Mengajar adalah aktivitas mulia yang menuntut kesiapan ilmu, mental, dan keterampilan komunikasi. Namun, tidak sedikit guru, terutama calon guru atau mahasiswa kependidikan yang merasa nervous saat mengajar. Rasa gugup ini wajar, apalagi ketika berdiri di depan kelas untuk pertama kali, menghadapi siswa dengan beragam karakter, atau dinilai oleh dosen pembimbing. Meski demikian, nervous yang tidak dikelola dengan baik dapat mengganggu proses pembelajaran. Karena itu, memahami strategi mengatasi nervous saat mengajar menjadi bekal penting bagi pendidik profesional.
Mengapa Nervous Saat Mengajar Itu Terjadi?
Sebelum membahas strategi, penting untuk memahami akar masalahnya. Beberapa penyebab umum nervous saat mengajar antara lain:
- Kurang percaya diri terhadap penguasaan materi.
- Takut melakukan kesalahan, baik dalam menjelaskan maupun menjawab pertanyaan siswa.
- Minim pengalaman mengajar, terutama bagi mahasiswa PPL atau praktikum.
- Tekanan penilaian, misalnya saat disupervisi dosen atau guru pamong.
- Kondisi kelas yang tidak kondusif, seperti siswa yang pasif atau justru terlalu aktif.
Mengetahui penyebabnya akan memudahkan guru menentukan strategi yang tepat untuk mengatasinya.
1. Persiapan Materi yang Matang
Strategi pertama dan paling mendasar untuk mengatasi nervous saat mengajar adalah persiapan yang matang. Guru yang memahami materi dengan baik akan lebih percaya diri dalam menyampaikannya. Persiapan ini mencakup:
- Menyusun RPP atau modul ajar secara sistematis
- Memahami tujuan pembelajaran
- Menyiapkan contoh, ilustrasi, dan latihan soal
Dengan persiapan yang kuat, rasa takut “tidak tahu harus menjelaskan apa” akan berkurang drastis.
2. Latihan Mengajar Secara Bertahap
Nervous sering muncul karena kurangnya jam terbang. Oleh karena itu, latihan mengajar secara bertahap sangat disarankan. Mahasiswa FKIP dapat memulai dengan:
- Microteaching bersama teman sekelas
- Simulasi mengajar di depan kelompok kecil
- Rekaman video untuk evaluasi diri
Semakin sering berlatih, tubuh dan pikiran akan terbiasa dengan situasi mengajar sehingga rasa gugup perlahan menghilang.
3. Kuasai Teknik Pernapasan dan Relaksasi
Saat nervous, tubuh biasanya memberi reaksi fisik seperti jantung berdebar, tangan berkeringat, atau suara gemetar. Untuk mengatasinya, guru dapat menerapkan teknik pernapasan dalam, misalnya menarik napas selama 4 detik, menahannya 4 detik, lalu menghembuskannya perlahan.
Teknik ini terbukti efektif menenangkan sistem saraf dan membantu guru lebih fokus sebelum memulai pembelajaran.
4. Bangun Interaksi Positif dengan Siswa
Mengajar bukanlah monolog, melainkan proses interaksi. Strategi mengatasi nervous saat mengajar berikutnya adalah membangun hubungan positif dengan siswa. Guru bisa memulai dengan:
- Menyapa siswa dengan ramah
- Mengajukan pertanyaan ringan sebagai pemantik
- Menggunakan humor edukatif seperlunya
Ketika suasana kelas terasa hangat dan bersahabat, guru tidak lagi merasa “sendirian” di depan kelas, sehingga rasa gugup berkurang.
5. Ubah Pola Pikir tentang Nervous
Menariknya, nervous tidak selalu berdampak negatif. Sedikit rasa gugup justru bisa meningkatkan kewaspadaan dan semangat. Kuncinya adalah mengubah pola pikir: anggap nervous sebagai tanda bahwa Anda peduli dan ingin tampil maksimal.
Alih-alih berpikir “Saya takut salah,” ubahlah menjadi “Saya sedang belajar menjadi guru yang lebih baik.” Pola pikir positif ini sangat membantu menjaga stabilitas emosi saat mengajar.
6. Manfaatkan Media dan Metode Variatif
Guru yang hanya mengandalkan ceramah cenderung lebih cepat merasa tertekan. Sebaliknya, penggunaan media pembelajaran dan metode variatif dapat membantu mengalihkan fokus dari rasa gugup. Misalnya:
- Diskusi kelompok
- Presentasi siswa
- Video pembelajaran atau permainan edukatif
Saat siswa aktif, guru memiliki waktu untuk mengatur napas dan mengelola kelas dengan lebih tenang.
7. Dukungan Lingkungan Akademik yang Tepat
Lingkungan akademik juga berperan besar dalam membentuk mental calon guru. Di Ma’soem University, khususnya di FKIP Ma’soem University, mahasiswa dibekali tidak hanya teori kependidikan, tetapi juga praktik mengajar yang intensif dan berkelanjutan.
Melalui mata kuliah microteaching, PPL, serta bimbingan dosen yang suportif, mahasiswa FKIP dilatih untuk menghadapi situasi kelas nyata. Pendekatan ini membantu mahasiswa membangun kepercayaan diri dan mengurangi nervous saat mengajar, bahkan sebelum mereka lulus.
Nervous saat mengajar adalah hal yang manusiawi, terutama bagi calon guru. Namun, dengan strategi yang tepat mulai dari persiapan materi, latihan rutin, pengelolaan emosi, hingga dukungan lingkungan akademik, rasa gugup dapat dikelola dan bahkan diubah menjadi energi positif.





