Pengalaman mengajar pertama sering kali menjadi momen krusial bagi mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Tidak sedikit mahasiswa yang merasa antusias, tetapi pada saat yang sama juga dibayangi rasa cemas. Kegagalan dalam proses mengajar atau teaching failure menjadi fenomena yang kerap muncul, terutama ketika mahasiswa menjalani microteaching, praktik mengajar terbimbing, maupun Program Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP). Situasi ini menuntut mahasiswa memiliki coping strategy yang tepat agar kegagalan tidak berdampak negatif terhadap perkembangan profesionalnya sebagai calon guru.
Teaching failure dapat diartikan sebagai kondisi ketika tujuan pembelajaran tidak tercapai secara optimal. Bentuknya beragam, mulai dari siswa tidak memahami materi, kelas menjadi tidak kondusif, metode yang digunakan kurang efektif, hingga mahasiswa kehilangan kepercayaan diri saat mengajar. Kegagalan ini tidak selalu mencerminkan ketidakmampuan, melainkan bagian dari proses belajar yang kompleks dalam dunia pendidikan.
Mahasiswa FKIP, termasuk yang menempuh pendidikan di Ma’soem University, dihadapkan pada tuntutan untuk tidak hanya menguasai materi ajar, tetapi juga keterampilan pedagogik, manajemen kelas, dan komunikasi interpersonal. Ketika teaching failure terjadi, respons emosional seperti frustrasi, cemas, atau rasa tidak percaya diri sering muncul. Oleh karena itu, strategi coping menjadi aspek penting dalam menjaga kesehatan mental dan keberlanjutan proses belajar mengajar.
Faktor Penyebab Teaching Failure
Teaching failure pada mahasiswa FKIP umumnya dipengaruhi oleh berbagai faktor. Kurangnya pengalaman mengajar menjadi faktor dominan, terutama bagi mahasiswa semester awal. Perencanaan pembelajaran yang belum matang, pemilihan metode yang tidak sesuai karakteristik siswa, serta keterbatasan penguasaan kelas turut memperbesar kemungkinan kegagalan.
Tekanan akademik dan ekspektasi yang tinggi juga berperan signifikan. Mahasiswa sering kali merasa harus tampil sempurna di depan dosen pembimbing maupun teman sebaya. Ketika realitas di kelas tidak sesuai harapan, rasa gagal mudah muncul. Selain itu, kondisi siswa yang heterogen, baik dari segi kemampuan maupun motivasi belajar, menjadi tantangan tersendiri bagi calon guru.
Coping Strategy sebagai Respons Adaptif
Coping strategy merujuk pada upaya individu untuk mengelola tuntutan internal dan eksternal yang dianggap menekan. Dalam konteks teaching failure, coping strategy membantu mahasiswa FKIP menafsirkan kegagalan secara lebih konstruktif. Strategi ini dapat diklasifikasikan ke dalam dua kategori utama, yaitu problem-focused coping dan emotion-focused coping.
Problem-focused coping berorientasi pada upaya mengatasi sumber masalah secara langsung. Mahasiswa yang menggunakan strategi ini cenderung melakukan refleksi pembelajaran, mengevaluasi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), serta mencari alternatif metode dan media yang lebih efektif. Diskusi dengan dosen pembimbing dan teman sejawat juga menjadi bentuk coping yang produktif karena membuka ruang berbagi pengalaman dan solusi.
Sementara itu, emotion-focused coping berfokus pada pengelolaan emosi negatif akibat kegagalan. Strategi ini meliputi penerimaan diri, regulasi emosi, serta penguatan motivasi internal. Mahasiswa belajar memahami bahwa kegagalan mengajar bukanlah akhir dari kompetensi profesional, melainkan bagian dari proses pembentukan identitas guru.
Peran Refleksi dalam Mengatasi Kegagalan Mengajar
Refleksi menjadi kunci utama dalam coping strategy mahasiswa FKIP. Melalui refleksi, mahasiswa dapat mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan dalam praktik mengajar yang telah dilakukan. Proses ini membantu mengubah pengalaman negatif menjadi pembelajaran bermakna.
Di lingkungan FKIP Ma’soem University, refleksi pembelajaran sering diintegrasikan dalam kegiatan microteaching dan PLP. Mahasiswa didorong untuk menuliskan jurnal reflektif, melakukan peer feedback, serta menerima masukan dari dosen pembimbing. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan kompetensi pedagogik, tetapi juga membangun resiliensi akademik.
Dukungan Sosial dan Lingkungan Akademik
Dukungan sosial berperan besar dalam membantu mahasiswa menghadapi teaching failure. Interaksi positif dengan dosen, teman seangkatan, dan komunitas akademik menciptakan rasa aman secara psikologis. Lingkungan yang suportif memungkinkan mahasiswa untuk mengakui kegagalan tanpa rasa takut akan stigma.
Sebagai institusi pendidikan yang menyiapkan calon pendidik, Ma’soem University menempatkan pengembangan karakter dan kesiapan mental mahasiswa FKIP sebagai bagian dari proses pembelajaran. Pendampingan akademik dan suasana belajar yang kondusif menjadi modal penting dalam membangun coping strategy yang adaptif.
Implikasi bagi Pengembangan Calon Guru
Kemampuan menghadapi teaching failure melalui coping strategy yang efektif memiliki implikasi jangka panjang. Mahasiswa FKIP yang mampu mengelola kegagalan cenderung memiliki kepercayaan diri lebih baik, fleksibilitas pedagogik, serta kesiapan menghadapi dinamika kelas yang kompleks. Hal ini sejalan dengan tuntutan profesi guru yang membutuhkan ketahanan mental dan kemampuan reflektif tinggi.
Teaching failure seharusnya dipandang sebagai pengalaman belajar, bukan indikator kegagalan permanen. Melalui coping strategy yang tepat, mahasiswa FKIP dapat menjadikan setiap tantangan sebagai sarana pengembangan diri. Proses ini pada akhirnya membentuk calon guru yang profesional, adaptif, dan berorientasi pada pembelajaran berkelanjutan.
Coping strategy mahasiswa FKIP saat mengalami teaching failure merupakan aspek penting dalam pendidikan calon guru. Strategi ini membantu mahasiswa mengelola tekanan, mengembangkan kompetensi, serta membangun identitas profesional secara matang.





