Peran Lulusan Jurusan Agribisnis dalam Memberdayakan Kelompok Tani Lokal

Keberhasilan sektor pertanian tidak hanya ditentukan oleh seberapa subur tanahnya, tetapi juga oleh seberapa kuat manajemen komunitas petaninya. Di Indonesia, banyak petani kecil yang bekerja sendiri-sendiri, sehingga posisi tawar mereka lemah saat berhadapan dengan pasar. Di sinilah peran Jurusan Agribisnis menjadi jembatan perubahan melalui pemberdayaan kelompok tani (Gapoktan).

Di Universitas Ma’soem, mahasiswa Jurusan Agribisnis disiapkan bukan hanya untuk menjadi pengusaha, tetapi juga menjadi motor penggerak masyarakat. Mereka dilatih untuk mengubah pola pikir tradisional menjadi pola pikir agribisnis yang modern dan kolektif.


1. Transformasi Pola Pikir: Dari Petani Menjadi Pengusaha

Masalah utama di lapangan sering kali adalah pola pikir yang hanya fokus pada budidaya. Lulusan Jurusan Agribisnis berperan sebagai edukator bagi kelompok tani lokal:

  • Literasi Keuangan: Mengajarkan cara menghitung biaya produksi secara mendetail, sehingga petani tahu persis berapa keuntungan bersih mereka dan tidak terjebak hutang yang tidak produktif.
  • Visi Bisnis: Mengajak kelompok tani untuk melihat pertanian sebagai industri yang berkelanjutan, bukan sekadar kerja musiman untuk menyambung hidup.

2. Memperkuat Posisi Tawar melalui Kelembagaan

Petani yang bergerak sendiri mudah dipermainkan oleh spekulan harga. Lulusan Jurusan Agribisnis membantu mengorganisir mereka ke dalam lembaga yang lebih profesional:

  • Koperasi dan Kelompok Tani: Membantu pembentukan wadah kolektif agar petani bisa membeli sarana produksi (pupuk, benih) dengan harga grosir yang lebih murah.
  • Penentuan Harga Kolektif: Dengan adanya kelompok yang solid, petani bisa bernegosiasi dengan pembeli besar atau industri dalam satu suara, sehingga harga jual tidak jatuh saat panen raya.

3. Akses Teknologi dan Inovasi Pertanian

Banyak teknologi pertanian modern yang sulit dijangkau petani kecil karena kendala biaya atau pengetahuan. Lulusan Jurusan Agribisnis berperan memfasilitasi akses tersebut:

  • Mekanisasi Bersama: Mengatur skema penggunaan alat mesin pertanian (alsintan) secara bersama-sama dalam kelompok agar investasi alat menjadi lebih efisien.
  • Digitalisasi Pertanian: Mengenalkan aplikasi pencatatan tani atau platform pemasaran digital yang memungkinkan hasil panen kelompok tani lokal dikenal oleh pasar yang lebih luas.

4. Menghubungkan Kelompok Tani dengan Rantai Pasok Modern

Salah satu tugas utama lulusan Jurusan Agribisnis adalah menjadi penghubung (bridging). Mereka mencari peluang kerja sama antara kelompok tani dengan sektor perhotelan, supermarket, atau industri pengolahan.

  • Standarisasi Produk: Membimbing petani agar hasil panennya memenuhi standar kualitas yang diinginkan industri (misalnya ukuran, kebersihan, dan kontinuitas pasokan).
  • Kemitraan Strategis: Menyusun draf kerja sama yang saling menguntungkan antara petani lokal dengan perusahaan besar, memastikan hak-hak petani terlindungi secara hukum.

Pemberdayaan kelompok tani oleh lulusan Jurusan Agribisnis adalah kunci untuk memutus rantai kemiskinan di pedesaan. Di Universitas Ma’soem, semangat pengabdian ini ditanamkan agar lulusan mampu membawa dampak sosial yang nyata bagi masyarakat. Dengan kelompok tani yang berdaya, pertanian Indonesia akan jauh lebih mandiri dan kompetitif.