Teacher Interactional Scaffolding dalam Teaching English: Membangun Pembelajaran Bahasa yang Bermakna dan Responsif

Pembelajaran bahasa Inggris tidak hanya berkaitan dengan penguasaan kosakata dan tata bahasa, tetapi juga proses interaksi yang terjadi di dalam kelas. Interaksi antara guru dan peserta didik menjadi ruang utama tempat bahasa digunakan, dinegosiasikan, dan dipahami. Dalam konteks ini, konsep teacher interactional scaffolding memegang peran penting karena menempatkan guru sebagai fasilitator yang secara aktif mendukung perkembangan kemampuan berbahasa siswa melalui interaksi yang terarah dan adaptif.

Scaffolding interaksional menekankan bantuan sementara yang diberikan guru saat siswa menghadapi kesulitan berbahasa. Bantuan tersebut tidak bersifat permanen, melainkan dikurangi secara bertahap seiring meningkatnya kompetensi siswa. Pendekatan ini relevan diterapkan dalam pengajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing (EFL), khususnya di konteks pendidikan Indonesia yang memiliki keragaman latar belakang linguistik peserta didik.

Konsep Dasar Teacher Interactional Scaffolding

Istilah scaffolding berasal dari teori sosiokultural yang menekankan pentingnya interaksi sosial dalam proses belajar. Dalam pembelajaran bahasa, scaffolding tidak hanya berupa penjelasan materi, tetapi muncul melalui dialog, pertanyaan, klarifikasi, serta umpan balik yang diberikan guru selama proses belajar berlangsung.

Teacher interactional scaffolding berfokus pada bagaimana guru menyesuaikan bahasa, strategi, dan respons terhadap kebutuhan siswa secara real time. Misalnya, guru dapat menyederhanakan pertanyaan, mengulang pernyataan siswa, atau memberikan petunjuk tambahan ketika siswa menunjukkan tanda kebingungan. Praktik ini membantu siswa tetap terlibat dalam interaksi tanpa merasa tertekan atau gagal.

Bentuk-bentuk Scaffolding Interaksional di Kelas Bahasa Inggris

Scaffolding interaksional dapat muncul dalam berbagai bentuk yang sering kali berlangsung secara alami di kelas. Salah satu bentuk yang umum ialah elicitation, yaitu upaya guru menggali jawaban siswa melalui pertanyaan terbuka atau petunjuk bertahap. Strategi ini mendorong siswa berpikir dan berpartisipasi aktif tanpa langsung diberi jawaban akhir.

Bentuk lain terlihat melalui recasting, ketika guru mengulang ucapan siswa yang kurang tepat lalu memperbaikinya secara implisit. Cara ini efektif karena tidak mematahkan kepercayaan diri siswa, tetapi tetap memberikan model bahasa yang benar. Selain itu, penggunaan wait time juga menjadi bagian dari scaffolding interaksional. Waktu jeda memberi kesempatan siswa memproses informasi dan merumuskan respons secara mandiri.

Peran Interaksi Guru dalam Meningkatkan Kompetensi Berbahasa

Interaksi yang terstruktur dan suportif membantu siswa mengembangkan kompetensi linguistik dan komunikatif secara bersamaan. Saat guru menggunakan scaffolding interaksional, siswa tidak hanya belajar tentang bentuk bahasa, tetapi juga cara menggunakan bahasa tersebut dalam konteks yang bermakna.

Proses ini menciptakan lingkungan belajar yang aman untuk mencoba, membuat kesalahan, dan belajar dari kesalahan tersebut. Interaksi yang positif memperkuat kepercayaan diri siswa dalam menggunakan bahasa Inggris, terutama bagi pembelajar yang masih berada pada tingkat dasar atau menengah. Secara tidak langsung, scaffolding interaksional juga membangun kebiasaan berpikir kritis dan reflektif dalam penggunaan bahasa.

Teacher Interactional Scaffolding dalam Konteks EFL Indonesia

Konteks pembelajaran bahasa Inggris di Indonesia memiliki tantangan tersendiri, seperti keterbatasan paparan bahasa target di luar kelas dan kecenderungan penggunaan bahasa ibu saat interaksi berlangsung. Dalam situasi ini, scaffolding interaksional menjadi strategi yang relevan karena memungkinkan guru menjembatani kesenjangan antara bahasa yang sudah dikuasai siswa dan bahasa target yang sedang dipelajari.

Guru dapat memanfaatkan code-switching secara terkontrol sebagai bagian dari scaffolding, terutama untuk memastikan pemahaman konsep. Selain itu, penyesuaian tingkat bahasa guru saat berbicara di kelas membantu siswa mengikuti alur pembelajaran tanpa kehilangan konteks. Pendekatan ini menekankan kebermaknaan komunikasi, bukan sekadar ketepatan struktur bahasa.

Implikasi bagi Calon Guru Bahasa Inggris

Pemahaman terhadap teacher interactional scaffolding penting bagi calon guru bahasa Inggris, khususnya yang sedang menempuh pendidikan di fakultas keguruan. Kompetensi pedagogis tidak hanya diukur dari kemampuan menyusun rencana pembelajaran, tetapi juga dari kepekaan guru dalam merespons kebutuhan siswa selama interaksi kelas.

Program pendidikan guru perlu membekali mahasiswa dengan keterampilan reflektif agar mampu mengevaluasi praktik interaksi mereka sendiri. Observasi kelas, microteaching, dan diskusi reflektif dapat menjadi sarana efektif untuk melatih penggunaan scaffolding interaksional secara sadar dan terencana.

Dalam konteks ini, lembaga pendidikan seperti Ma’soem University melalui program FKIP memiliki peran strategis dalam menyiapkan calon guru yang adaptif terhadap dinamika kelas bahasa. Pembekalan teori pedagogi yang dipadukan dengan praktik mengajar membantu mahasiswa memahami bahwa interaksi kelas bukan sekadar aktivitas rutin, melainkan ruang pembelajaran yang kaya makna.

Tantangan dan Peluang Implementasi di Kelas

Meskipun konsep scaffolding interaksional menawarkan banyak manfaat, penerapannya tidak lepas dari tantangan. Ukuran kelas yang besar, keterbatasan waktu, serta tuntutan kurikulum sering kali membuat guru fokus pada penyampaian materi. Situasi ini berpotensi mengurangi kualitas interaksi yang terjadi di kelas.

Namun, peluang tetap terbuka apabila guru mampu merancang aktivitas yang mendorong partisipasi aktif siswa. Diskusi kelompok kecil, tanya jawab berbasis masalah, dan simulasi percakapan menjadi contoh kegiatan yang mendukung terjadinya scaffolding interaksional secara alami. Kesadaran guru terhadap pentingnya interaksi menjadi kunci utama keberhasilan pendekatan ini.

Teacher interactional scaffolding merupakan elemen penting dalam teaching English karena menempatkan interaksi sebagai inti proses belajar bahasa. Melalui bantuan yang bersifat sementara dan adaptif, guru membantu siswa bergerak dari ketergantungan menuju kemandirian berbahasa. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan kemampuan linguistik, tetapi juga membangun kepercayaan diri dan keterampilan komunikasi siswa.