24 20260220 120302 0023.jpg

Dinamika Self-Concept Calon Guru selama Perkuliahan

Self-concept atau konsep diri merupakan salah satu aspek psikologis yang memiliki peran penting dalam pembentukan kepribadian dan profesionalitas seseorang. Bagi calon guru, self-concept tidak hanya memengaruhi cara mereka memandang diri sendiri, tetapi juga menentukan bagaimana mereka berinteraksi dengan mahasiswa lain, dosen, serta kelak dengan peserta didik di sekolah. Selama masa perkuliahan, dinamika self-concept calon guru mengalami perkembangan yang signifikan seiring dengan pengalaman akademik, sosial, dan praktikum yang mereka jalani.

Self-Concept dalam Konteks Pendidikan Keguruan

Self-concept dapat dipahami sebagai gambaran individu tentang dirinya sendiri, mencakup persepsi terhadap kemampuan, nilai, sikap, dan peran sosial. Dalam pendidikan keguruan, konsep diri calon guru terbentuk melalui proses panjang yang melibatkan refleksi diri, evaluasi akademik, dan pengalaman mengajar. Mahasiswa calon guru tidak hanya dituntut menguasai materi ajar, tetapi juga membangun keyakinan diri sebagai pendidik yang kompeten, sabar, dan berkarakter.

Pada tahap awal perkuliahan, banyak mahasiswa keguruan masih berada pada fase pencarian jati diri. Mereka sering kali membandingkan diri dengan teman seangkatan, mempertanyakan pilihan jurusan, atau merasa ragu terhadap kemampuan mengajar. Hal ini wajar, karena self-concept bersifat dinamis dan sangat dipengaruhi oleh lingkungan belajar serta dukungan sosial yang diterima.

Dinamika Self-Concept Selama Perkuliahan

Perkuliahan menjadi ruang penting bagi calon guru untuk mengembangkan self-concept secara bertahap. Dinamika ini dapat dilihat dari beberapa fase. Pertama, fase adaptasi. Pada fase ini, mahasiswa belajar menyesuaikan diri dengan budaya akademik, tuntutan tugas, serta metode pembelajaran di perguruan tinggi. Self-concept pada fase ini cenderung fluktuatif, karena mahasiswa masih membangun kepercayaan diri dan identitas akademiknya.

Kedua, fase eksplorasi dan penguatan. Seiring berjalannya waktu, mahasiswa mulai menemukan kekuatan dan kelemahan dirinya. Mata kuliah kependidikan, microteaching, serta diskusi kelas membantu mereka memahami peran guru secara lebih konkret. Pengalaman tampil di depan kelas, meskipun awalnya menegangkan, secara perlahan membentuk konsep diri positif sebagai calon pendidik. Apresiasi dari dosen dan teman sebaya juga menjadi faktor penting dalam memperkuat self-concept.

Ketiga, fase internalisasi profesional. Pada fase ini, calon guru mulai memandang dirinya sebagai pendidik masa depan. Praktik pengalaman lapangan (PPL) atau magang di sekolah menjadi momen krusial yang menguji sekaligus mematangkan konsep diri. Tantangan nyata di kelas, interaksi dengan siswa, serta tanggung jawab mengelola pembelajaran membuat self-concept calon guru semakin realistis dan matang.

Peran Lingkungan Kampus dalam Pembentukan Self-Concept

Lingkungan kampus memiliki kontribusi besar terhadap dinamika self-concept mahasiswa keguruan. Kampus yang kondusif, suportif, dan memiliki budaya akademik positif akan mendorong terbentuknya konsep diri yang sehat. Salah satu contoh lingkungan akademik yang mendukung pengembangan calon guru adalah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Ma’soem University.

Melalui program akademik yang terstruktur, dosen yang berpengalaman, serta kegiatan kemahasiswaan yang beragam, mahasiswa FKIP dibimbing untuk mengenali potensi dirinya. Pembelajaran tidak hanya berfokus pada teori, tetapi juga pada penguatan karakter, etika profesi, dan kepercayaan diri sebagai pendidik. Hal ini secara tidak langsung membentuk self-concept positif yang sangat dibutuhkan oleh calon guru.

Tantangan dalam Mengembangkan Self-Concept Calon Guru

Meskipun perkuliahan menyediakan banyak peluang pengembangan diri, calon guru tetap menghadapi berbagai tantangan. Tekanan akademik, tuntutan nilai, serta ekspektasi sosial sering kali memengaruhi persepsi diri mahasiswa. Tidak sedikit mahasiswa yang merasa kurang percaya diri ketika menghadapi praktik mengajar atau evaluasi dosen.

Selain itu, perbandingan sosial di era digital juga dapat memengaruhi self-concept. Media sosial kerap menampilkan standar keberhasilan yang tidak realistis, sehingga mahasiswa merasa tertinggal atau kurang kompeten. Oleh karena itu, pendampingan akademik dan konseling menjadi aspek penting dalam membantu mahasiswa membangun konsep diri yang sehat dan seimbang.

Implikasi Self-Concept terhadap Profesionalitas Guru

Self-concept yang positif akan berdampak langsung pada kualitas calon guru sebagai pendidik. Guru dengan konsep diri yang baik cenderung memiliki motivasi tinggi, mampu beradaptasi dengan perubahan, dan memiliki hubungan interpersonal yang positif dengan siswa. Sebaliknya, self-concept negatif dapat menghambat kinerja mengajar, menurunkan kepercayaan diri, dan memengaruhi kualitas pembelajaran.

Dalam konteks pendidikan jangka panjang, pengembangan self-concept selama perkuliahan menjadi investasi penting. Calon guru yang memiliki pemahaman diri yang baik akan lebih siap menghadapi tantangan dunia pendidikan, baik dari segi pedagogik maupun psikologis.