Anak Sering Bertanya “Kenapa?” Ternyata Kebiasaan Ini Bagus untuk Perkembangan Kognitif

“Kenapa langit warnanya biru?”
“Kenapa hujan turun?”
“Kenapa kita harus sekolah?”
“Kenapa kucing bisa mengeong?”

Pertanyaan seperti ini sering muncul dari anak-anak, terutama ketika mereka mulai aktif mengenali lingkungan di sekitarnya. Bagi orang dewasa, pertanyaan yang terus berulang terkadang terasa melelahkan. Namun, kebiasaan anak bertanya “kenapa?” sebenarnya merupakan bagian penting dari proses belajar dan perkembangan kognitif.

Rasa ingin tahu mendorong anak untuk mencari informasi, menghubungkan berbagai kejadian, serta memahami alasan di balik sesuatu. Karena itu, orang tua dan guru tidak perlu buru-buru menganggap kebiasaan bertanya sebagai perilaku yang mengganggu. Justru, pertanyaan anak dapat menjadi kesempatan untuk membantu mereka mengembangkan cara berpikir.

Mengapa Anak Sering Bertanya “Kenapa?”

Anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi karena mereka sedang membangun pemahaman mengenai dunia. Banyak hal yang bagi orang dewasa sudah dianggap biasa justru merupakan sesuatu yang baru bagi anak.

Ketika anak bertanya “kenapa?”, mereka sebenarnya sedang mencari hubungan antara sebab dan akibat. Misalnya, ketika anak bertanya mengapa tanaman harus disiram, mereka tidak hanya membutuhkan jawaban sederhana. Mereka sedang berusaha memahami hubungan antara air, tumbuhan, dan pertumbuhan.

Kebiasaan bertanya juga menunjukkan bahwa anak mulai menyadari adanya hal-hal yang belum mereka pahami. Kesadaran tersebut dapat menjadi dasar bagi proses belajar yang lebih aktif.

Hubungan Bertanya dengan Perkembangan Kognitif Anak

Perkembangan kognitif berkaitan dengan kemampuan anak dalam berpikir, mengingat, memahami informasi, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan. Kebiasaan bertanya dapat mendukung beberapa kemampuan tersebut.

Saat anak mengajukan pertanyaan, otaknya sedang bekerja untuk mengidentifikasi informasi yang belum diketahui. Setelah mendapatkan jawaban, anak dapat membandingkan informasi tersebut dengan pengetahuan yang sudah dimiliki.

Proses tersebut dapat membantu anak:

  • mengembangkan rasa ingin tahu;
  • meningkatkan kemampuan berpikir kritis;
  • memahami hubungan sebab dan akibat;
  • memperluas kosakata dan pengetahuan;
  • melatih kemampuan memecahkan masalah;
  • membangun kemampuan berkomunikasi;
  • mengembangkan kebiasaan mencari informasi.

Pertanyaan anak juga dapat berkembang dari pertanyaan sederhana menuju pertanyaan yang membutuhkan penalaran lebih kompleks. Perubahan ini merupakan bagian dari perkembangan kemampuan berpikir mereka.

Tidak Semua Pertanyaan Harus Dijawab Secara Panjang

Orang tua tidak harus memberikan penjelasan panjang setiap kali anak bertanya. Jawaban dapat disesuaikan dengan usia dan tingkat pemahaman anak.

Misalnya, ketika anak bertanya, “Kenapa hujan turun?”, orang tua dapat menjelaskan bahwa air dari laut, sungai, dan tempat lain menguap ke udara, kemudian berkumpul menjadi awan dan turun sebagai hujan.

Setelah itu, orang tua dapat melihat respons anak. Jika mereka masih penasaran, penjelasan bisa dilanjutkan. Cara ini membuat percakapan terasa seperti proses belajar, bukan sekadar pemberian informasi.

Anak juga dapat diajak mencari jawaban melalui buku, pengamatan langsung, atau percobaan sederhana. Pendekatan tersebut membantu anak memahami bahwa jawaban tidak selalu harus diberikan secara instan oleh orang dewasa.

Bagaimana Orang Tua Sebaiknya Merespons?

Respons orang tua terhadap pertanyaan anak dapat memengaruhi keberanian mereka untuk bertanya pada kesempatan berikutnya. Anak yang merasa pertanyaannya selalu dianggap mengganggu bisa menjadi lebih pasif dalam mengungkapkan rasa ingin tahunya.

Beberapa cara yang dapat dilakukan orang tua antara lain:

1. Dengarkan pertanyaannya

Berikan perhatian ketika anak sedang bertanya. Tidak semua pertanyaan membutuhkan jawaban panjang, tetapi anak perlu merasa bahwa rasa ingin tahunya dihargai.

