Oleh: Ananda Nurul Fauziyah, M.I.Kom
Jatinangor, 12 Agustus 2026 — Selama ini banyak mahasiswa berpikir, cukup lulus dengan IPK tinggi, karier akan berjalan mulus. Namun, ketika pertanyaan itu diajukan langsung kepada perusahaan, jawabannya ternyata tidak sesederhana itu.
Hal tersebut menjadi salah satu gambaran penting yang muncul dalam Focus Group Discussion (FGD) Perguruan Tinggi dan Industri yang diselenggarakan Career Development Center (CDC) Universitas Ma’soem pada Selasa (11/8). Dalam forum tersebut, 14 perusahaan dan instansi dari berbagai sektor, mulai dari perbankan, investasi, periklanan, energi, manufaktur, perhotelan, hingga pemerintahan dan pendidikan, duduk bersama untuk menyampaikan pandangan mengenai kompetensi lulusan yang mereka butuhkan.
Dari berbagai masukan yang disampaikan, ada satu hal yang menjadi bahan refleksi bersama: kemampuan akademik ternyata hanya separuh dari cerita tentang kesiapan kerja.
“Yang Kurang Bukan Ilmunya, Tapi Mentalnya”
Kalau ada satu hal yang disepakati hampir semua perusahaan yang hadir, itu adalah soal kesiapan mental. Daya juang, etika kerja, integritas, kedisiplinan, dan tanggung jawab disebut berulang kali sebagai fondasi yang wajib dimiliki sebelum seseorang benar-benar siap kerja — bukan sekadar siap lulus. Kemampuan berkomunikasi, bekerja dalam tim, dan menjaga etika saat berinteraksi dengan rekan kerja pun masih dianggap perlu diperkuat.
Di lapangan, tantangannya lebih konkret lagi. Sejumlah lulusan dinilai belum benar-benar memahami alur kerja yang sesungguhnya, bagaimana menyelesaikan masalah saat situasi tidak sesuai rencana, dan bagaimana budaya kerja industri berjalan sehari-hari. Banyak perusahaan menilai ini terjadi karena durasi PPL atau magang mahasiswa masih relatif singkat, sehingga pengalaman yang didapat pun belum cukup matang.
Cerita dari Berbagai Industri, Kebutuhan yang Ternyata Saling Melengkapi
Menariknya, meski datang dari sektor yang berbeda-beda, kebutuhan setiap perusahaan justru saling melengkapi satu sama lain dan bersama-sama membentuk gambaran utuh tentang lulusan ideal.
Di sektor keuangan, BPRS Ma’soem menyoroti pentingnya kesiapan teknis dan pemahaman operasional perbankan, dipadukan dengan kemampuan non-teknis seperti problem solving dan manajemen waktu. Sejalan dengan itu, Mirae Asset menekankan kemampuan berpikir analitis, kecakapan memanfaatkan AI, mengolah data lewat MS Office, serta kelincahan beradaptasi dengan perubahan kondisi pasar belum lagi kemampuan bekerja dalam tim yang menurut mereka masih perlu diasah.
Dari dunia digital, PANDI menggarisbawahi bahwa integritas dan kemampuan berpikir kritis harus berjalan beriringan dengan komunikasi yang efektif, baik lisan maupun tulisan, dan menilai sertifikasi profesional bisa menjadi nilai jual tersendiri bagi lulusan. Sementara di industri kreatif, Ogilvy Indonesia punya penekanan berbeda: portofolio. Bukan sekadar kumpulan karya, tapi portofolio yang menunjukkan pemahaman brief, ketelitian pada detail, orisinalitas, dan kepekaan terhadap kebutuhan bisnis klien. Mereka bahkan menilai magang selama 3–6 bulan jauh lebih efektif membentuk pemahaman soal ritme kerja di industri kreatif dibanding magang yang terlalu singkat.
Sektor energi dan manufaktur bicara lebih spesifik. PT Pertalumas (SPBE) menekankan pentingnya bekal kompetensi dasar perpajakan bagi calon karyawan di bidangnya, sementara PT Indofood menyoroti kesiapan mental dalam menghadapi skala operasional besar dibutuhkan etika kerja, resilience, responsibility, dan kemampuan analisis yang matang. Di internal kampus sendiri, PT Ma’soem mencatat fakta menarik: banyak lulusan saat ini masih terserap di posisi operator, sehingga ke depan dibutuhkan pembekalan yang lebih mengarah ke marketing dan sales, termasuk kesiapan menghadapi wawancara kerja.
Industri perhotelan punya kebutuhan yang lebih teknis dan spesifik. The Kings & El Royale menyebut kompetensi seperti alur keuangan, penjadwalan pembayaran, payroll, ERP, dan Excel sebagai bekal wajib, ditambah table manner dan etika kerja yang menjadi standar tak tertulis di industri ini. Sementara itu, PT Tarum Sinergi Indonesia membutuhkan lulusan yang memahami administrasi dan finansial dasar sekaligus mampu berkomunikasi langsung dengan masyarakat di lapangan, termasuk petani di daerah.
Suara dari sektor pemerintahan dan pendidikan tak kalah penting. Pemerintah Kabupaten Sumedang mendorong agar ada keterkaitan yang lebih kuat antara jurusan kuliah, kegiatan magang, dan peluang kerja setelah lulus lengkap dengan usulan tes pemetaan kompetensi (mapping), penguatan portofolio, dan literasi teknologi dasar. Edu Privat menyoroti kompetensi komunikasi dengan siswa dan orang tua bagi calon tenaga pengajar, dibarengi kedisiplinan dan tanggung jawab. Sementara Yayasan Al-Ma’soem membuka data menarik: kebutuhan tenaga pendidik saat ini mencapai sekitar 80%, namun kemampuan Bahasa Inggris lulusan dinilai masih perlu ditingkatkan, diiringi penguatan akhlak, kejujuran, karakter, dan daya juang.

Satu Benang Merah dari 14 Suara Berbeda
Meski datang dari latar belakang industri yang jauh berbeda, seluruh masukan itu bermuara pada satu kesimpulan: lulusan hari ini dituntut punya paduan seimbang antara kemampuan akademik-teknis dan soft skill karakter, komunikasi, kerja sama tim, kemampuan analitis, serta melek teknologi dan AI. Pengalaman magang yang berkualitas, portofolio yang kuat, sertifikasi profesional, dan pengalaman berorganisasi pun konsisten disebut sebagai nilai tambah yang membedakan satu lulusan dengan lulusan lainnya di mata industri.
Langkah Universitas Ma’soem Selanjutnya
Bagi Universitas Ma’soem, FGD ini bukan sekadar forum diskusi, melainkan bentuk komitmen nyata untuk terus menjembatani dunia pendidikan dengan kebutuhan industri secara langsung. Masukan dari 14 mitra ini akan menjadi bahan evaluasi penting mulai dari penguatan kurikulum, perpanjangan dan pendalaman program PPL/magang, hingga pengayaan program pengembangan karakter dan soft skill mahasiswa melalui CDC.
Dengan kata lain, pesan dari dunia industri sudah jelas. Kini giliran kampus dan mahasiswa menjawabnya.




