Pernahkah kamu menemukan sebungkus biskuit di pojok lemari atau sebotol susu di kulkas, lalu ragu untuk memakannya setelah melihat deretan angka di kemasannya? Bagi orang awam, tanggal yang tertera di label sering dianggap sebagai peringatan “mati” bahwa makanan tersebut sudah berubah jadi racun. Namun, sebagai mahasiswa, apalagi jika kamu belajar di bidang Teknologi Pangan atau Agribisnis, kamu perlu tahu kalau tidak semua tanggal punya konsekuensi yang sama.
Di kampus Universitas Ma’soem, memahami label ini bukan cuma soal teori di kelas, tapi soal standar dasar dalam menjaga keamanan konsumen sekaligus menekan angka pembuangan makanan yang sia-sia. Ada dua istilah yang sering tertukar: satu bicara tentang keselamatan nyawa, sementara yang lain bicara tentang kualitas rasa.
Expired Date: Garis Merah Keamanan Pangan
Ketika kamu melihat tulisan Expired Date (Tanggal Kedaluwarsa), anggap saja ini sebagai lampu merah yang haram diterobos. Fokus utama dari istilah ini adalah Keselamatan (Safety).
Istilah ini biasanya dipakai untuk produk-produk yang punya risiko tinggi terhadap pertumbuhan bakteri jahat. Produk seperti susu pasteurisasi, daging olahan, ikan segar, atau jus buah tanpa pengawet kuat adalah “langganan” label ini.
Setelah tanggal tersebut lewat, produk pangan ini dianggap sudah tidak layak lagi masuk ke tubuh manusia. Bakteri atau perubahan kimia di dalamnya mungkin sudah mencapai level yang bisa bikin kamu keracunan. Secara hukum, toko juga dilarang keras menjual produk yang sudah lewat batas kedaluwarsa ini. Jadi, kalau tanggalnya sudah lewat, tidak perlu ada kompromi: segera buang demi kesehatan.
Best Before: Soal Kualitas dan Kenikmatan
Berbeda dengan saudaranya, Best Before (Baik Digunakan Sebelum) fokus pada aspek Kualitas (Quality). Label ini sering kamu temukan pada produk-produk yang lebih awet dan stabil, seperti makanan kaleng, biskuit, kopi, mi instan, atau cokelat.
Maksud dari label ini adalah janji dari produsen bahwa produk tersebut akan berada dalam kondisi terbaiknya baik dari segi aroma, tekstur, maupun rasa—sebelum tanggal yang tertera. Namun, jika tanggal tersebut lewat sehari atau dua hari, bukan berarti makanannya langsung berubah jadi racun.
Produk yang melewati batas Best Before biasanya mengalami sedikit penurunan kualitas. Misalnya, biskuit jadi kurang renyah, aroma kopi tidak sekuat biasanya, atau warna saus sedikit memudar. Secara kesehatan, produk ini sebenarnya masih aman dikonsumsi selama kemasannya tidak rusak, tidak berbau aneh, dan tidak ada jamur. Memahami hal ini penting supaya kita tidak gampang membuang stok makanan yang sebenarnya masih bisa dimakan.
Kenapa Mahasiswa Perlu Paham Ini?
Sebagai calon ahli di industri pangan atau pebisnis agribisnis, nantinya kamu akan dihadapkan pada tugas berat bernama Uji Stabilitas Produk. Menentukan tanggal-tanggal ini butuh ketelitian tinggi di laboratorium. Staf Quality Control (QC) harus mensimulasikan berbagai kondisi suhu untuk melihat kapan produk mulai berubah rasa atau kapan mulai berbahaya bagi kesehatan.
Ketidaktelitian dalam menentukan tanggal punya dampak yang besar. Kalau tanggalnya dibuat terlalu cepat, perusahaan bakal rugi karena banyak barang yang harus dimusnahkan padahal masih bagus. Sebaliknya, kalau tanggalnya dibuat terlalu lama melampaui kemampuan aslinya, nyawa konsumen jadi taruhannya dan perusahaan bisa kena masalah hukum serius.
Mulai sekarang, yuk jadi konsumen yang lebih cerdas dengan teliti melihat label. Kalau tertulis Expired Date, patuhi tanpa alasan demi kesehatanmu. Tapi kalau tertulis Best Before, gunakan indra penciuman dan penglihatanmu untuk menilai apakah makanan itu benar-benar rusak atau cuma “kurang nikmat” dari biasanya. Dengan paham perbedaan ini, kita tidak cuma menjaga diri dari penyakit, tapi juga ikut mengurangi limbah makanan di lingkungan kampus.





