Pernah mendengar berita tentang petani yang terpaksa membuang hasil panennya ke jalan atau membiarkan tomat membusuk di pohon karena harganya lebih murah daripada ongkos petiknya? Fenomena ini sering terjadi saat masuk musim panen raya. Bagi mahasiswa Agribisnis maupun Teknologi Pangan, fenomena ini bukan sekadar nasib buruk, melainkan masalah klasik dalam rantai pasok dan ekonomi pertanian yang perlu kita bedah solusinya.
Di Universitas Ma’soem, kita mempelajari bahwa pertanian bukan hanya soal cara menanam, tapi juga soal bagaimana mengelola strategi pasar agar kerja keras di ladang tidak berakhir sia-sia.
Hukum Pasar yang Tidak Terhindarkan
Penyebab paling mendasar adalah hukum permintaan dan penawaran. Saat panen raya, jumlah barang yang masuk ke pasar melimpah ruah dalam waktu yang bersamaan. Karena jumlah barang jauh lebih banyak daripada jumlah pembeli, secara otomatis harga akan merosot tajam.
Masalahnya, produk pertanian seperti cabai, tomat, atau sayuran bersifat cepat rusak. Petani sering kali tidak punya pilihan selain menjual cepat dengan harga berapa pun daripada barangnya busuk dan tidak laku sama sekali. Inilah yang membuat posisi tawar petani menjadi lemah di hadapan para pengepul atau tengkulak.
Ketergantungan pada Barang Mentah
Salah satu alasan kenapa harga bisa terjun bebas adalah karena sebagian besar petani kita hanya menjual produk dalam bentuk mentah. Saat pasar segar sudah jenuh, tidak ada saluran lain untuk menyerap kelebihan hasil panen tersebut.
Di sinilah peran penting ilmu Teknologi Pangan. Jika kita memiliki industri pengolahan yang kuat, kelebihan tomat saat panen raya bisa diolah menjadi saus, pasta, atau bubuk tomat. Dengan mengubah bentuknya, masa simpan produk jadi lebih lama dan harganya tidak lagi bergantung pada fluktuasi harga pasar segar. Produk olahan ini punya nilai tambah yang jauh lebih tinggi daripada sekadar menjual buah mentah.
Rantai Distribusi yang Terlalu Panjang
Sering kali terjadi anomali: harga di tingkat petani sangat murah, tapi harga di dapur konsumen tetap mahal. Kenapa bisa begitu? Jawabannya ada pada rantai distribusi yang terlalu panjang. Produk harus melewati banyak tangan, mulai dari tengkulak desa, pengepul besar, distributor, hingga pengecer di pasar.
Tiap tingkatan ini mengambil margin keuntungan dan menambah biaya logistik. Mahasiswa Agribisnis dilatih untuk memangkas rantai ini, misalnya melalui digitalisasi pemasaran atau membangun koperasi yang bisa langsung menyuplai ke supermarket atau industri besar tanpa melalui banyak perantara.
Kurangnya Fasilitas Penyimpanan
Sebenarnya, anjloknya harga bisa diredam jika kita memiliki teknologi penyimpanan yang memadai seperti gudang pendingin. Dengan fasilitas ini, hasil panen tidak harus dijual serentak. Sebagian bisa disimpan untuk dikeluarkan saat pasokan di pasar mulai berkurang. Namun, karena biaya investasi fasilitas ini cukup besar, banyak petani kecil yang belum bisa mengaksesnya, sehingga mereka terjebak dalam siklus jual murah setiap kali panen besar tiba.
Fenomena harga anjlok saat panen raya adalah tantangan besar yang menuntut kolaborasi antara ahli Agribisnis dalam mengatur strategi pasar dan ahli Teknologi Pangan dalam menciptakan inovasi produk olahan. Sebagai mahasiswa, kita punya tugas untuk membantu menciptakan ekosistem pertanian yang lebih cerdas, sehingga panen raya yang seharusnya menjadi berkah tidak lagi berubah menjadi beban bagi para petani.





