Kenapa Anak Usia Dini Suka Meniru Orang Dewasa?

Anak usia dini dikenal memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Mereka mengamati berbagai hal yang terjadi di lingkungan sekitar, kemudian mencoba mengulanginya melalui perilaku, ucapan, maupun kebiasaan. Tidak jarang orang tua melihat anak meniru cara berbicara, ekspresi wajah, aktivitas, bahkan cara menggunakan benda yang dilakukan orang dewasa.

Kebiasaan meniru sebenarnya merupakan bagian penting dari proses tumbuh kembang anak. Melalui peniruan, anak belajar mengenali lingkungan, memahami cara berinteraksi, sekaligus mengembangkan berbagai kemampuan baru. Karena itu, perilaku yang terlihat sederhana seperti anak meniru orang tua sedang bekerja atau berbicara di telepon dapat memiliki peran dalam proses pembelajarannya.

Meniru Adalah Cara Anak Belajar

Pada usia dini, anak belum memiliki pengalaman sebanyak orang dewasa. Mereka memperoleh banyak informasi melalui pengamatan. Ketika melihat seseorang melakukan suatu tindakan, anak dapat mencoba mengingat dan mempraktikkannya kembali.

Proses tersebut membantu anak memahami hubungan antara tindakan dan hasil. Misalnya, ketika anak melihat orang tua merapikan mainan setelah bermain, ia dapat memahami bahwa benda yang digunakan perlu dikembalikan ke tempatnya. Begitu pula ketika anak melihat orang dewasa mengucapkan terima kasih setelah menerima bantuan, anak perlahan belajar mengenali kebiasaan tersebut dalam kehidupan sosial.

Peniruan juga dapat membantu perkembangan kemampuan bahasa. Anak sering mengulang kata, intonasi, atau ungkapan yang didengarnya dari orang-orang terdekat. Semakin sering memperoleh contoh komunikasi yang baik, semakin banyak pula kosakata dan pola komunikasi yang dapat dipelajari.

Orang Tua Menjadi Contoh Terdekat bagi Anak

Lingkungan keluarga memiliki pengaruh besar terhadap perilaku anak usia dini. Orang tua merupakan sosok yang sering berinteraksi dengan anak sehingga perilaku sehari-hari mudah menjadi contoh yang ditiru.

Anak tidak hanya memperhatikan apa yang dikatakan orang tua, tetapi juga bagaimana orang tua bertindak. Cara menyelesaikan masalah, berbicara kepada anggota keluarga, memperlakukan orang lain, hingga menunjukkan emosi dapat diamati oleh anak.

Karena itu, orang tua perlu menyadari bahwa pembelajaran anak berlangsung bukan hanya ketika mereka memberikan nasihat. Perilaku sehari-hari juga dapat menjadi bentuk pembelajaran secara tidak langsung.

Contohnya, ketika orang tua ingin mengajarkan anak agar berbicara sopan, memberikan contoh melalui percakapan sehari-hari dapat lebih mudah dipahami daripada sekadar meminta anak menggunakan kata-kata tertentu.

Anak Bisa Meniru Perilaku Positif dan Negatif

Kemampuan meniru tidak secara otomatis membuat semua perilaku yang ditiru menjadi baik. Anak dapat meniru kebiasaan positif maupun perilaku yang kurang tepat.

Beberapa contoh perilaku positif yang dapat ditiru anak antara lain:

  • Mengucapkan tolong, maaf, dan terima kasih.
  • Merapikan mainan setelah digunakan.
  • Mencuci tangan sebelum makan.
  • Membaca buku.
  • Menunjukkan kepedulian kepada orang lain.
  • Menyelesaikan tugas sederhana secara bertanggung jawab.

Sebaliknya, anak juga dapat meniru kebiasaan seperti berbicara kasar, membentak, mengejek, atau menggunakan gawai secara berlebihan apabila sering melihat perilaku tersebut di lingkungannya.

Hal ini bukan berarti orang tua harus selalu menunjukkan perilaku sempurna. Yang lebih penting adalah memberikan contoh yang sehat dan membantu anak memahami ketika terjadi kesalahan. Orang tua juga dapat menunjukkan cara meminta maaf atau memperbaiki kesalahan agar anak memperoleh contoh penyelesaian masalah yang baik.

Pengaruh Lingkungan terhadap Kebiasaan Meniru Anak

Selain keluarga, lingkungan sosial turut memengaruhi perilaku anak. Teman bermain, guru, anggota keluarga lain, hingga tontonan yang dikonsumsi anak dapat menjadi sumber contoh perilaku.

