Mahasiswa Teknologi Pangan Wajib Tahu: Menelusuri Asal Mula Teknologi Pangan

Bagi mahasiswa baru maupun mereka yang sedang menempuh studi di jurusan Teknologi Pangan, memahami sejarah bidang ini bukan sekadar urusan menghafal tahun dan nama tokoh. Sejarah teknologi pangan adalah cerita tentang bagaimana manusia bertahan hidup, berinovasi, dan menaklukkan tantangan alam demi menjaga ketersediaan energi bagi peradaban.

Di Universitas Ma’soem, pemahaman akan asal-usul ini menjadi pijakan dasar bagi mahasiswa agar mereka menghargai setiap proses pengolahan makanan yang ada saat ini. Dari teknik pengawetan kuno hingga bioteknologi modern, mari kita bedah bagaimana teknologi pangan lahir dan berkembang.


Era Kuno: Inovasi yang Lahir dari Kebutuhan

Asal mula teknologi pangan sebenarnya sudah ada sejak manusia pertama kali mengenal cara mengolah makanan untuk disimpan. Ribuan tahun lalu, nenek moyang kita menyadari bahwa makanan tidak bisa bertahan lama di suhu ruang. Hal ini mendorong lahirnya teknik-teknik pengawetan tradisional yang masih kita kenal hingga sekarang:

  • Pengeringan: Manusia purba menggunakan sinar matahari untuk menghilangkan kadar air pada daging dan buah agar tidak mudah busuk.
  • Penggaraman dan Pengasapan: Bangsa pelaut dan pengembara menggunakan garam dan asap untuk menghambat pertumbuhan mikroba pada ikan dan daging.
  • Fermentasi: Secara tidak sengaja, bangsa Mesir kuno dan masyarakat di Asia menemukan bahwa mikroba tertentu bisa mengubah bahan pangan menjadi lebih awet dan nikmat, seperti roti, bir, dan tempe.

Pada tahap ini, teknologi pangan masih bersifat empiris—berdasarkan pengalaman dan percobaan tanpa memahami alasan ilmiah di baliknya.

Revolusi Nicolas Appert dan Era Sterilisasi

Titik balik terbesar sejarah teknologi pangan terjadi pada awal abad ke-19 di Prancis. Nicolas Appert, yang kini dikenal sebagai Bapak Teknologi Pangan, menjawab tantangan Napoleon Bonaparte yang membutuhkan cara mengawetkan makanan untuk tentaranya yang sedang berperang.

Appert menemukan bahwa jika makanan dimasukkan ke dalam wadah kedap udara (botol kaca saat itu) dan dipanaskan dalam air mendidih, makanan tersebut tidak akan basi. Penemuan ini merupakan tonggak lahirnya Teknologi Pengalengan. Meski saat itu Appert belum tahu mengapa cara tersebut berhasil, ia telah meletakkan dasar bagi ilmu keamanan pangan modern.

Louis Pasteur dan Penjelasan Ilmiah

Beberapa dekade kemudian, barulah misteri di balik penemuan Appert terpecahkan oleh Louis Pasteur. Melalui penelitiannya, Pasteur membuktikan bahwa pembusukan disebabkan oleh mikroorganisme yang ada di udara. Ia memperkenalkan teknik Pasteurisasi, yaitu pemanasan suhu tertentu untuk membunuh bakteri merugikan tanpa merusak kualitas bahan pangan (seperti susu). Sejak saat itu, teknologi pangan resmi menjadi disiplin ilmu sains yang berbasis laboratorium.


Mempelajari Sains Masa Depan di Universitas Ma’soem

Memahami sejarah panjang tersebut memberikan perspektif bagi mahasiswa bahwa teknologi pangan adalah ilmu yang terus berevolusi. Di Universitas Ma’soem, semangat inovasi para pionir seperti Appert dan Pasteur ini diteruskan melalui kurikulum yang modern dan adaptif.

Terletak di kawasan yang menjadi jantung pendidikan di wilayah Jatinangor-Sumedang, Universitas Ma’soem menawarkan program studi Teknologi Pangan yang fokus pada kebutuhan industri masa kini. Mengapa Universitas Ma’soem menjadi tempat yang tepat bagi calon ahli pangan?

  1. Laboratorium yang Mendukung Riset: Mahasiswa diajak untuk mempraktikkan langsung ilmu pengolahan pangan, mulai dari teknik sterilisasi klasik hingga penggunaan alat modern untuk menganalisis kandungan kimia dan mikrobiologi produk.
  2. Fokus pada Ketahanan Pangan Lokal: Terinspirasi dari sejarah pengolahan tradisional, Universitas Ma’soem mendorong mahasiswa untuk meneliti komoditas lokal seperti umbi-umbian dan hasil tani Jawa Barat untuk diolah menjadi pangan fungsional yang bernilai ekonomi tinggi.
  3. Jiwa Kewirausahaan (Foodpreneur): Universitas Ma’soem tidak hanya mencetak karyawan pabrik. Mahasiswa dibekali kemampuan manajemen bisnis agar mereka bisa menciptakan “sejarah” mereka sendiri dengan membangun merek pangan inovatif yang aman dan legal.
  4. Karakter yang Santun dan Profesional: Selain ilmu pengetahuan, Universitas Ma’soem sangat menekankan pada pembentukan akhlakul karimah. Seorang ahli pangan harus jujur dalam menjaga kualitas produknya karena menyangkut kesehatan masyarakat luas.

Sejarah teknologi pangan mengajarkan kita bahwa setiap kemudahan yang kita rasakan saat ini seperti mengonsumsi makanan kemasan yang praktis—adalah hasil dari riset panjang selama berabad-abad. Sebagai mahasiswa Teknologi Pangan, Anda adalah penerus estafet inovasi ini.

Di Universitas Ma’soem, Anda akan dibimbing untuk memahami masa lalu, menguasai teknologi masa kini, dan merancang sistem pangan masa depan yang lebih sehat dan berkelanjutan. Dengan bekal ilmu yang mumpuni dan suasana kampus yang mendukung, masa depan cerdas Anda di industri pangan dimulai dari sini.