Memuji siswa adalah bagian penting dari proses pembelajaran. Namun, pujian yang berlebihan justru dapat menurunkan motivasi dan membuat siswa tergantung pada pengakuan guru. Menemukan keseimbangan dalam memuji siswa menjadi keterampilan yang harus dikuasai setiap pendidik, termasuk di lingkungan pendidikan tinggi seperti FKIP Ma’soem University. Artikel ini membahas cara memuji siswa secara tepat, efektif, dan tetap memotivasi.
Pentingnya Pujian yang Tepat
Pujian yang tepat dapat meningkatkan kepercayaan diri siswa dan memacu mereka untuk belajar lebih giat. Sebaliknya, pujian yang berlebihan atau tidak spesifik justru bisa menimbulkan efek negatif. Siswa mungkin hanya bekerja untuk mendapatkan pujian, bukan untuk memahami materi atau mengembangkan keterampilan.
Di FKIP Ma’soem University, mahasiswa calon guru diajarkan tentang psikologi pendidikan, termasuk bagaimana memberikan umpan balik yang konstruktif. Keterampilan ini penting untuk menumbuhkan budaya belajar yang sehat sejak dini, sehingga siswa tidak hanya termotivasi oleh kata-kata manis, tetapi juga oleh proses belajar itu sendiri.
Pahami Karakter dan Kebutuhan Siswa
Setiap siswa memiliki karakter yang berbeda. Ada yang lebih sensitif terhadap pujian, ada yang lebih membutuhkan arahan praktis. Memahami kepribadian siswa menjadi langkah pertama agar pujian tidak terdengar berlebihan atau tidak tulus.
Tips Praktis:
- Amati progres individu – Catat pencapaian spesifik siswa, bukan hanya hasil akhir.
- Kenali kebutuhan motivasi – Beberapa siswa lebih termotivasi oleh pengakuan di depan teman, sedangkan yang lain lebih menghargai komentar pribadi.
- Sesuaikan bahasa – Gunakan kata-kata yang sederhana dan tulus sesuai tingkat pemahaman siswa.
Fokus pada Proses, Bukan Hanya Hasil
Pujian yang menekankan proses lebih efektif daripada pujian yang hanya menilai hasil. Misalnya, daripada mengatakan “Kamu pintar sekali!”, guru bisa mengatakan, “Aku melihat kamu benar-benar berusaha memahami soal ini, kerjamu bagus!”
Metode ini mengajarkan siswa bahwa usaha dan konsistensi lebih penting daripada sekadar nilai atau prestasi. Hal ini juga membantu membangun mental yang tangguh dan kemampuan problem solving, kemampuan yang sangat dihargai di FKIP Ma’soem University dan dalam pendidikan modern secara umum.
Gunakan Pujian yang Spesifik
Pujian umum seperti “Bagus sekali!” terdengar dangkal jika digunakan terus-menerus. Sebaiknya, fokuskan pujian pada tindakan atau pencapaian tertentu.
Contoh Pujian Spesifik:
- “Aku suka cara kamu menyelesaikan tugas matematika ini, setiap langkah dijelaskan dengan rapi.”
- “Presentasimu tadi jelas dan terstruktur, teman-teman bisa mengikutinya dengan mudah.”
- “Kamu berhasil memperbaiki kesalahan sebelumnya, usaha itu patut diapresiasi.”
Dengan memuji aspek konkret, siswa lebih mudah memahami apa yang diharapkan dan belajar untuk mengulang perilaku positif tersebut.
Jangan Berlebihan atau Terlalu Sering
Memberikan pujian secara berlebihan dapat menurunkan nilai pujian itu sendiri. Siswa bisa kehilangan arti pujian dan menganggap semua usaha mereka selalu benar.
Strategi Agar Pujian Tidak Berlebihan:
- Berikan pujian hanya saat memang layak – Fokus pada usaha, progres, atau kreativitas yang nyata.
- Gabungkan dengan kritik membangun – Misalnya, setelah memuji, tambahkan saran untuk pengembangan.
- Gunakan variasi bentuk pujian – Pujian verbal, catatan tertulis, atau simbol penghargaan dapat diganti-ganti agar tidak monoton.
FKIP Ma’soem University mengajarkan calon guru untuk memahami psikologi pemberian umpan balik seperti ini, agar siswa belajar secara seimbang antara apresiasi dan evaluasi.
Pujian Tidak Harus Selalu Diucapkan Lisan
Selain ucapan, pujian bisa disampaikan melalui media lain. Hal ini membantu siswa yang malu menerima pujian di depan umum atau yang lebih nyaman dengan pengakuan tertulis.
Contohnya:
- Menulis catatan pendek di buku tugas siswa.
- Memberikan stiker atau simbol penghargaan kecil.
- Mencatat progres di papan prestasi kelas.
Strategi ini menjaga keseimbangan antara motivasi dan rasa percaya diri siswa, tanpa menimbulkan ketergantungan terhadap pengakuan verbal.
Mengajarkan Siswa untuk Mengapresiasi Diri Sendiri
Memberikan pujian juga harus seimbang dengan mengajarkan siswa menghargai diri sendiri. Guru bisa mendorong refleksi diri, misalnya dengan meminta siswa menulis pencapaian harian atau mingguan mereka.
Kegiatan ini:
- Membantu siswa mengenali kemampuan dan kekurangan mereka.
- Mengurangi ketergantungan pada pujian guru.
- Mendorong motivasi internal, yang lebih berkelanjutan dibanding motivasi eksternal.
Di FKIP Ma’soem University, mahasiswa calon guru juga didorong memahami konsep ini agar mampu membimbing murid di sekolah dasar maupun menengah dengan pendekatan psikologis yang sehat.
Kesimpulan
Memuji siswa adalah seni yang membutuhkan keseimbangan antara apresiasi dan realitas. Pujian yang tepat harus:
- Fokus pada usaha dan proses, bukan hanya hasil.
- Spesifik dan tulus, bukan sekadar kata manis.
- Tidak berlebihan atau terlalu sering.
- Bisa disampaikan melalui cara verbal maupun nonverbal.
- Dikombinasikan dengan pengajaran apresiasi diri siswa.
Strategi-strategi ini membantu membangun motivasi yang sehat, kepercayaan diri, dan kemampuan belajar yang berkelanjutan. Penerapan prinsip ini, yang juga diajarkan di FKIP Ma’soem University, membekali calon guru untuk menciptakan lingkungan belajar yang positif dan produktif.





