Food waste atau limbah makanan menjadi salah satu persoalan penting dalam membangun sistem pangan yang lebih berkelanjutan. Makanan yang terbuang bukan hanya berarti produk yang tidak dikonsumsi, tetapi juga menunjukkan adanya sumber daya seperti air, energi, lahan, tenaga kerja, dan biaya produksi yang ikut terbuang.
Di sisi lain, circular economy atau ekonomi sirkular menawarkan pendekatan berbeda. Sistem ini berusaha mempertahankan nilai suatu produk dan sumber daya selama mungkin dengan cara mengurangi limbah, menggunakan kembali material, serta mengolah sisa produksi menjadi sumber daya baru. Dalam sektor pangan, konsep tersebut memiliki hubungan yang sangat erat dengan upaya mengurangi food waste. FAO menyebut pencegahan food loss and waste sebagai langkah penting dalam membangun sistem pangan sirkular.
Mengenal Circular Economy dalam Industri Pangan
Dalam sistem ekonomi linear, pola yang umum terjadi adalah ambil bahan baku, produksi, konsumsi, kemudian buang. Ketika diterapkan pada industri pangan, pola ini dapat menghasilkan banyak sisa dari proses produksi hingga konsumsi.
Circular economy berusaha mengubah pola tersebut menjadi sistem yang lebih berputar. Bahan yang masih memiliki nilai tidak langsung dianggap sebagai sampah, tetapi dicari kemungkinan penggunaannya kembali.
Contohnya dapat terlihat pada industri pengolahan pangan. Sisa bahan pertanian atau hasil samping pengolahan dapat dikembangkan menjadi bahan baku produk lain, pakan, pupuk, energi, maupun produk biologi tertentu selama memenuhi standar keamanan dan teknis yang berlaku.
FAO juga menjelaskan bahwa pendekatan circularity dapat dilakukan melalui pengurangan food waste, daur ulang nutrien, serta pemanfaatan hasil samping pengolahan menjadi pakan, energi, dan bioproduk.
Food Waste Bukan Sekadar Makanan yang Terbuang
Food waste sering dipahami sebatas makanan yang tersisa di piring atau makanan yang dibuang karena tidak habis. Padahal, persoalannya jauh lebih luas.
Pemborosan dapat terjadi ketika:
- Bahan pangan rusak sebelum sampai kepada konsumen.
- Produk tidak memenuhi standar penampilan tertentu.
- Proses penyimpanan tidak tepat.
- Distribusi mengalami kendala.
- Produk mendekati masa kedaluwarsa.
- Makanan yang masih layak konsumsi tidak dimanfaatkan.
- Hasil samping pengolahan tidak memiliki pemanfaatan lanjutan.
FAO mencatat bahwa food loss dan food waste berdampak pada ketahanan pangan, sumber daya alam, lingkungan, serta perubahan iklim. Karena itu, pengurangan limbah pangan menjadi bagian penting dalam transformasi sistem pangan yang berkelanjutan.
Bagaimana Circular Economy Mengurangi Food Waste?
Hubungan circular economy dengan food waste terlihat dari prinsip meminimalkan bahan yang terbuang dan memaksimalkan pemanfaatan sumber daya.
Misalnya, hasil samping dari proses pengolahan buah dapat diteliti untuk mendapatkan senyawa atau bahan yang masih bernilai. Sisa organik tertentu juga dapat diarahkan untuk pengolahan menjadi kompos atau sumber daya lain yang sesuai.
Namun, pemanfaatan tersebut tidak berarti semua limbah makanan harus digunakan kembali sebagai bahan pangan. Ada standar keamanan yang harus diperhatikan karena bahan yang berasal dari sistem pangan dapat membawa risiko kontaminasi tertentu.
FAO menekankan bahwa penerapan ekonomi sirkular pada sistem pangan tetap perlu memperhatikan keamanan pangan, termasuk potensi kontaminan, bahaya fisik, dan risiko lainnya. (FAOHome)
Teknologi Pangan Punya Peran Penting
Hubungan antara circular economy dan food waste membuka peluang besar bagi bidang Teknologi Pangan. Mahasiswa tidak hanya belajar bagaimana menghasilkan makanan yang aman dan berkualitas, tetapi juga dapat memahami bagaimana proses pengolahan dirancang agar lebih efisien.
