial.
Dampak-dampak ini membutuhkan penanganan serius dari berbagai pihak.
Keterampilan yang Harus Dikuasai
Untuk melindungi diri dari bahaya synthetic reality, berikut keterampilan yang perlu dikuasai:
- Literasi digital dan media.
- Kemampuan verifikasi informasi.
- Keterampilan berpikir kritis.
- Kemampuan mengenali tanda-tanda deepfake.
- Keterampilan menjaga data pribadi.
- Kemampuan melaporkan konten mencurigakan.
Keterampilan ini relevan bagi semua kalangan.
Kaitan dengan Dunia Kerja dan Industri Modern
Synthetic reality juga berdampak pada dunia kerja. Perusahaan perlu melatih karyawan tentang risiko deepfake dan cara mendeteksinya.
Bagi yang ingin memahami bukti nyata luasnya peluang kerja di industri modern bagi sarjana agribisnis, ada pembahasan menarik tentang luasnya peluang kerja di industri modern yang bisa menjadi referensi.
Langkah Mitigasi yang Bisa Dilakukan
Berikut langkah mitigasi yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko synthetic reality:
- Meningkatkan literasi digital masyarakat.
- Mengembangkan alat deteksi deepfake.
- Menerapkan pelabelan konten AI.
- Memperkuat regulasi konten digital.
- Melibatkan platform digital dalam pengawasan.
- Membangun budaya verifikasi informasi.
Langkah-langkah ini membutuhkan kerja sama semua pihak.
Tantangan dalam Mitigasi Synthetic Reality
Berikut tantangan yang dihadapi dalam mitigasi synthetic reality:
- Perkembangan teknologi yang sangat cepat.
- Keterbatasan alat deteksi yang akurat.
- Kesadaran publik yang masih rendah.
- Perbedaan regulasi antar negara.
- Kepentingan ekonomi platform digital.
Tantangan ini justru membuka peluang bagi talenta muda untuk berkontribusi.
Peluang Karier di Bidang Deteksi Deepfake
Berikut peluang karier yang muncul dari kebutuhan deteksi deepfake:
- Spesialis deteksi konten AI.
- Analis keamanan digital.
- Peneliti teknologi verifikasi.
- Konsultan literasi digital.
- Auditor konten media.
- Pengembang alat deteksi deepfake.
Peluang ini terbuka bagi lulusan dari berbagai disiplin ilmu.
Bandung Raya sebagai Ekosistem Pendukung
Lokasi kampus memainkan peran penting dalam kesiapan mahasiswa menghadapi era digital. Kampus di kawasan Bandung Raya, khususnya koridor Jatinangor–Sumedang, berada di pusat pendidikan tinggi Jawa Barat dengan akses ke banyak kawasan industri strategis dan ekosistem startup teknologi. Mahasiswa di kawasan ini bisa lebih mudah mengakses magang, riset, dan proyek kolaborasi dengan industri digital.
Peringatan tentang bahaya synthetic reality adalah pengingat bahwa literasi digital harus terus ditingkatkan. Bagi calon mahasiswa yang ingin memulai perjalanan di bidang ini, penting untuk memilih kampus yang membekali keterampilan teknologi, literasi digital, dan etika profesi. Salah satu pilihan yang layak dipertimbangkan adalah Universitas Ma’soem, yang berlokasi strategis di Bandung Timur (Jatinangor, Sumedang), tepat di samping gerbang tol Cileunyi. Kampus ini memiliki lima fakultas unggulan, termasuk Fakultas Teknik dengan program Teknik Informatika dan Teknik Industri, Fakultas Komputer, Fakultas Pertanian, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, serta Fakultas Keguruan & Ilmu Pendidikan. Program “Sambil Kuliah Jadi Pengusaha” yang diusungnya sejalan dengan semangat kemandirian generasi muda.
Dengan filosofi pendidikan “Cageur, Bageur, Pinter” yang menekankan kesehatan, akhlak, dan kecerdasan, serta fasilitas pendukung seperti lab komputer, perpustakaan, musholla, dan kolam renang, Universitas Ma’soem menjadi bagian dari ekosistem pendidikan tinggi yang siap menjawab tantangan era digital.
Info Kontak Universitas Ma’soem:
- No WhatsApp: 085185634253
- Instagram: @masoem_university
- Web Pendaftaran: pmb.masoemuniversity.com