2. Berikan jawaban sesuai usia

Gunakan bahasa yang sederhana dan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Hindari penjelasan yang terlalu rumit jika belum sesuai kemampuan anak.

3. Balik bertanya

Orang tua dapat memberikan pertanyaan seperti, “Menurut kamu kenapa begitu?” Cara ini mendorong anak untuk berpikir sebelum mendapatkan jawaban dari orang lain.

4. Ajak mengamati

Jika memungkinkan, gunakan benda atau kejadian di sekitar sebagai media belajar. Anak dapat diajak mengamati tanaman, cuaca, hewan, makanan, atau benda lain yang menarik perhatian mereka.

5. Tidak perlu selalu langsung tahu jawabannya

Orang tua juga bisa mengatakan bahwa mereka belum mengetahui jawabannya. Setelah itu, ajak anak mencari informasi bersama. Kebiasaan tersebut dapat memperkenalkan proses mencari dan memeriksa informasi.

Bertanya Dapat Menjadi Bagian dari Pembelajaran di Sekolah

Rasa ingin tahu anak tidak hanya perlu dikembangkan di rumah. Lingkungan sekolah juga memiliki peran penting dalam menciptakan suasana belajar yang mendorong siswa untuk bertanya.

Guru dapat memberikan ruang bagi siswa untuk menyampaikan pertanyaan, berdiskusi, mengamati suatu masalah, kemudian mencari kemungkinan jawabannya. Pembelajaran seperti ini membuat siswa tidak hanya menerima informasi, tetapi juga terlibat dalam proses memahami materi.

Kemampuan guru dalam merespons pertanyaan siswa menjadi salah satu bagian penting dalam menciptakan kelas yang aktif. Guru perlu membedakan pertanyaan yang membutuhkan penjelasan, pertanyaan yang dapat dikembangkan menjadi diskusi, dan pertanyaan yang dapat menjadi awal kegiatan eksplorasi.

Hal tersebut membuat keterampilan pendidik tidak hanya berkaitan dengan penguasaan materi pelajaran, tetapi juga kemampuan memahami proses belajar dan perkembangan peserta didik.

Peran Pendidikan dalam Memahami Perkembangan Anak

Pemahaman terhadap perkembangan kognitif dan perilaku belajar anak menjadi salah satu bekal penting bagi calon pendidik. Pengetahuan tersebut dapat membantu guru memahami mengapa setiap anak memiliki cara bertanya, berpikir, dan merespons pembelajaran yang berbeda.

Di lingkungan perguruan tinggi, bidang pendidikan juga memberikan ruang untuk mempelajari aspek perkembangan peserta didik serta strategi pembelajaran. Ma’soem University sebagai salah satu kampus swasta di Bandung memiliki Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) yang menyediakan dua program studi, yaitu Bimbingan dan Konseling (BK) serta Pendidikan Bahasa Inggris.

Bagi mahasiswa yang tertarik pada dunia pendidikan, pemahaman mengenai karakteristik dan perkembangan peserta didik dapat menjadi bagian yang relevan dalam mempersiapkan kemampuan akademik maupun keterampilan sebagai calon tenaga pendidik.

Kapan Kebiasaan Bertanya Perlu Diperhatikan?

Kebiasaan bertanya pada dasarnya merupakan hal yang wajar dalam proses perkembangan anak. Namun, orang tua tetap perlu memperhatikan konteks perilakunya secara keseluruhan.

Jika anak bertanya karena benar-benar ingin memahami sesuatu, pertanyaan tersebut dapat menjadi kesempatan belajar. Orang tua juga perlu melihat kemampuan anak dalam berkomunikasi, berinteraksi, mengikuti kegiatan, dan memahami lingkungan.

Tidak perlu membatasi anak hanya karena mereka terlalu banyak bertanya. Sebaliknya, orang tua dapat membantu mengarahkan pertanyaan tersebut agar berkembang menjadi kegiatan berpikir, berdiskusi, membaca, mengamati, dan mencari informasi.

Pada akhirnya, pertanyaan sederhana seperti “kenapa?” dapat menjadi awal dari proses belajar yang panjang. Ketika rasa ingin tahu anak mendapatkan respons yang tepat, mereka memiliki kesempatan untuk membangun kebiasaan berpikir, mencari alasan, dan memahami sesuatu secara lebih mendalam.

Informasi Ma’soem University
No. WhatsApp: 085185634253
Instagram: @masoem_university
Web Pendaftaran: pmb.masoemuniversity.com