Jika Anda masuk ke laboratorium atau ruang produksi Jurusan Teknologi Pangan Universitas Ma’soem, Anda akan melihat pemandangan yang kontras dengan area kampus lainnya: tidak ada mahasiswa yang memakai cincin, gelang, jam tangan, bahkan anting yang mencolok.
Larangan ini bukan soal gaya hidup atau estetika, melainkan penerapan standar keamanan pangan yang ketat. Di dunia industri, perhiasan dianggap sebagai musuh dalam selimut yang memicu kontaminasi silang perpindahan cemaran berbahaya ke dalam produk pangan.
1. Perhiasan Sebagai “Rumah” Bakteri (Kontaminasi Biologi)
Cincin atau gelang memiliki celah-celah kecil, ukiran, dan bagian bawah yang sering kali lembap. Area ini adalah tempat persembunyian sempurna bagi mikroba.
- Sulit Steril: Meskipun seseorang sudah mencuci tangan dengan sabun antiseptik, bakteri yang terjebak di bawah cincin sering kali tidak tersentuh.
- Risiko Infeksi: Bakteri seperti Staphylococcus aureus yang secara alami ada di kulit manusia bisa berkembang biak di perhiasan dan berpindah ke adonan makanan saat mahasiswa sedang melakukan pengolahan manual.
2. Risiko Benda Asing Masuk ke Produk (Kontaminasi Fisik)
Kontaminasi fisik adalah masuknya benda padat yang tidak seharusnya ada dalam makanan. Perhiasan adalah salah satu penyumbang risiko terbesar.
- Komponen Terlepas: Permata kecil pada cincin bisa copot, atau pengait gelang bisa patah dan jatuh ke dalam tangki pengolahan tanpa disadari.
- Bahaya Tertelan: Bayangkan jika seorang konsumen menemukan batu kecil atau patahan logam di dalam biskuit yang mereka makan. Hal ini tidak hanya membahayakan keselamatan konsumen (risiko tersedak atau luka mulut), tetapi juga bisa menghancurkan reputasi pabrik dalam sekejap.
3. Reaksi Kimia yang Tidak Diinginkan (Kontaminasi Kimia)
Perhiasan sering kali terbuat dari logam seperti tembaga, nikel, atau perak yang bisa bereaksi dengan bahan makanan tertentu.
- Interaksi dengan Asam: Saat mengolah makanan yang bersifat asam (seperti jus buah atau saus tomat), logam pada perhiasan bisa mengalami korosi ringan.
- Migrasi Logam: Partikel logam yang terlarut ini dapat bermigrasi ke dalam makanan, yang dalam jangka panjang bersifat toksik bagi tubuh jika dikonsumsi terus-menerus.
4. Aspek Keselamatan Kerja (K3)
Selain menjaga keamanan pangan, larangan memakai perhiasan juga untuk melindungi mahasiswa itu sendiri.
- Terjepit Mesin: Dalam skala industri, banyak mesin yang memiliki komponen berputar (moving parts). Gelang atau jam tangan yang longgar sangat berisiko tersangkut pada mesin, yang bisa mengakibatkan cedera serius pada tangan mahasiswa.
Kedisiplinan untuk melepas perhiasan adalah langkah awal dalam membentuk karakter profesional di Jurusan Teknologi Pangan. Di Universitas Ma’soem, aturan ini ditekankan agar mahasiswa terbiasa dengan budaya kerja industri yang mengutamakan keselamatan konsumen di atas segalanya. Keamanan pangan dimulai dari hal-hal kecil yang menempel di tubuh kita sendiri.





