Hingga saat ini, sebagian masyarakat masih memiliki pandangan sempit bahwa berkuliah di Fakultas Pertanian berarti mempersiapkan diri untuk menjadi pekerja kasar di sawah. Citra mencangkul di bawah terik matahari atau bergelut dengan lumpur sering kali menjadi alasan bagi calon mahasiswa untuk ragu memilih jalur ini. Namun, pandangan tersebut adalah sisa dari persepsi masa lalu yang sudah tidak relevan dengan wajah pertanian modern.
Di Universitas Ma’soem, kurikulum Fakultas Pertanian dirancang untuk mencetak manajer, inovator, dan analis, bukan sekadar tenaga kerja lapangan. Memahami bahwa pertanian modern adalah perpaduan antara bioteknologi, manajemen bisnis, dan rekayasa industri akan membuka mata kita bahwa “bekerja di sawah” hanyalah bagian sangat kecil dari ekosistem agrikultur yang luas.
1. Pertanian adalah Sektor Berbasis Sains dan Laboratorium
Mahasiswa pertanian, khususnya di jurusan Teknologi Pangan, menghabiskan lebih banyak waktu di laboratorium kimia dan mikrobiologi daripada di lahan terbuka. Mereka mempelajari struktur molekul bahan pangan, melakukan rekayasa genetika tanaman untuk menghasilkan varietas unggul, hingga menciptakan formula pengawetan alami. Di sini, cangkul telah digantikan oleh mikroskop, alat filtrasi canggih, dan perangkat analisis kromatografi. Fokusnya bukan pada kekuatan fisik, melainkan pada ketajaman analisis ilmiah.
2. Implementasi Teknologi Pertanian 4.0
Pertanian masa kini telah memasuki era digitalisasi. Mahasiswa kini belajar mengoperasikan drone untuk pemetaan lahan, menggunakan sensor berbasis IoT (Internet of Things) untuk memantau kelembapan tanah dari jarak jauh, serta memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) untuk memprediksi waktu panen yang optimal.
Dalam konteks ini, lulusan pertanian bertindak sebagai operator sistem dan analis data. Pekerjaan fisik yang berat telah diambil alih oleh mekanisasi mesin dan otomatisasi. Mahasiswa Fakultas Pertanian justru dituntut memiliki literasi teknologi yang tinggi untuk mengendalikan alat-alat canggih tersebut.
3. Aspek Strategis Manajemen dan Bisnis (Agribisnis)
Bagi mahasiswa Jurusan Agribisnis, fokus utama mereka adalah pada manajerial dan ekonomi. Pertanian dipandang sebagai sebuah industri yang melibatkan rantai pasok global (global supply chain). Mereka mempelajari manajemen pemasaran, analisis pasar modal komoditas, hingga negosiasi ekspor-impor.
Karier lulusan ini lebih banyak berada di ruang kantor pusat perusahaan perkebunan, lembaga keuangan perbankan sebagai analis kredit sektor hijau, atau sebagai pengusaha startup pertanian. Mereka adalah pengatur strategi di balik layar agar produk petani lokal dapat menembus pasar ritel modern dan internasional.
4. Peran dalam Ketahanan Pangan Nasional di Meja Kebijakan
Banyak lulusan pertanian yang meniti karier di pemerintahan sebagai birokrat, pengambil kebijakan, atau konsultan pembangunan daerah. Mereka bekerja di belakang meja untuk merancang regulasi pangan, memetakan distribusi pupuk bersubsidi, dan menjaga stabilitas harga pangan nasional. Peran ini memerlukan kemampuan komunikasi, kepemimpinan, dan pemahaman ekonomi makro—bukan kekuatan fisik untuk mengolah lahan secara manual.
Pendidikan Karakter di Universitas Ma’soem
Meskipun tidak selalu di sawah, bukan berarti mahasiswa pertanian menjadi manja. Di Universitas Ma’soem, nilai “Pinter dan Bageur” diterapkan untuk membentuk lulusan yang tangguh namun rendah hati.
- Pinter (Cerdas): Mampu menguasai teknologi dan sains pertanian terbaru agar tidak tertinggal oleh kemajuan zaman.
- Bageur (Berperilaku Baik): Memiliki empati terhadap nasib petani. Walaupun bekerja di gedung perkantoran atau laboratorium berpendingin udara, seorang lulusan Ma’soem tetap memiliki semangat untuk menyejahterakan masyarakat tani di lapangan melalui inovasi yang mereka buat.
Meluruskan persepsi tentang Fakultas Pertanian adalah langkah penting untuk menyadari betapa bergengsinya sektor ini. Kuliah di fakultas ini adalah tentang mengelola sumber daya kehidupan yang paling mendasar: pangan. Profesi yang dihasilkan mencakup manajer produksi, ahli laboratorium, analis data, hingga bankir.
Jadi, jika Anda memilih Fakultas Pertanian di Universitas Ma’soem, Anda sedang mempersiapkan diri untuk menjadi bagian dari elite profesional yang menjaga masa depan perut bangsa, bukan sekadar menjadi pekerja fisik di sawah. Sawah hanyalah laboratorium alam, tempat ilmu pengetahuan yang Anda kuasai diuji kemanfaatannya bagi peradaban.





