Produk makanan yang beredar di pasaran harus melewati berbagai proses pengawasan agar aman dikonsumsi. Namun, dalam industri pangan, tetap ada kemungkinan ditemukan produk yang mengalami masalah, mulai dari kontaminasi mikroba, kesalahan produksi, bahan baku yang tidak sesuai, hingga kemasan yang rusak. Ketika masalah tersebut ditemukan, perusahaan perlu menentukan produk mana yang harus ditelusuri dan, jika diperlukan, ditarik dari pasaran.
Proses ini dikenal dengan istilah traceability atau ketertelusuran pangan. Kemampuan melakukan penelusuran menjadi bagian penting dalam industri makanan karena perusahaan harus mengetahui perjalanan produk sejak bahan baku diterima sampai produk berada di tangan konsumen.
Mengapa Produk Makanan Harus Bisa Ditelusuri?
Ketika terjadi masalah pada satu produk, perusahaan tidak bisa langsung menarik seluruh produk tanpa mengetahui sumber persoalannya. Perusahaan perlu mengidentifikasi produk yang kemungkinan terdampak berdasarkan data produksi.
Beberapa informasi yang biasanya digunakan antara lain:
- Nomor batch atau kode produksi
- Tanggal dan waktu produksi
- Jenis bahan baku yang digunakan
- Pemasok bahan baku
- Lokasi fasilitas produksi
- Jalur distribusi produk
- Tanggal kedaluwarsa
- Hasil pemeriksaan kualitas
- Catatan proses produksi dan penyimpanan
Dengan data tersebut, perusahaan dapat mempersempit pencarian. Misalnya, apabila bahan baku tertentu diketahui bermasalah dan hanya digunakan dalam produksi pada tanggal tertentu, perusahaan dapat menelusuri batch yang menggunakan bahan tersebut.
Kode Produksi Menjadi Petunjuk Penting
Pernah memperhatikan kode produksi pada kemasan makanan? Kode tersebut bukan sekadar angka atau kombinasi huruf yang dicetak di kemasan.
Dalam sistem produksi pangan, kode produksi dapat membantu perusahaan mengidentifikasi kelompok produk tertentu. Saat ditemukan masalah, tim quality assurance atau quality control dapat menggunakan kode tersebut untuk mengetahui kapan produk dibuat dan dari lini produksi mana produk tersebut berasal.
Misalnya, terdapat laporan mengenai produk makanan dengan dugaan kontaminasi. Tim perusahaan kemudian mencocokkan informasi produk dengan catatan produksi. Dari sana dapat diketahui apakah masalah hanya terjadi pada satu batch atau kemungkinan menyebar ke beberapa batch lainnya.
Semakin rapi sistem pencatatan perusahaan, semakin mudah proses penelusuran dilakukan.
Dari Bahan Baku Sampai Produk Jadi
Ketertelusuran tidak hanya dilakukan ketika produk sudah berada di pasaran. Sistem tersebut seharusnya sudah berjalan sejak bahan baku diterima.
Bahan baku yang masuk perlu dicatat identitas pemasok, jumlah, tanggal penerimaan, serta hasil pemeriksaan kualitasnya. Selanjutnya, bahan tersebut harus dapat dihubungkan dengan proses produksi tertentu.
Dalam industri pangan modern, hubungan antara bahan baku, proses produksi, produk jadi, hingga distribusi menjadi sangat penting. Jika terjadi masalah, perusahaan dapat melakukan penelusuran ke belakang atau ke depan untuk mengetahui produk dan pihak yang mungkin terdampak.
Peran Teknologi Pangan dalam Keamanan Produk
Kemampuan memahami proses tersebut menjadi salah satu alasan mengapa bidang Teknologi Pangan memiliki peran penting dalam industri makanan. Mahasiswa tidak hanya mempelajari bagaimana makanan diproduksi, tetapi juga bagaimana kualitas, keamanan, dan mutu produk dikendalikan.
