Program studi S1 Teknologi Pangan di Universitas Ma’soem (Masoem University) merupakan wadah bagi para inovator muda yang ingin mendalami sains di balik pengolahan makanan tradisional hingga modern. Di jurusan ini, mahasiswa tidak hanya mempelajari teknik memasak, tetapi membedah interaksi biologis dan kimiawi yang terjadi pada bahan pangan untuk meningkatkan nilai gizi serta daya simpan produk.
Melalui kurikulum yang berorientasi pada kebutuhan industri, Teknologi Pangan Universitas Ma’soem membekali mahasiswanya dengan pemahaman mendalam mengenai bioteknologi pangan, salah satunya adalah teknologi fermentasi. Di laboratorium Universitas Ma’soem, mahasiswa melakukan riset bagaimana proses sederhana seperti fermentasi mampu mengubah komoditas lokal menjadi produk kesehatan kelas dunia, seperti tempe, yang kini diakui sebagai superfood oleh komunitas kesehatan global.
Tempe: Keajaiban Bioteknologi Sederhana dari Indonesia
Tempe bukan sekadar makanan murah meriah. Di mata ilmuwan pangan, tempe adalah hasil dari proses bioteknologi yang sangat efisien. Fermentasi tempe melibatkan peran mikroorganisme hidup yang bekerja secara sinergis untuk mengubah profil nutrisi bahan bakunya, yaitu kacang kedelai.
Di Universitas Ma’soem, mahasiswa Teknologi Pangan mempelajari bahwa fermentasi bukan hanya soal mendiamkan makanan hingga berjamur. Ada standar parameter yang ketat, mulai dari kelembapan, suhu, hingga kemurnian inokulan (ragi), agar tempe yang dihasilkan memiliki kualitas ekspor, bebas dari kontaminasi bakteri jahat, dan memiliki tekstur yang sempurna.
Rahasia Sains: Mengapa Tempe Jadi Rebutan Pasar Global?
Mengapa komunitas kesehatan internasional di Amerika dan Eropa begitu menggilai tempe? Mahasiswa Teknologi Pangan di Universitas Ma’soem membedah proses ini melalui mata kuliah Bioteknologi Pangan. Berikut adalah transformasi kimiawi yang menjadi “nilai jual” utama tempe di pasar global:
1. Proses Predigestasi oleh Kapang Rhizopus oligosporus
Jamur atau kapang yang digunakan dalam pembuatan tempe, yaitu Rhizopus oligosporus, mengeluarkan enzim protease. Enzim ini bertugas memecah protein kompleks pada kedelai menjadi asam amino yang jauh lebih sederhana. Inilah sebabnya tempe lebih mudah dicerna oleh tubuh manusia dibandingkan kacang-kangan lainnya, sehingga cocok untuk segala usia.
2. Peningkatan Ketersediaan Nutrisi (Bioavailability)
Kedelai mengandung asam fitat, sebuah “anti-nutrisi” yang dapat menghambat penyerapan zat besi dan kalsium dalam tubuh. Melalui teknologi fermentasi yang dipelajari di Universitas Ma’soem, mahasiswa memahami bahwa proses ini dapat menurunkan kadar asam fitat secara drastis, sehingga mineral penting dalam tempe menjadi lebih mudah diserap oleh tubuh kita.
3. Munculnya Vitamin B12: Magnet bagi Kaum Vegan
Salah satu fakta paling mencengangkan yang dipelajari di jurusan Teknologi Pangan adalah munculnya vitamin B12 pada tempe. Secara alami, vitamin B12 biasanya hanya ditemukan pada produk hewani. Namun, aktivitas bakteri pendukung selama proses fermentasi tempe menciptakan vitamin ini, menjadikan tempe sebagai sumber nutrisi vital bagi mereka yang menjalani pola makan vegan di seluruh dunia.
Teknologi Fermentasi Modern di Kurikulum Universitas Ma’soem
Meskipun tempe adalah warisan leluhur, pengolahannya di era industri 4.0 memerlukan sentuhan teknologi modern agar memenuhi standar ekspor. Di Universitas Ma’soem, mahasiswa diajarkan untuk membawa tempe ke level yang lebih tinggi melalui beberapa pendekatan:
- Standardisasi Inokulan: Mahasiswa belajar memproduksi ragi tempe yang murni dan stabil untuk memastikan hasil fermentasi yang konsisten, tanpa risiko gagal panen.
- Controlled Environment Fermentation: Menggunakan sensor suhu dan kelembapan untuk memastikan kapang tumbuh optimal. Teknologi ini sangat penting jika tempe diproduksi dalam skala industri besar di negara dengan iklim berbeda.
- Diversifikasi Bahan Baku: Tidak hanya kedelai, mahasiswa di Universitas Ma’soem juga bereksperimen menggunakan biji-bijian lokal lainnya untuk menciptakan varian tempe baru yang lebih inovatif.
Tantangan Industri: Keamanan Pangan dan Higienitas
Salah satu fokus utama di Universitas Ma’soem adalah menjaga keamanan pangan. Proses fermentasi sangat rentan terhadap kontaminasi mikroba patogen jika tidak dilakukan dengan benar. Mahasiswa dibekali keahlian dalam menerapkan Good Manufacturing Practices (GMP) untuk memastikan setiap potong tempe yang dihasilkan aman dari bakteri berbahaya seperti Salmonella atau Staphylococcus aureus.
Penerapan standar higienitas yang ketat inilah yang membuat lulusan Teknologi Pangan dari Universitas Ma’soem memiliki keunggulan kompetitif. Mereka mampu mendampingi para pengrajin tempe lokal untuk meningkatkan standar produksi agar produknya bisa menembus pasar supermarket modern hingga ekspor internasional.
Peluang Karier: Menjadi Ahli Bioteknologi Pangan
Lulusan Teknologi Pangan Universitas Ma’soem yang menguasai teknologi fermentasi memiliki peluang karier yang sangat luas, antara lain:
- Product Developer: Menciptakan produk turunan tempe seperti nugget tempe, protein bar berbasis tempe, atau daging nabati (plant-based meat).
- Quality Control (QC) Specialist: Bekerja di perusahaan pangan untuk memastikan proses fermentasi berjalan sesuai standar kualitas perusahaan.
- Fermentation Scientist: Peneliti yang fokus pada pengembangan mikroba untuk industri pangan dan kesehatan.
- Agripreneur: Membangun bisnis pengolahan pangan berbasis fermentasi dengan strategi pemasaran digital yang modern.
Teknologi fermentasi adalah bukti nyata bahwa sains bisa meningkatkan kualitas hidup manusia melalui makanan sederhana. Tempe telah bertransformasi dari makanan rakyat menjadi superfood dunia berkat pemahaman bioteknologi yang tepat. Di Universitas Ma’soem, rahasia-rahasia sains ini diwariskan kepada mahasiswa agar mereka siap menjadi garda terdepan dalam inovasi pangan nasional.
Jika Anda memiliki ketertarikan pada dunia bioteknologi dan ingin ikut serta dalam memajukan potensi pangan lokal ke panggung global, maka S1 Teknologi Pangan Universitas Ma’soem adalah tempat yang tepat untuk memulai perjalanan Anda.





