Pendidikan tinggi keguruan menghadapi tantangan dalam menyiapkan mahasiswa yang siap terjun ke dunia mengajar. Di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Ma’soem University, mahasiswa tidak hanya dibekali teori, tetapi juga praktik mengajar yang menekankan metode pembelajaran aktif. Salah satu strategi yang efektif digunakan dalam praktik mengajar adalah Model Cooperative Learning.
Pengertian Model Cooperative Learning
Model Cooperative Learning adalah pendekatan pembelajaran di mana siswa bekerja secara kelompok untuk mencapai tujuan bersama. Setiap anggota kelompok memiliki tanggung jawab tidak hanya terhadap belajar mereka sendiri, tetapi juga terhadap keberhasilan kelompok. Model ini menekankan interaksi positif, tanggung jawab individu, dan keterampilan sosial.
Dalam konteks mahasiswa FKIP, penerapan model ini menjadi sarana penting untuk memahami dinamika kelas. Mahasiswa belajar bagaimana mengelola kelompok, membimbing siswa dalam diskusi, dan memastikan semua peserta aktif berpartisipasi.
Manfaat Cooperative Learning bagi Mahasiswa FKIP
Praktik mengajar di FKIP Ma’soem University tidak hanya fokus pada transfer pengetahuan, tetapi juga pengembangan keterampilan profesional. Berikut beberapa manfaat penerapan cooperative learning:
- Meningkatkan Keterampilan Sosial dan Komunikasi
Mahasiswa belajar menyampaikan ide, mendengarkan pendapat teman, dan memfasilitasi diskusi kelompok. Keterampilan ini menjadi modal penting saat mereka kelak mengajar di sekolah. - Mendorong Partisipasi Aktif Siswa
Model ini membuat mahasiswa menyadari bahwa setiap siswa di kelas memiliki peran dalam pembelajaran. Dalam praktik, mereka belajar merancang aktivitas yang melibatkan semua peserta, bukan hanya siswa yang aktif atau pintar. - Meningkatkan Pemahaman Konsep
Diskusi kelompok memungkinkan siswa saling menjelaskan materi, sehingga pemahaman mereka lebih mendalam. Mahasiswa FKIP belajar cara memanfaatkan interaksi ini agar tujuan pembelajaran tercapai. - Mengembangkan Kemampuan Mengelola Konflik
Dalam kelompok, perbedaan pendapat sering muncul. Praktik cooperative learning mengajarkan mahasiswa bagaimana menangani perbedaan, membimbing siswa mencapai kesepakatan, dan menjaga suasana kelas tetap kondusif.
Penerapan Cooperative Learning di FKIP Ma’soem University
FKIP Ma’soem University menyediakan berbagai sarana untuk mendukung praktik mengajar mahasiswa. Dari laboratorium pendidikan, ruang kelas praktik, hingga program microteaching, semua fasilitas diarahkan agar mahasiswa dapat menerapkan cooperative learning secara optimal.
Tahap Persiapan
Sebelum praktik, mahasiswa diminta merancang rencana pembelajaran yang menekankan kerja kelompok. Perencanaan ini mencakup:
- Penentuan tujuan pembelajaran yang jelas
- Pembagian peran anggota kelompok
- Strategi evaluasi keberhasilan kelompok dan individu
Tahap ini mengajarkan mahasiswa untuk berpikir sistematis dan strategis. Mereka belajar bahwa pembelajaran efektif membutuhkan perencanaan matang, bukan hanya improvisasi di kelas.
Tahap Pelaksanaan
Selama praktik mengajar, mahasiswa FKIP memfasilitasi kelompok siswa dalam diskusi atau proyek. Model cooperative learning dapat diterapkan melalui beberapa teknik, seperti:
- Think-Pair-Share: Siswa berpikir secara individu, berdiskusi dengan pasangan, lalu berbagi hasil diskusi di kelas.
- Jigsaw: Materi dibagi menjadi bagian, setiap siswa mempelajari bagiannya, kemudian mengajarkan teman sekelompok.
- Group Investigation: Kelompok merancang proyek, mengumpulkan data, dan mempresentasikan hasilnya.
Mahasiswa belajar menyesuaikan pendekatan dengan kondisi kelas dan kemampuan siswa. Pengalaman ini membekali mereka menghadapi berbagai situasi saat mengajar di sekolah sesungguhnya.
Tahap Evaluasi
Evaluasi menjadi bagian penting dari cooperative learning. Mahasiswa FKIP tidak hanya menilai hasil belajar siswa, tetapi juga proses kerja sama kelompok. Hal ini meliputi:
- Observasi partisipasi tiap anggota
- Penilaian kontribusi individu terhadap kelompok
- Refleksi tentang dinamika kelompok dan strategi yang digunakan
Proses evaluasi mengajarkan mahasiswa pentingnya umpan balik dan refleksi dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.
Tantangan dan Solusi
Penerapan cooperative learning tidak selalu mudah. Mahasiswa sering menghadapi tantangan, seperti:
- Siswa pasif atau kurang berani berpartisipasi
- Ketidakseimbangan kontribusi anggota kelompok
- Waktu yang terbatas untuk menyelesaikan aktivitas
FKIP Ma’soem University mendorong mahasiswa untuk mencari solusi kreatif. Misalnya, menggunakan rotasi peran, memberikan penghargaan pada kontribusi aktif, atau menyesuaikan tugas agar lebih fleksibel. Pendekatan ini membantu mahasiswa belajar problem solving dan manajemen kelas.
Integrasi Cooperative Learning dengan Kurikulum FKIP
Di FKIP Ma’soem University, cooperative learning tidak hanya diterapkan di satu mata kuliah. Model ini menjadi bagian dari kurikulum pendidikan guru, mulai dari mata kuliah teori hingga microteaching dan praktik mengajar di sekolah mitra. Integrasi ini memastikan mahasiswa memiliki pengalaman berlapis dan dapat menerapkan teknik secara alami saat mengajar nanti.
Selain itu, FKIP Ma’soem University menekankan kolaborasi antara mahasiswa dan dosen pembimbing. Diskusi tentang strategi pembelajaran, observasi kelas, dan mentoring menjadi bagian dari proses belajar, sehingga mahasiswa mendapatkan umpan balik yang konstruktif.





