Banyak orang tua merasa khawatir ketika melihat anak lebih memilih bermain daripada duduk belajar. Ketika waktu belajar tiba, anak mungkin justru ingin bermain dengan teman, menyusun balok, menggambar, bersepeda, atau memainkan permainan favoritnya. Situasi tersebut sering dianggap sebagai tanda bahwa anak malas belajar.
Padahal, bermain merupakan bagian penting dalam proses tumbuh kembang anak. Aktivitas bermain tidak selalu berlawanan dengan belajar. Justru, pada usia tertentu, anak dapat memperoleh berbagai keterampilan melalui kegiatan yang menyenangkan. Tantangannya adalah bagaimana orang tua dapat menyeimbangkan waktu bermain dan belajar agar keduanya memberikan manfaat bagi perkembangan anak.
Mengapa Anak Lebih Suka Bermain?
Bermain merupakan aktivitas yang secara alami menarik bagi anak. Melalui permainan, anak dapat bergerak bebas, bereksplorasi, mencoba sesuatu yang baru, sekaligus berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Berbeda dari kegiatan belajar yang terkadang memiliki target tertentu, bermain memberikan ruang bagi anak untuk menentukan apa yang ingin dilakukan. Rasa bebas tersebut membuat anak lebih mudah menikmati prosesnya.
Ada beberapa alasan anak cenderung lebih menyukai bermain, antara lain:
- Permainan memberikan pengalaman yang menyenangkan.
- Anak dapat bergerak dan bereksplorasi secara langsung.
- Bermain memberi kesempatan untuk berimajinasi.
- Anak dapat belajar berinteraksi dan bekerja sama.
- Kesalahan saat bermain sering terasa tidak terlalu membebani anak.
Karena itu, kesukaan anak terhadap permainan tidak otomatis menunjukkan bahwa ia tidak tertarik untuk belajar.
Bermain Juga Bisa Menjadi Cara Anak Belajar
Belajar pada anak tidak selalu harus dilakukan melalui buku, lembar kerja, atau kegiatan akademik. Banyak kemampuan dasar justru berkembang ketika anak bermain.
Saat menyusun puzzle, misalnya, anak belajar mengenali bentuk, memecahkan masalah, dan melatih koordinasi mata serta tangan. Permainan kelompok dapat membantu anak memahami aturan, bergiliran, berkomunikasi, dan mengelola emosi.
Permainan sederhana seperti menghitung benda juga dapat menjadi pengenalan konsep matematika. Sementara itu, bermain peran dapat memperkaya kemampuan bahasa dan membantu anak memahami berbagai situasi sosial.
Artinya, bermain dan belajar tidak harus selalu dipisahkan secara tegas. Orang tua dapat memasukkan unsur pembelajaran ke dalam permainan yang sesuai dengan usia dan minat anak.
Manfaat Bermain bagi Perkembangan Anak
Waktu bermain yang cukup dapat memberikan manfaat pada beberapa aspek perkembangan anak. Aktivitas fisik, misalnya, membantu anak mengembangkan kemampuan motorik sekaligus menjaga kebugaran tubuh.
Permainan yang melibatkan kreativitas juga memberikan ruang bagi anak untuk menghasilkan ide sendiri. Anak dapat mencoba berbagai kemungkinan tanpa merasa harus selalu menghasilkan jawaban yang benar.
Beberapa kemampuan yang dapat berkembang melalui aktivitas bermain meliputi:
- Kemampuan sosial
Bermain bersama teman mengajarkan anak cara berkomunikasi, berbagi, bekerja sama, dan menyelesaikan konflik. - Kemampuan kognitif
Permainan yang membutuhkan strategi dapat melatih kemampuan berpikir, mengingat, membuat keputusan, dan memecahkan masalah. - Kemampuan emosional
Anak belajar mengenali perasaan, menghadapi kemenangan maupun kekalahan, serta mengendalikan respons terhadap situasi tertentu. - Kreativitas
Menggambar, membuat kerajinan, bermain peran, dan membangun sesuatu dapat mendorong anak menggunakan imajinasinya. - Kemandirian
Ketika diberi kesempatan memilih permainan dan menentukan cara bermain, anak belajar mengambil keputusan sederhana.
Kapan Orang Tua Perlu Mengatur Waktu Bermain?
Bermain memang penting, tetapi bukan berarti anak tidak perlu memiliki rutinitas belajar. Anak tetap perlu mengenal tanggung jawab dan kebiasaan belajar sesuai tahap perkembangannya.