Di Ma’soem University, Fakultas Pertanian memiliki dua program studi, yaitu Teknologi Pangan dan Agribisnis. Program Teknologi Pangan berfokus pada pengolahan, keamanan, mutu, serta inovasi produk pangan. (Masoem University)
Dalam konteks circular economy, ilmu Teknologi Pangan dapat berkaitan dengan pengembangan produk baru, pengendalian mutu, keamanan pangan, pengolahan hasil pertanian, hingga pemanfaatan hasil samping industri pangan.
Mahasiswa juga dapat melihat bahwa inovasi pangan bukan hanya tentang menciptakan produk baru, tetapi juga bagaimana membuat proses produksi lebih efisien dan mengurangi bahan yang berakhir sebagai limbah.
Agribisnis Mengatur Rantai Nilainya
Jika Teknologi Pangan banyak berkaitan dengan sisi pengolahan dan inovasi produk, Agribisnis memiliki peran pada pengelolaan bisnis dan rantai nilai pertanian.
Circular economy membutuhkan koordinasi dari berbagai pihak. Bahan pangan bergerak dari petani, pengumpul, pengolah, distributor, retailer, hingga konsumen. Setiap tahap memiliki kemungkinan menghasilkan kehilangan atau pemborosan.
Di Program Studi Agribisnis Ma’soem University, mahasiswa mempelajari aspek seperti sistem agribisnis, ekonomi produksi pertanian, manajemen rantai pasok, pembiayaan, pemasaran, dan kewirausahaan. (Masoem University)
Pengetahuan tersebut relevan untuk memahami bagaimana rantai pasok pangan dapat dikelola secara lebih efisien sehingga bahan pangan tidak mudah rusak atau terbuang sebelum sampai ke konsumen.
Peluang Inovasi dari Food Waste
Food waste juga dapat menjadi sumber ide bisnis apabila dilihat dari perspektif ekonomi sirkular.
Beberapa bentuk inovasi yang dapat dikembangkan antara lain:
- Pemanfaatan hasil samping pengolahan pangan.
- Pengembangan produk pangan berbasis bahan yang sebelumnya kurang dimanfaatkan.
- Pengolahan limbah organik menjadi kompos.
- Pemanfaatan hasil samping pertanian sebagai bahan baku produk tertentu.
- Pengembangan sistem distribusi yang mengurangi kerusakan pangan.
- Model bisnis yang menghubungkan surplus pangan dengan pihak yang membutuhkan.
Konsep tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan dan bisnis tidak selalu berjalan secara terpisah. Dengan inovasi yang tepat, sumber daya yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat memiliki fungsi baru.
Kuliah Teknologi Pangan dan Agribisnis di Ma’soem University
Bagi calon mahasiswa yang tertarik dengan isu food waste, circular economy, industri pangan, pertanian modern, dan bisnis berkelanjutan, Fakultas Pertanian Ma’soem University menyediakan dua pilihan yang relevan, yaitu Teknologi Pangan dan Agribisnis.
Teknologi Pangan dapat menjadi pilihan bagi mahasiswa yang tertarik pada sains pangan, proses pengolahan, keamanan pangan, mutu, dan pengembangan produk. Sementara itu, Agribisnis cocok bagi yang tertarik pada pengelolaan bisnis pertanian, rantai pasok, pemasaran, kewirausahaan, dan pengembangan usaha.
Keduanya dapat memiliki keterkaitan dalam membangun sistem pangan yang lebih efisien. Teknologi menghasilkan solusi pengolahan, sedangkan Agribisnis membantu memastikan solusi tersebut dapat diterapkan dalam rantai nilai dan memiliki model bisnis yang berkelanjutan. Ma’soem University sendiri menempatkan Fakultas Pertanian pada pengembangan agroindustri dari hulu hingga hilir. (Masoem University)
Info Pendaftaran Ma’soem University
Bagi calon mahasiswa yang ingin mengambil S1 Teknologi Pangan atau S1 Agribisnis di Ma’soem University, informasi pendaftaran dapat diperoleh melalui WhatsApp +62 851 8563 4253.
Peluang belajar di bidang pangan dan pertanian modern dapat menjadi langkah untuk mengenal persoalan nyata seperti food waste sekaligus memahami bagaimana inovasi teknologi, pengelolaan bisnis, dan pemanfaatan sumber daya dapat diterapkan dalam industri pangan masa depan.




