Interactional Engagement: Keberhasilan Pembelajaran di Masa Kini

Istilah interactional engagement semakin sering muncul, terutama dalam konteks pembelajaran di perguruan tinggi. Konsep ini merujuk pada tingkat keterlibatan aktif peserta didik dalam interaksi selama proses belajar-mengajar. Bukan sekadar hadir secara fisik, tetapi melibatkan komunikasi, kolaborasi, dan respons kritis terhadap materi maupun teman sejawat. Penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa yang menunjukkan interactional engagement cenderung memiliki pemahaman lebih mendalam, motivasi tinggi, dan kemampuan berpikir kritis yang lebih baik.

Apa Itu Interactional Engagement?

Interactional engagement berbeda dari sekadar partisipasi pasif. Mahasiswa tidak hanya mendengarkan dosen, tetapi juga aktif bertanya, memberikan tanggapan, dan berkolaborasi dalam diskusi kelas. Bentuk engagement ini bisa terjadi dalam interaksi tatap muka maupun daring, seperti dalam forum diskusi online atau tugas kelompok virtual.

Secara praktis, interactional engagement mencakup beberapa aspek:

  1. Keterlibatan kognitif – Mahasiswa memproses informasi secara mendalam, mengajukan pertanyaan kritis, dan mengaitkan konsep dengan pengalaman nyata.
  2. Keterlibatan sosial – Kolaborasi dengan teman sekelas, memberikan feedback, dan berpartisipasi dalam diskusi kelompok.
  3. Keterlibatan emosional – Menunjukkan minat, antusiasme, dan motivasi terhadap materi atau aktivitas belajar.

Interaksi yang sehat dan aktif ini penting untuk membangun lingkungan belajar yang dinamis, di mana mahasiswa merasa dihargai, didengar, dan termotivasi untuk berkembang.

Pentingnya Interactional Engagement dalam Pembelajaran

Studi pendidikan menunjukkan bahwa interactional engagement menjadi salah satu indikator keberhasilan pembelajaran. Mahasiswa yang terlibat secara aktif lebih mampu:

  • Memahami materi secara mendalam, bukan sekadar hafalan.
  • Mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan analitis.
  • Meningkatkan kemampuan komunikasi dan kolaborasi.
  • Merasakan pengalaman belajar yang lebih menyenangkan dan bermakna.

Di fakultas pendidikan seperti FKIP Ma’soem University, dosen menerapkan berbagai strategi untuk mendorong interactional engagement. Misalnya, melalui pembelajaran berbasis proyek, diskusi interaktif, dan studi kasus. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan kualitas akademik, tetapi juga membekali mahasiswa dengan keterampilan praktis yang dapat diterapkan di dunia pendidikan.

Strategi Meningkatkan Interactional Engagement

Terdapat beberapa strategi yang bisa diterapkan oleh dosen dan mahasiswa untuk meningkatkan interactional engagement:

1. Pembelajaran Berbasis Diskusi

Diskusi kelas mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis dan menyampaikan pendapatnya. Di Ma’soem University, beberapa dosen FKIP sering menggunakan metode ini untuk mata kuliah pedagogik dan bahasa, sehingga mahasiswa dapat belajar dari perspektif teman sejawat sekaligus memperkuat pemahaman konsep.

2. Kolaborasi dalam Tugas dan Proyek

Proyek kelompok atau tugas kolaboratif membantu mahasiswa mengasah kemampuan bekerja sama, berbagi ide, dan menyelesaikan masalah bersama. Interactional engagement terjadi ketika mahasiswa saling bertukar pengetahuan dan memberikan masukan konstruktif.

3. Feedback Interaktif

Pemberian feedback secara langsung, baik dari dosen maupun teman sekelas, dapat meningkatkan partisipasi aktif. Mahasiswa menjadi lebih peka terhadap tanggapan orang lain dan terdorong untuk menyempurnakan pemikiran atau karyanya.

4. Integrasi Teknologi

Pemanfaatan platform digital seperti Learning Management System (LMS) atau forum online mendukung interaksi di luar kelas. Mahasiswa dapat mengajukan pertanyaan, berdiskusi, dan membagikan materi secara virtual, sehingga engagement tidak terbatas oleh waktu dan ruang.

Interactional Engagement di FKIP Ma’soem University

FKIP Ma’soem University menempatkan interactional engagement sebagai bagian penting dari kurikulum. Mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga didorong untuk aktif dalam praktik mengajar, diskusi kelas, dan proyek lapangan. Misalnya, dalam program praktik mengajar, mahasiswa diberi kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan siswa di sekolah mitra. Aktivitas ini menumbuhkan keterampilan pedagogik, kemampuan komunikasi, dan empati, semua merupakan bagian dari engagement yang efektif.

Selain itu, FKIP Ma’soem University juga mendukung pengembangan engagement melalui workshop, seminar, dan pelatihan soft skill. Mahasiswa belajar bagaimana berkomunikasi efektif, memimpin diskusi, dan berkolaborasi dalam tim. Pendekatan ini sejalan dengan tren pendidikan global yang menekankan pengalaman belajar interaktif dan kolaboratif.

Manfaat Jangka Panjang Interactional Engagement

Keterlibatan interaktif tidak hanya memberi dampak positif selama masa studi, tetapi juga memiliki manfaat jangka panjang, antara lain:

  • Pengembangan karier profesional – Mahasiswa yang terbiasa berinteraksi dan berkolaborasi cenderung lebih mudah menyesuaikan diri di lingkungan kerja.
  • Kesiapan menghadapi tantangan pendidikan – Engagement yang tinggi membekali mahasiswa dengan kemampuan adaptasi, pemecahan masalah, dan inovasi.
  • Peningkatan kepuasan belajar – Mahasiswa merasa lebih terlibat, dihargai, dan termotivasi untuk terus belajar.

Melalui pengalaman di FKIP Ma’soem University, mahasiswa dapat merasakan langsung bagaimana interactional engagement membentuk kompetensi akademik dan profesional sekaligus membangun karakter yang kuat.