konteks pembelajaran Bahasa Inggris sebagai bahasa asing (English as a Foreign Language/EFL), penggunaan bahasa target secara penuh sering dianggap sebagai indikator keberhasilan proses belajar mengajar. Guru diharapkan menggunakan Bahasa Inggris sebanyak mungkin agar siswa terbiasa dengan paparan bahasa target. Namun, realitas di kelas menunjukkan bahwa baik guru maupun siswa kerap melakukan code mixing atau pencampuran bahasa, khususnya antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
Fenomena code mixing dalam kelas Bahasa Inggris masih sering dipandang sebagai kelemahan kompetensi berbahasa. Padahal, dalam kajian sosiolinguistik, code mixing justru dapat berfungsi sebagai strategi komunikasi yang efektif untuk menjaga kelancaran interaksi dan meningkatkan pemahaman materi. Oleh karena itu, penting bagi calon pendidik dan praktisi pendidikan untuk memahami peran code mixing secara lebih komprehensif.
Pengertian Code Mixing dalam Pembelajaran Bahasa
Code mixing adalah penggunaan dua atau lebih bahasa dalam satu tuturan atau satu konteks komunikasi tanpa adanya perubahan situasi secara signifikan. Dalam kelas Bahasa Inggris, code mixing biasanya muncul ketika guru atau siswa menyisipkan kata, frasa, atau kalimat Bahasa Indonesia ke dalam Bahasa Inggris, atau sebaliknya.
Contoh sederhana code mixing yang sering ditemui di kelas adalah ungkapan seperti “Open your book halaman 25” atau “Please submit tugasnya besok.” Bentuk pencampuran ini terjadi secara spontan dan alami, terutama dalam konteks bilingual seperti di Indonesia.
Faktor Penyebab Terjadinya Code Mixing
Ada beberapa faktor yang menyebabkan code mixing sering muncul dalam pembelajaran Bahasa Inggris, di antaranya:
- Keterbatasan kosakata siswa
Siswa sering mencampur bahasa ketika tidak menemukan padanan kata dalam Bahasa Inggris yang sesuai dengan maksud mereka. - Strategi pedagogis guru
Guru sengaja menggunakan code mixing untuk memastikan siswa memahami instruksi, konsep, atau materi yang bersifat abstrak. - Lingkungan bilingual
Bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu memiliki pengaruh kuat dalam proses berpikir dan berkomunikasi siswa. - Efisiensi komunikasi
Penggunaan bahasa campuran dianggap lebih cepat dan efektif dalam situasi tertentu, terutama saat waktu pembelajaran terbatas.
Code Mixing sebagai Strategi Pembelajaran
Dalam perspektif modern pembelajaran bahasa, code mixing tidak selalu berdampak negatif. Justru, dalam batas yang wajar, code mixing dapat berfungsi sebagai scaffolding atau penopang pembelajaran. Guru dapat menggunakan Bahasa Indonesia untuk menjelaskan konsep sulit, kemudian kembali ke Bahasa Inggris setelah siswa memahami konteksnya.
Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan code mixing secara terkontrol dapat mengurangi kecemasan siswa dalam belajar Bahasa Inggris. Siswa menjadi lebih berani berbicara karena tidak takut melakukan kesalahan. Hal ini sangat penting terutama pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, di mana kepercayaan diri siswa masih dalam tahap perkembangan.
Implikasi Code Mixing bagi Calon Guru Bahasa Inggris
Bagi mahasiswa pendidikan Bahasa Inggris, pemahaman terhadap code mixing menjadi bekal penting dalam praktik mengajar. Calon guru tidak hanya dituntut mahir berbahasa Inggris, tetapi juga mampu menyesuaikan penggunaan bahasa dengan kondisi kelas dan karakteristik siswa.
Di lingkungan akademik seperti Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) di Ma’soem University, kajian tentang code mixing relevan untuk dikembangkan dalam mata kuliah sosiolinguistik, microteaching, maupun praktik pengalaman lapangan (PPL). Mahasiswa dilatih untuk bersikap reflektif terhadap penggunaan bahasa di kelas, bukan sekadar mengejar penggunaan Bahasa Inggris secara penuh tanpa mempertimbangkan efektivitas pembelajaran.
Code Mixing dalam Praktik Microteaching
Dalam kegiatan microteaching, code mixing sering muncul secara alami. Misalnya, saat mahasiswa praktikan memberikan instruksi atau mengelola kelas, mereka cenderung mencampurkan Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia agar simulasi pembelajaran berjalan lancar.
Hal ini seharusnya tidak langsung dinilai sebagai kesalahan, melainkan sebagai bahan refleksi. Dosen pembimbing dapat mengarahkan mahasiswa untuk mengevaluasi kapan code mixing diperlukan dan kapan harus dikurangi. Dengan demikian, mahasiswa mampu mengembangkan kesadaran linguistik dan pedagogis secara seimbang.
Tantangan dan Batasan Penggunaan Code Mixing
Meskipun memiliki manfaat, code mixing tetap perlu dikontrol. Penggunaan yang berlebihan dapat mengurangi paparan Bahasa Inggris yang seharusnya diterima siswa. Jika guru terlalu sering beralih ke Bahasa Indonesia, siswa akan kehilangan kesempatan untuk melatih kemampuan menyimak dan berbicara dalam Bahasa Inggris.
Oleh karena itu, guru perlu menetapkan batasan yang jelas. Code mixing sebaiknya digunakan sebagai alat bantu, bukan sebagai bahasa utama dalam pembelajaran. Tujuan akhirnya tetap pada peningkatan kompetensi Bahasa Inggris siswa secara bertahap.
Code mixing dalam kelas Bahasa Inggris merupakan fenomena linguistik yang tidak dapat dihindari dalam konteks pembelajaran bahasa asing di Indonesia. Alih-alih dipandang sebagai kelemahan, code mixing dapat dimanfaatkan sebagai strategi komunikasi dan pembelajaran yang efektif apabila digunakan secara tepat dan terkontrol.





