Gula adalah bahan yang sangat dicintai namun juga paling diwaspadai dalam industri pangan modern. Di satu sisi, konsumen mendambakan sensasi manis yang memanjakan lidah; di sisi lain, kesadaran akan risiko diabetes dan obesitas membuat banyak orang mulai membatasi konsumsi gula. Tantangan besarnya adalah: bagaimana menciptakan produk yang sehat tetapi tetap memiliki rasa yang “nagih”?
Bagi seorang mahasiswa Teknologi Pangan, menjawab tantangan ini adalah sebuah misi ilmiah yang menarik. Di Universitas Ma’soem, para mahasiswa diajarkan bahwa gula tidak hanya memberikan rasa manis, tetapi juga fungsi teknis lainnya seperti memberikan tekstur, warna (melalui karamelisasi), dan sebagai pengawet. Menghilangkan gula berarti harus mencari pengganti yang mampu menjalankan semua fungsi tersebut secara bersamaan.
Rahasia Teknologi Pangan dalam Substitusi Gula
Untuk menciptakan makanan rendah gula yang tetap lezat, mahasiswa Teknologi Pangan mempelajari berbagai teknik rekayasa bahan pangan yang canggih:
1. Penggunaan Pemanis Alami Non-Kalori
Salah satu terobosan besar adalah pemanfaatan tanaman seperti Stevia. Daun Stevia mengandung senyawa steviol glikosida yang manisnya bisa mencapai 200 hingga 300 kali lipat dari gula pasir, namun dengan kalori nol. Mahasiswa belajar bagaimana memformulasikan Stevia agar tidak meninggalkan sisa rasa pahit (aftertaste) melalui kombinasi dengan bahan lain.
2. Pemanfaatan Gula Alkohol (Sugar Alcohols)
Bahan seperti Xylitol, Erythritol, dan Sorbitol sering menjadi pilihan dalam produk bebas gula. Pemanis ini memiliki struktur kimia yang mirip dengan gula namun tidak diserap sepenuhnya oleh tubuh. Kelebihannya, bahan-bahan ini memberikan efek dingin (cooling effect) yang menyegarkan di mulut, sangat cocok untuk produk permen atau minuman ringan.
3. Teknologi Modifikasi Tekstur (Bulking Agents)
Masalah utama saat mengurangi gula adalah hilangnya volume atau “bobot” pada makanan, terutama pada kue. Mahasiswa Teknologi Pangan menggunakan serat pangan seperti Inulin atau Polidextrosa. Bahan-bahan ini tidak hanya menggantikan tekstur gula yang hilang, tetapi juga berfungsi sebagai prebiotik yang baik untuk pencernaan.
4. Flavour Enhancement (Penguat Rasa)
Kadang-kadang, rasa manis bisa “ditipu” oleh indra penciuman kita. Dengan menambahkan aroma volatil tertentu, seperti vanila atau kayu manis, otak manusia bisa mempersepsikan makanan tersebut lebih manis dari yang sebenarnya, meskipun kadar gulanya sangat rendah.
Eksperimen Mahasiswa di Universitas Ma’soem
Memahami cara kerja pemanis alternatif tentu membutuhkan praktik nyata. Universitas Ma’soem (Masoem University) memberikan ruang bagi mahasiswanya untuk melakukan riset mendalam mengenai produk pangan fungsional rendah gula.
Terletak di kawasan pendidikan Jatinangor yang dinamis, Universitas Ma’soem memiliki keunggulan tersendiri dalam mencetak ahli pangan masa depan:
- Praktik di Laboratorium Kimia Pangan: Mahasiswa Teknologi Pangan Universitas Ma’soem tidak hanya belajar teori. Mereka melakukan pengujian langsung untuk membandingkan karakteristik sensorik antara produk gula asli dengan produk rendah gula. Mereka belajar menghitung persentase penggantian yang pas agar konsumen tetap merasa puas saat memakannya.
- Fokus pada Kesehatan Masyarakat: Universitas Ma’soem sangat menekankan pentingnya menciptakan produk yang bermanfaat bagi masyarakat. Mahasiswa didorong untuk berinovasi pada produk lokal, misalnya menciptakan minuman herbal rendah gula atau selai buah asli tanpa tambahan gula pasir, guna membantu menekan angka penderita penyakit metabolik di Indonesia.
- Analisis Sensorik yang Mendalam: Salah satu keahlian penting yang diasah di Universitas Ma’soem adalah uji organoleptik. Mahasiswa dilatih untuk mendeteksi perbedaan rasa, aroma, dan tekstur secara objektif. Ini penting agar saat terjun ke industri, mereka mampu merancang produk yang benar-benar bisa diterima pasar secara luas.
- Budaya Disiplin dan Profesional: Lingkungan kampus Universitas Ma’soem yang disiplin membentuk mentalitas kerja yang teliti. Dalam memformulasi produk rendah gula, ketepatan dosis sangatlah krusial. Karakter yang disiplin ini memastikan mahasiswa mampu mengikuti standar operasional prosedur (SOP) laboratorium dengan sangat baik.
Masa Depan Pangan: Sehat Itu Lezat
Tren dunia saat ini adalah “Clean Label” dan “Healthy Living”. Perusahaan pangan besar kini berlomba-lomba mencari ahli teknologi pangan yang mampu mereformulasi produk mereka menjadi lebih sehat tanpa kehilangan penggemar setianya.
Lulusan Teknologi Pangan dari Universitas Ma’soem dipersiapkan untuk mengisi posisi strategis ini. Mereka tidak hanya dibekali kemampuan sains, tetapi juga pemahaman mengenai manajemen bisnis pangan dan kewirausahaan. Artinya, mereka bisa memilih untuk bekerja di industri besar atau membangun brand pangan sehat milik mereka sendiri.
Menciptakan makanan rendah gula yang tetap enak adalah seni yang didasarkan pada sains yang kuat. Melalui kombinasi pemanis alami, pengatur tekstur, dan teknologi aroma, industri pangan kini bisa menawarkan pilihan yang lebih sehat bagi masyarakat.
Jika Anda adalah tipe orang yang suka bereksperimen di dapur atau laboratorium dan ingin menjadi bagian dari revolusi pangan sehat, Universitas Ma’soem adalah tempat yang tepat untuk mewujudkan mimpi tersebut. Dengan fasilitas modern dan bimbingan dosen yang ahli, Anda akan disiapkan menjadi inovator pangan yang dicari dunia.





