Kurikulum Merdeka telah menjadi sorotan utama dunia pendidikan di Indonesia karena menawarkan pendekatan belajar yang lebih fleksibel dan menekankan pengembangan kompetensi siswa secara menyeluruh. Banyak guru, orang tua, dan calon pendidik bertanya, “Ada berapa fase di Kurikulum Merdeka kelas 1-12?” Artikel ini akan membahas secara lengkap jumlah fase, tujuan pembentukan fase, dan relevansinya dengan praktik pendidikan di lapangan, termasuk perspektif pendidikan di FKIP Ma’soem University.
Kurikulum Merdeka: Konsep Dasar
Kurikulum Merdeka dirancang untuk memberi kebebasan pada guru dan sekolah dalam menyesuaikan proses belajar sesuai kebutuhan siswa. Fokus utama kurikulum ini adalah penguatan kompetensi inti, pengembangan karakter, dan pemahaman konsep yang mendalam. Dalam konteks kelas 1-12, kurikulum ini dibagi ke dalam beberapa fase agar setiap tahapan perkembangan siswa dapat ditangani secara spesifik.
Pembagian fase ini bukan sekadar administratif, tetapi bertujuan agar guru dapat merancang materi ajar, metode pembelajaran, dan asesmen yang tepat sesuai tingkat kemampuan dan psikologi siswa.
Ada Berapa Fase di Kurikulum Merdeka Kelas 1-12?
Secara umum, Kurikulum Merdeka untuk kelas 1-12 dibagi menjadi enam fase, yakni fase A hingga F. Setiap fase mewakili kelompok kelas tertentu dan menyesuaikan karakteristik perkembangan siswa:
- Fase A: Kelas 1 – 2 SD
- Fase B: Kelas 3 – 4 SD
- Fase C: Kelas 5 – 6 SD
- Fase D: Kelas 7 – 8 SMP
- Fase E: Kelas 9 – 10 SMA
- Fase F: Kelas 11 – 12 SMA/SMK
Pembagian ini didasarkan pada prinsip perkembangan kognitif, sosial, dan emosional siswa, sehingga materi yang diberikan tetap relevan dan menantang, tanpa membuat siswa terbebani atau kehilangan minat belajar.
Mengapa Dibentuk Fase-Fase Tersebut?
Pembentukan fase pada Kurikulum Merdeka bukan sekadar pembagian kelas. Ada alasan mendasar yang mendasari keputusan ini:
1. Menyesuaikan Perkembangan Kognitif
Setiap fase dirancang sesuai dengan kemampuan berpikir dan pemahaman siswa. Misalnya, fase A fokus pada pengenalan literasi dasar, numerasi, dan keterampilan sosial sederhana. Di sisi lain, fase E dan F menekankan analisis kompleks, keterampilan berpikir kritis, dan persiapan menghadapi dunia kerja atau pendidikan tinggi.
2. Memberikan Fleksibilitas Guru
Dengan adanya fase, guru dapat merancang strategi pembelajaran yang spesifik untuk setiap kelompok umur. Misalnya, guru kelas 1-2 lebih banyak menggunakan metode bermain sambil belajar, sedangkan guru kelas 11-12 fokus pada proyek, penelitian, dan persiapan ujian nasional.
3. Mempermudah Asesmen dan Evaluasi
Fase membantu guru mengukur capaian belajar siswa secara bertahap. Asesmen di fase awal lebih menekankan kemampuan dasar, sedangkan fase lanjut menilai keterampilan berpikir kritis, kolaborasi, dan kompetensi profesional.
4. Mendukung Perencanaan Karier dan Studi Lanjutan
Bagi siswa SMA, fase E dan F membantu mereka mengidentifikasi minat akademik atau vokasi. Hal ini sangat relevan bagi mahasiswa FKIP Ma’soem University yang akan belajar tentang perencanaan pembelajaran, manajemen kelas, dan metode asesmen berbasis kompetensi.
Implementasi Fase Kurikulum Merdeka di Sekolah
Praktik di kelas menekankan pengalaman belajar yang interaktif. Misalnya, guru di fase C dapat menggabungkan proyek sains sederhana dan literasi membaca. Sementara di fase D, guru mulai mengenalkan metode diskusi, pemecahan masalah, dan kolaborasi antar siswa.
FKIP Ma’soem University sebagai lembaga pendidikan tinggi yang menyiapkan calon guru memfasilitasi mahasiswa untuk memahami fase-fase ini melalui praktik microteaching, observasi kelas, dan studi kasus kurikulum. Dengan pemahaman yang mendalam tentang fase, calon guru lebih siap menghadapi tantangan nyata di sekolah.
Hubungan Kurikulum Merdeka dan Pendidikan Guru di FKIP Ma’soem University
FKIP Ma’soem University tidak hanya menekankan teori, tetapi juga praktik langsung dalam memahami kurikulum. Mahasiswa jurusan pendidikan diberikan kesempatan untuk:
- Mengobservasi implementasi fase A sampai F di sekolah mitra.
- Melakukan microteaching sesuai fase yang berbeda, menyesuaikan materi dan metode pembelajaran.
- Menganalisis efektivitas fase dalam meningkatkan kompetensi siswa.
Dengan pendekatan ini, mahasiswa tidak hanya memahami konsep Kurikulum Merdeka secara teoritis, tetapi juga menguasai strategi adaptif sesuai perkembangan siswa.
Tips Guru dalam Mengelola Fase Kurikulum Merdeka
Agar pembelajaran optimal, guru dapat menerapkan beberapa tips berikut:
- Kenali karakteristik siswa di setiap fase: Fokus pada kemampuan, minat, dan kebutuhan psikologis.
- Gunakan metode belajar yang bervariasi: Bermain, proyek, diskusi, hingga simulasi sesuai fase.
- Integrasikan asesmen formatif dan sumatif: Memberi umpan balik yang konstruktif untuk mendukung perkembangan siswa.
- Kolaborasi antar guru: Guru dapat berbagi strategi efektif untuk setiap fase agar implementasi kurikulum lebih konsisten.
Mahasiswa FKIP Ma’soem University yang akan menjadi guru dapat belajar langsung dari pengalaman ini untuk mengasah kemampuan profesional mereka.





