Cara Mahasiswa Teknologi Pangan Memperpanjang Masa Simpan Produk

Dalam industri pangan, kualitas produk yang dihasilkan melalui proses pengolahan yang canggih akan sia-sia jika tidak dilindungi oleh sistem pengemasan yang tepat. Pengemasan bukan sekadar pembungkus atau sarana promosi, melainkan benteng pertahanan utama terhadap kerusakan fisik, kimia, dan biologi. Bagi mahasiswa Teknologi Pangan, merancang kemasan adalah bagian dari strategi untuk memastikan produk tetap segar hingga ke tangan konsumen tanpa bergantung sepenuhnya pada bahan pengawet.

Di Universitas Ma’soem, mahasiswa mempelajari bahwa inovasi pengemasan merupakan kombinasi antara pemilihan material yang tepat dan teknologi perlindungan tingkat tinggi.


1. Pemilihan Material Berdasarkan Karakteristik Produk

Setiap bahan pangan memiliki “musuh” yang berbeda. Produk berminyak sangat sensitif terhadap cahaya dan oksigen, sementara produk kering sangat rentan terhadap kelembapan. Mahasiswa diajarkan untuk memilih material, seperti plastik polimer tertentu, aluminium foil, atau material komposit, yang memiliki daya hambat (barrier) yang sesuai. Ketepatan dalam memilih material ini secara signifikan dapat mencegah ketengikan dan perubahan tekstur produk dalam waktu lama.

2. Teknologi Active Packaging (Pengemasan Aktif)

Inovasi tidak berhenti pada material yang pasif. Mahasiswa juga mempelajari pengemasan aktif, di mana kemasan “bekerja” untuk menjaga kondisi produk. Contohnya adalah penggunaan oxygen scavenger (penyerap oksigen) di dalam kemasan untuk mencegah pertumbuhan jamur atau penggunaan penyerap etilen pada kemasan buah-buahan untuk memperlambat proses pematangan yang terlalu cepat. Dengan teknologi ini, masa simpan produk segar dapat diperpanjang secara alami.

3. Modified Atmosphere Packaging (MAP)

Salah satu teknik tingkat lanjut yang dipelajari adalah MAP. Dalam proses ini, udara normal di dalam kemasan dikeluarkan dan diganti dengan campuran gas tertentu (seperti nitrogen dan karbon dioksida) yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri dan reaksi oksidasi. Teknik ini sangat krusial bagi produk daging segar, sayuran potong, dan kacang-kacangan agar tetap terlihat segar dan tidak kehilangan aroma meskipun disimpan selama berminggu-minggu.

4. Tren Edible Packaging dan Ramah Lingkungan

Seiring dengan meningkatnya kesadaran lingkungan, mahasiswa Teknologi Pangan juga didorong untuk berinovasi menciptakan kemasan yang ramah lingkungan atau bahkan dapat dimakan (edible packaging). Menggunakan bahan dasar pati, rumput laut, atau kitosan, kemasan ini tidak hanya mengurangi limbah plastik, tetapi juga memberikan perlindungan tambahan pada permukaan makanan tanpa mengubah rasa aslinya.


Inovasi pengemasan adalah kunci keberhasilan distribusi pangan dalam skala luas. Dengan menguasai teknologi ini, mahasiswa Universitas Ma’soem dipersiapkan untuk menjadi ahli yang mampu memberikan solusi praktis bagi industri untuk menekan angka kerusakan produk (food loss). Pengemasan yang cerdas memastikan kualitas tetap terjaga, keamanan pangan terjamin, dan daya saing produk di pasar semakin meningkat.