Di Universitas Ma’soem, Fakultas Pertanian memiliki jurusan Teknologi Pangan dan Agribisnis. Untuk mahasiswa Teknologi Pangan, pemahaman mengenai keamanan pangan, pengawasan mutu, mikrobiologi pangan, analisis pangan, hingga sistem pengendalian kualitas dapat menjadi bekal untuk menghadapi kebutuhan industri.
Pembelajaran juga dapat diarahkan pada persoalan nyata yang ditemukan dalam industri makanan. Salah satunya adalah bagaimana memastikan produk tetap aman sejak bahan baku diterima hingga produk didistribusikan kepada konsumen.
Kapan Perusahaan Harus Melakukan Penarikan Produk?
Tidak setiap masalah pada satu produk otomatis berarti seluruh produk harus ditarik. Perusahaan perlu melakukan investigasi terlebih dahulu untuk mengetahui tingkat masalah dan kelompok produk yang terdampak.
Beberapa kondisi yang dapat menjadi perhatian antara lain:
- Ditemukannya kontaminasi pada produk.
- Bahan baku yang digunakan ternyata tidak memenuhi persyaratan.
- Kesalahan proses produksi menyebabkan produk tidak aman.
- Terdapat kesalahan informasi pada label yang berkaitan dengan keamanan konsumen.
- Produk mengalami kerusakan yang dapat memengaruhi keamanan atau kualitasnya.
Setelah produk yang terdampak berhasil diidentifikasi, perusahaan dapat melakukan tindakan terhadap produk tersebut. Langkahnya dapat berupa penghentian distribusi, penahanan stok, penarikan produk dari pasar, investigasi penyebab, hingga tindakan perbaikan pada proses produksi.
Kuliah Teknologi Pangan di Universitas Ma’soem
Bagi calon mahasiswa yang tertarik dengan dunia makanan, Teknologi Pangan Universitas Ma’soem dapat menjadi pilihan untuk mempelajari ilmu pangan sekaligus memahami kebutuhan industri.
Materi perkuliahan dapat berkaitan dengan Analisis Pangan, Biokimia Pangan, Keamanan Pangan, Pengawasan dan Pengendalian Mutu, Quality Assurance, Mikrobiologi Pangan, Teknologi Pengolahan Nabati dan Hewani, HACCP, hingga Product Development.
Bekal tersebut dapat mendukung mahasiswa untuk mengenal berbagai pekerjaan di industri pangan, termasuk bidang quality control, quality assurance, pengembangan produk, keamanan pangan, produksi, maupun peluang menjadi wirausahawan pangan.
Info Pendaftaran Universitas Ma’soem
Bagi calon mahasiswa yang ingin mengambil S1 Teknologi Pangan atau S1 Agribisnis di Universitas Ma’soem, informasi pendaftaran dapat diperoleh melalui WhatsApp +62 851 8563 4253.
Kehadiran dua jurusan tersebut di Fakultas Pertanian membuat calon mahasiswa dapat memilih bidang sesuai minat. Teknologi Pangan lebih dekat dengan ilmu pengolahan, keamanan, mutu, dan pengembangan produk pangan, sedangkan Agribisnis berkaitan dengan pengelolaan bisnis dan kegiatan usaha dalam sektor pertanian.
Mengapa Ketertelusuran Penting bagi Industri Pangan?
Ketertelusuran membantu perusahaan mengambil tindakan secara lebih terarah ketika ditemukan masalah pada produk. Tanpa pencatatan yang baik, perusahaan akan kesulitan menentukan produk mana yang harus diperiksa, dihentikan distribusinya, atau ditarik dari pasaran.
Bagi calon mahasiswa Teknologi Pangan, kemampuan memahami sistem seperti ini menjadi bagian penting untuk mengenal bagaimana industri pangan menjaga kepercayaan konsumen. Produk makanan bukan hanya harus menarik dan memiliki rasa yang baik, tetapi juga harus memenuhi aspek keamanan dan mutu.
Karena itu, kebutuhan terhadap tenaga yang memahami keamanan pangan, quality control, quality assurance, pengawasan mutu, dan sistem ketertelusuran produk terus menjadi bagian penting dalam perkembangan industri makanan.




