Pembelajaran bahasa Inggris tidak lagi dipahami sebagai proses satu arah yang menempatkan guru sebagai pusat pengetahuan. Kelas bahasa modern menuntut keterlibatan aktif siswa agar bahasa target benar-benar digunakan, bukan sekadar dihafalkan. Salah satu pendekatan yang relevan untuk tujuan tersebut adalah elicitation strategy. Strategi ini menempatkan siswa sebagai sumber utama bahasa, sementara guru berperan sebagai fasilitator yang menggali, mengarahkan, dan mengembangkan respons siswa secara sistematis.
Dalam konteks Teaching English as a Foreign Language (TEFL), elicitation bukan hanya teknik bertanya, melainkan strategi pedagogis yang mendorong proses berpikir, penggunaan bahasa, serta keberanian berkomunikasi. Artikel ini membahas konsep, bentuk, manfaat, dan penerapan elicitation strategy dalam pembelajaran bahasa Inggris secara praktis dan kontekstual.
Konsep Dasar Elicitation Strategy
Elicitation strategy merupakan teknik pengajaran yang bertujuan memancing respons siswa berupa ide, kosakata, struktur kalimat, maupun pendapat tanpa memberikan jawaban secara langsung. Guru tidak menyajikan informasi di awal, tetapi membimbing siswa untuk menemukannya sendiri melalui pertanyaan, stimulus visual, situasi, atau konteks tertentu.
Strategi ini berangkat dari asumsi bahwa siswa telah memiliki pengetahuan awal (prior knowledge) yang dapat dikembangkan. Saat guru menggali pengetahuan tersebut, siswa merasa dihargai dan lebih terlibat secara kognitif maupun emosional. Proses belajar pun berubah menjadi aktivitas aktif, bukan pasif.
Dalam pembelajaran bahasa, elicitation sangat penting karena bahasa hanya berkembang melalui penggunaan. Siswa yang diberi ruang untuk mencoba, salah, dan memperbaiki diri akan lebih cepat membangun kompetensi komunikatif.
Bentuk-Bentuk Elicitation dalam Teaching English
Elicitation strategy dapat diterapkan dalam berbagai bentuk sesuai tujuan pembelajaran. Beberapa bentuk yang umum digunakan di kelas bahasa Inggris antara lain:
1. Elicitation melalui Pertanyaan
Guru mengajukan pertanyaan terbuka yang mendorong siswa berpikir dan menjawab menggunakan bahasa Inggris. Pertanyaan seperti “What do you think…?” atau “How would you describe…?” memicu penggunaan struktur bahasa secara alami.
2. Elicitation melalui Gambar dan Media Visual
Gambar, ilustrasi, atau foto sering digunakan untuk memancing kosakata dan deskripsi. Siswa diminta menyebutkan apa yang mereka lihat, rasakan, atau tafsirkan. Media visual sangat efektif untuk siswa tingkat dasar hingga menengah.
3. Elicitation melalui Situasi atau Konteks
Guru menciptakan situasi tertentu, misalnya percakapan di restoran atau bandara. Dari situ, siswa diminta menebak ungkapan, kosakata, atau respons yang sesuai. Strategi ini mendekatkan pembelajaran pada konteks kehidupan nyata.
4. Elicitation melalui Isyarat dan Gestur
Ekspresi wajah, gerakan tangan, atau intonasi suara juga dapat digunakan untuk menggali respons bahasa siswa, terutama ketika memperkenalkan kosakata baru tanpa terjemahan langsung.
Manfaat Elicitation Strategy bagi Siswa
Penggunaan elicitation strategy memberikan sejumlah manfaat signifikan dalam pembelajaran bahasa Inggris. Pertama, strategi ini meningkatkan partisipasi siswa karena mereka merasa dilibatkan sejak awal proses belajar. Kelas menjadi lebih hidup dan interaktif.
Kedua, elicitation membantu siswa mengembangkan kepercayaan diri. Kesempatan untuk mengemukakan ide sendiri, meskipun belum sempurna, membuat siswa lebih berani menggunakan bahasa Inggris secara lisan.
Ketiga, strategi ini melatih kemampuan berpikir kritis. Siswa tidak sekadar menerima informasi, tetapi menganalisis, menafsirkan, dan menyusun jawaban berdasarkan pemahaman mereka.
Keempat, guru dapat mengidentifikasi tingkat kemampuan dan kesalahan umum siswa secara langsung. Informasi ini sangat berguna untuk menentukan tindak lanjut pembelajaran.
Peran Guru dalam Penerapan Elicitation Strategy
Keberhasilan elicitation strategy sangat bergantung pada peran guru. Guru perlu merancang pertanyaan yang jelas, kontekstual, dan sesuai tingkat kemampuan siswa. Pertanyaan yang terlalu sulit justru dapat menghambat partisipasi.
Guru juga perlu menciptakan suasana kelas yang aman dan suportif. Kesalahan bahasa seharusnya dipandang sebagai bagian alami dari proses belajar. Respons guru yang positif akan mendorong siswa terus mencoba.
Selain itu, guru perlu mengelola waktu dan alur diskusi agar elicitation tidak melebar tanpa arah. Respons siswa harus diarahkan menuju tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
Tantangan dalam Menggunakan Elicitation Strategy
Meskipun memiliki banyak keunggulan, elicitation strategy juga menghadapi sejumlah tantangan. Tidak semua siswa terbiasa berbicara aktif, terutama dalam konteks bahasa asing. Beberapa siswa cenderung pasif atau takut salah.
Keterbatasan kosakata juga dapat menghambat respons siswa. Dalam situasi ini, guru perlu memberikan scaffolding berupa petunjuk tambahan, pilihan jawaban, atau contoh sederhana tanpa langsung memberikan jawaban utama.
Pengelolaan kelas menjadi tantangan tersendiri, terutama pada kelas besar. Guru perlu memastikan bahwa elicitation melibatkan lebih dari satu atau dua siswa agar pembelajaran tetap inklusif.
Relevansi Elicitation Strategy dalam Pendidikan Calon Guru
Bagi mahasiswa pendidikan bahasa Inggris, pemahaman terhadap elicitation strategy menjadi kompetensi penting. Strategi ini sering diterapkan dalam kegiatan microteaching, praktik mengajar, maupun penelitian pembelajaran bahasa.
Di lingkungan pendidikan keguruan seperti Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Ma’soem University, pendekatan pembelajaran aktif menjadi bagian dari pengembangan profesional calon guru. Mahasiswa tidak hanya dituntut menguasai materi bahasa, tetapi juga strategi mengajar yang mendorong interaksi dan kemandirian belajar siswa.
Penguasaan elicitation strategy membantu calon guru membangun kelas yang komunikatif dan responsif terhadap kebutuhan siswa. Strategi ini juga relevan untuk berbagai jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi.
Elicitation strategy merupakan pendekatan efektif dalam Teaching English yang menempatkan siswa sebagai subjek aktif pembelajaran. Melalui teknik menggali respons, ide, dan bahasa siswa, proses belajar menjadi lebih bermakna dan komunikatif.





