Dalam dunia industri makanan, sebuah produk tidak hanya harus aman dan bergizi, tetapi juga harus diterima secara rasa oleh konsumen. Di sinilah peran penting Laboratorium Uji Sensorik. Fasilitas ini bukan sekadar tempat mencicipi makanan, melainkan laboratorium sains tempat mahasiswa Jurusan Teknologi Pangan mengukur persepsi manusia menggunakan metode statistik yang akurat.
Di Universitas Ma’soem, fasilitas ini dirancang khusus untuk melatih mahasiswa menjadi panelis ahli yang mampu membedakan kualitas tekstur, aroma, warna, hingga rasa sebuah produk secara objektif.
1. Bilik Pencicipan (Tasting Booths) yang Terisolasi
Salah satu ciri khas Laboratorium Uji Sensorik adalah adanya deretan bilik penyekat. Desain ini bertujuan agar setiap panelis (penguji) tidak saling berinteraksi atau terpengaruh oleh ekspresi wajah orang lain saat mencoba sampel.
- Fokus Maksimal: Penyekat memastikan konsentrasi penuh pada sampel di depan mata.
- Lubang Penyaluran (Pass-through): Sampel diberikan melalui jendela kecil dari ruang persiapan, sehingga panelis tidak melihat proses pembuatannya agar tidak muncul ekspektasi tertentu (bias).
2. Sistem Pencahayaan Khusus (Lampu Warna)
Mungkin terdengar unik, tetapi Laboratorium Uji Sensorik sering dilengkapi dengan lampu berwarna merah, hijau, atau biru.
- Menyamarkan Warna: Jika tujuan pengujian hanya untuk membandingkan rasa antara dua merek sirup tanpa ingin terpengaruh oleh perbedaan kepekatan warnanya, lampu merah digunakan untuk “membutakan” mata panelis terhadap warna asli produk. Dengan begitu, penilaian benar-benar murni berdasarkan lidah.
3. Kontrol Suhu dan Ventilasi Udara
Laboratorium ini harus bebas dari bau yang menyengat, seperti parfum, asap rokok, atau aroma masakan dari dapur sebelah.
- Netralitas Aroma: Sistem sirkulasi udara diatur sedemikian rupa agar ruangan tetap netral. Jika ruangan berbau gorengan, panelis akan kesulitan mendeteksi aroma halus dari sampel kopi atau teh yang sedang diuji.
4. Area Persiapan Sampel yang Higienis
Di balik bilik pencicipan, terdapat dapur laboratorium yang dilengkapi dengan timbangan analitik, kompor, mikrowave, dan peralatan saji standar industri.
- Keseragaman Penyajian: Di Jurusan Teknologi Pangan, mahasiswa belajar bahwa setiap sampel harus disajikan dalam suhu, ukuran, dan wadah yang identik. Misalnya, jika menguji keripik, setiap panelis harus menerima potongan dengan ukuran yang sama agar kerenyahannya bisa dibandingkan secara adil.
5. Perangkat Lunak Analisis Data Statistik
Setelah panelis memberikan skor pada formulir (baik digital maupun kertas), data tersebut tidak langsung disimpulkan begitu saja. Mahasiswa menggunakan metode statistik seperti Analysis of Variance (ANOVA) untuk melihat apakah perbedaan rasa yang dirasakan panelis itu nyata secara sains atau hanya kebetulan.
Laboratorium Uji Sensorik adalah tempat di mana sains bertemu dengan panca indera. Bagi mahasiswa Jurusan Teknologi Pangan, fasilitas ini menjadi sarana utama untuk melakukan pengembangan produk baru (Research and Development). Di Universitas Ma’soem, penguasaan alat dan metode di laboratorium ini memastikan lulusannya mampu menciptakan produk yang tidak hanya inovatif secara teknologi, tetapi juga lezat dan disukai oleh pasar.





