Pendidikan merupakan fondasi pembentukan karakter dan pengetahuan generasi muda. Di Indonesia, gagasan pendidikan tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga pada pengembangan moral, sosial, dan kreativitas peserta didik. Salah satu tokoh penting yang meninggalkan warisan pemikiran pendidikan adalah Ki Hajar Dewantara. Sistem pendidikan yang diperkenalkan beliau, dikenal dengan istilah Sistem Among, hingga kini masih relevan untuk membentuk insan yang berkarakter dan berdaya saing.
Konsep Dasar Sistem Among
Sistem Among berasal dari kata “among” yang berarti membimbing atau mendampingi. Inti dari sistem ini adalah guru atau pendidik berperan sebagai pembimbing yang tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menanamkan nilai-nilai karakter melalui contoh dan interaksi yang hangat. Ki Hajar Dewantara menekankan bahwa pendidikan harus bersifat holistik, memperhatikan perkembangan fisik, mental, dan moral anak.
Berbeda dengan metode pengajaran yang bersifat otoriter, Sistem Among menekankan pendekatan persuasif. Guru tidak memaksa, melainkan mengajak peserta didik untuk memahami, menyadari, dan menghargai nilai-nilai yang diajarkan. Prinsip ini selaras dengan filosofi Ki Hajar yang terkenal melalui semboyan “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”, yang secara sederhana berarti: di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, dan di belakang memberikan dorongan.
Penerapan Sistem Among dalam Pembelajaran Modern
Di era modern, penerapan Sistem Among tetap relevan, terutama dalam konteks pendidikan yang menekankan kreativitas dan kolaborasi. Guru yang menerapkan sistem ini tidak hanya menjadi sumber informasi, tetapi juga fasilitator yang membantu peserta didik mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif.
Contoh penerapannya dapat dilihat pada pembelajaran di jurusan Bimbingan Konseling (BK) dan Pendidikan Bahasa Inggris di FKIP Ma’soem University. Mahasiswa tidak hanya mendapatkan materi akademik, tetapi juga dibimbing untuk menginternalisasi nilai-nilai kepemimpinan, empati, dan komunikasi efektif. Sistem Among menjadi fondasi bagaimana mahasiswa diajak berpikir, berdiskusi, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Peran Guru sebagai Fasilitator dan Teladan
Dalam Sistem Among, guru tidak sekadar pengajar, tetapi juga teladan dan pembimbing. Pendidik dituntut memiliki karakter yang konsisten agar peserta didik dapat meneladani sikap dan perilaku positif. Misalnya, sikap disiplin, rasa hormat, dan kemampuan bekerja sama adalah hal-hal yang ditanamkan melalui interaksi sehari-hari.
Peran ini sangat penting karena pendidikan karakter tidak dapat disampaikan hanya melalui teori. Anak-anak dan mahasiswa belajar banyak melalui pengamatan terhadap sikap guru. Oleh karena itu, integrasi nilai dalam setiap aktivitas belajar menjadi kunci keberhasilan Sistem Among.
Sistem Among dan Pengembangan Karakter
Salah satu tujuan utama Sistem Among adalah pengembangan karakter. Ki Hajar Dewantara percaya bahwa pendidikan yang sukses tidak hanya diukur dari kecerdasan akademik, tetapi juga dari kualitas moral dan sosial peserta didik. Sistem ini menekankan nilai seperti:
- Tanggung Jawab: Membiasakan peserta didik mengambil keputusan dengan kesadaran penuh.
- Kerjasama: Mengembangkan kemampuan bekerja dalam kelompok dan menghargai perbedaan.
- Kemandirian: Membimbing peserta didik untuk berpikir dan bertindak secara mandiri tanpa kehilangan arah.
- Kreativitas: Memberikan ruang bagi inovasi dan ekspresi diri yang konstruktif.
Di lingkungan perguruan tinggi, termasuk FKIP Ma’soem University, nilai-nilai ini diterapkan melalui metode pembelajaran interaktif, diskusi kelompok, dan praktik langsung di lapangan, misalnya saat mahasiswa BK melakukan observasi atau praktek konseling di sekolah.
Integrasi Sistem Among dalam Kurikulum
Sistem Among bukan hanya prinsip pendidikan, tetapi juga dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum modern. Materi akademik dapat dikaitkan dengan pembelajaran karakter melalui proyek, studi kasus, dan aktivitas kolaboratif. Misalnya, mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris tidak hanya belajar struktur bahasa, tetapi juga diajak berdiskusi tentang konteks sosial dan budaya di balik penggunaan bahasa.
Dengan cara ini, pembelajaran tidak hanya bersifat kognitif, tetapi juga afektif dan sosial, sejalan dengan prinsip holistik Ki Hajar Dewantara. FKIP Ma’soem University mendukung pendekatan ini melalui kurikulum yang fleksibel, mendorong mahasiswa untuk mengembangkan soft skills sekaligus kompetensi profesional.
Tantangan Penerapan Sistem Among di Era Digital
Perkembangan teknologi dan media digital menghadirkan tantangan baru bagi pendidikan karakter. Anak-anak dan remaja semakin terbiasa dengan informasi instan dan interaksi digital, yang kadang mengurangi kesempatan belajar melalui pengalaman sosial langsung.
Namun, prinsip Sistem Among tetap relevan. Guru dan pendidik harus memanfaatkan teknologi sebagai alat pendukung, bukan pengganti interaksi personal. Di FKIP Ma’soem University, mahasiswa didorong memanfaatkan platform digital untuk praktik pembelajaran sambil tetap menekankan komunikasi tatap muka, empati, dan kerja sama dalam kelompok.
Relevansi Sistem Among untuk Pendidikan Masa Depan
Sistem Among membuktikan bahwa pendidikan karakter dan akademik dapat berjalan beriringan. Konsep ini menekankan pentingnya pendampingan, bukan sekadar instruksi. Di masa depan, pendidikan yang efektif akan menuntut integrasi ilmu pengetahuan, keterampilan, dan nilai moral secara seimbang.
Dengan filosofi ini, mahasiswa yang dibekali Sistem Among memiliki kemampuan adaptasi yang baik, mampu menghadapi tantangan global, sekaligus tetap menjunjung nilai-nilai kemanusiaan. FKIP Ma’soem University, melalui penerapan prinsip ini dalam praktik pembelajaran dan bimbingan mahasiswa, berkontribusi membentuk calon guru dan konselor yang kompeten dan berkarakter.