Pada usia dini, kemampuan anak untuk membedakan perilaku yang tepat dan tidak tepat masih berkembang. Karena itu, pendampingan tetap diperlukan ketika anak berinteraksi dengan lingkungan atau mengakses media digital.

Orang tua dapat melakukan beberapa langkah sederhana, seperti:

  1. Memilih tontonan yang sesuai usia anak.
  2. Mendampingi anak ketika menonton konten digital.
  3. Mengajak anak berbicara tentang perilaku tokoh yang dilihat.
  4. Memberikan kesempatan untuk bermain dan berinteraksi secara langsung.
  5. Menjelaskan alasan suatu perilaku boleh atau tidak boleh dilakukan.

Pendampingan seperti ini membantu anak tidak hanya meniru, tetapi juga mulai memahami alasan di balik suatu tindakan.

Peniruan Berkaitan dengan Perkembangan Sosial Anak

Anak belajar menjadi bagian dari lingkungan sosial melalui berbagai pengalaman. Meniru dapat menjadi salah satu cara untuk memahami bagaimana seseorang berkomunikasi dan bertindak dalam situasi tertentu.

Ketika bermain peran sebagai dokter, guru, orang tua, atau pedagang, misalnya, anak sebenarnya sedang mencoba memahami peran sosial yang diamatinya. Aktivitas tersebut juga dapat merangsang kemampuan berbahasa, imajinasi, komunikasi, dan kerja sama.

Permainan sederhana di rumah dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses tersebut. Orang tua bisa mengajak anak bermain peran sambil memperkenalkan kebiasaan positif, seperti menyapa orang lain, bergantian berbicara, mendengarkan, dan menyelesaikan konflik secara tenang.

Pentingnya Peran Pendidikan dalam Memahami Perkembangan Anak

Pemahaman mengenai perilaku anak usia dini tidak hanya relevan bagi orang tua, tetapi juga bagi calon pendidik dan tenaga yang nantinya bekerja di bidang pendidikan atau pendampingan anak. Pengetahuan tentang perkembangan psikologis dan sosial anak dapat membantu seseorang memberikan respons yang lebih sesuai terhadap perilaku anak.

Salah satu perguruan tinggi swasta yang memiliki bidang pendidikan yang relevan adalah Ma’soem University. Pada lingkungan FKIP Ma’soem University, program studi yang tersedia adalah Bimbingan dan Konseling (BK) serta Pendidikan Bahasa Inggris.

Program Studi Bimbingan dan Konseling dapat berkaitan dengan pemahaman mengenai perkembangan individu dan proses pendampingan, termasuk bagaimana lingkungan dapat memengaruhi perilaku dan perkembangan peserta didik. Sementara itu, Pendidikan Bahasa Inggris berkaitan dengan proses pembelajaran bahasa yang juga membutuhkan pemahaman terhadap karakteristik peserta didik.

Pengetahuan tersebut dapat menjadi bekal bagi mahasiswa yang ingin memahami proses pendidikan dan perkembangan peserta didik secara lebih terarah. Kajian mengenai perilaku meniru pada anak menjadi salah satu contoh bahwa proses belajar tidak hanya terjadi melalui materi pembelajaran formal, tetapi juga melalui interaksi dan pengamatan sehari-hari.

Bagaimana Orang Tua Mengarahkan Kebiasaan Meniru?

Kebiasaan meniru dapat diarahkan menjadi pengalaman belajar yang positif. Orang tua dapat memperhatikan perilaku apa yang sering dilihat anak, kemudian secara sadar memberikan contoh yang sesuai.

Ketika anak meniru aktivitas orang dewasa, tidak selalu perlu langsung dilarang. Orang tua dapat melihat apakah aktivitas tersebut aman dan sesuai usia. Jika memungkinkan, aktivitas itu dapat diubah menjadi permainan atau kegiatan sederhana yang melibatkan anak.

Misalnya, ketika anak meniru orang tua memasak, ia dapat diberikan tugas yang aman seperti mencuci sayuran atau mengelompokkan bahan makanan. Saat anak meniru kegiatan membersihkan rumah, orang tua dapat mengajaknya merapikan mainan sendiri.

Cara tersebut membuat anak memperoleh kesempatan untuk belajar melalui pengalaman langsung sekaligus memahami tanggung jawab sederhana.

Kontak Ma’soem University

Informasi lebih lanjut mengenai Ma’soem University dapat diperoleh melalui kontak berikut:

No. WhatsApp: 085185634253
Instagram: @masoem_university
Web Pendaftaran: pmb.masoemuniversity.com