Orang tua dapat membuat jadwal harian yang realistis. Waktu belajar tidak harus selalu panjang. Sesi singkat yang dilakukan secara konsisten sering kali lebih mudah diterima anak daripada memaksanya belajar berjam-jam.
Beberapa hal yang dapat diterapkan di rumah antara lain:
- Tentukan waktu belajar dan bermain secara seimbang.
- Sesuaikan durasi belajar dengan usia serta kemampuan konsentrasi anak.
- Berikan jeda setelah anak menyelesaikan aktivitas belajar.
- Hubungkan materi pelajaran dengan aktivitas yang disukai anak.
- Hindari menjadikan bermain sebagai hadiah semata atau belajar sebagai hukuman.
- Berikan apresiasi terhadap usaha anak, bukan hanya nilai yang diperoleh.
Pendekatan tersebut dapat membantu anak memahami bahwa belajar merupakan bagian dari rutinitas, bukan kegiatan yang harus selalu terasa berat.
Jangan Membandingkan Anak dengan Teman Sebayanya
Setiap anak memiliki minat, karakter, dan kecepatan belajar yang berbeda. Ada anak yang cepat memahami materi melalui membaca, sementara anak lain lebih mudah memahami sesuatu melalui praktik atau aktivitas langsung.
Orang tua sebaiknya tidak buru-buru memberikan label “malas” hanya karena anak lebih aktif bermain. Perhatikan juga apakah anak tetap mampu mengikuti kegiatan belajar, memahami instruksi, berkomunikasi, dan menunjukkan perkembangan sesuai tahap usianya.
Jika muncul perubahan perilaku yang mengkhawatirkan atau kesulitan belajar yang berlangsung terus-menerus, orang tua dapat berdiskusi dengan guru atau tenaga profesional yang memiliki kompetensi dalam perkembangan dan pendidikan anak.
Peran Pendidikan dalam Memahami Perkembangan Anak
Pemahaman terhadap karakter dan kebutuhan anak menjadi salah satu aspek penting dalam dunia pendidikan. Guru tidak hanya berperan menyampaikan materi, tetapi juga perlu memahami bagaimana peserta didik berkembang, berinteraksi, dan menghadapi berbagai tantangan dalam proses belajar.
Bidang seperti bimbingan dan konseling memiliki relevansi dalam membantu memahami aspek perkembangan peserta didik. Pengetahuan tersebut juga dapat menjadi bekal bagi calon pendidik yang ingin berkontribusi dalam lingkungan sekolah maupun layanan pendidikan.
Salah satu perguruan tinggi swasta yang memiliki bidang pendidikan adalah Ma’soem University. Pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), program studi yang tersedia adalah Bimbingan dan Konseling (BK) serta Pendidikan Bahasa Inggris. Keduanya dapat menjadi pilihan pendidikan tinggi bagi calon mahasiswa yang ingin mendalami bidang pendidikan sesuai minat dan rencana kariernya.
Bagi calon mahasiswa yang tertarik pada dunia pendidikan, pemahaman mengenai proses belajar, perkembangan peserta didik, komunikasi, serta kebutuhan individu dapat menjadi bagian penting dalam mempersiapkan diri menghadapi lingkungan profesional.
Orang Tua Dapat Menjadikan Bermain sebagai Jembatan Belajar
Anak yang suka bermain bukan berarti harus dijauhkan dari permainan agar lebih rajin belajar. Justru, aktivitas yang disukai anak dapat dimanfaatkan sebagai pintu masuk untuk memperkenalkan berbagai pengetahuan dan keterampilan.
Orang tua dapat memilih permainan yang sesuai usia, memberikan pertanyaan sederhana selama bermain, atau mengajak anak menceritakan kembali pengalaman yang baru dilakukan. Cara tersebut membuat proses belajar terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Keseimbangan tetap menjadi hal penting. Anak membutuhkan kesempatan untuk bermain, tetapi juga perlu belajar membangun rutinitas, menyelesaikan tugas, dan mengenal tanggung jawab. Ketika keduanya ditempatkan secara proporsional, bermain tidak harus menjadi penghambat belajar, melainkan dapat menjadi salah satu bagian dari proses anak berkembang.
Informasi Ma’soem University:
No. WhatsApp: 085185634253
Instagram: @masoem_university
Web Pendaftaran: pmb.masoemuniversity.com




