Belajar tidak selalu harus dimulai dari buku teks, definisi panjang, atau materi yang terasa jauh dari kehidupan siswa. Banyak hal yang ditemui setiap hari sebenarnya dapat menjadi pintu masuk untuk memahami pengetahuan baru. Gunung meletus, makanan yang disukai atau tidak disukai, kondisi lingkungan, hingga kebiasaan di rumah bisa dikembangkan menjadi bahan belajar yang menarik.
Pendekatan seperti ini membuat pembelajaran terasa lebih dekat karena siswa tidak hanya menerima informasi, tetapi juga menghubungkannya dengan pengalaman yang sudah mereka miliki. Topik sehari-hari bahkan dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, pemecahan masalah, serta kemampuan memahami informasi dari berbagai sudut pandang.
Mengapa Topik Sehari-hari Cocok untuk Bahan Belajar?
Salah satu tantangan dalam pembelajaran adalah membuat siswa melihat hubungan antara materi di kelas dan kehidupan nyata. Ketika materi terasa terlalu abstrak, siswa mungkin memahami definisinya tetapi belum tentu mengetahui bagaimana pengetahuan tersebut digunakan.
Topik yang dekat dengan kehidupan dapat membantu membangun hubungan tersebut. Misalnya, pembahasan mengenai gunung meletus dapat digunakan untuk mengenalkan proses geologi, mitigasi bencana, perubahan lingkungan, hingga cara menyampaikan informasi kebencanaan.
Begitu pula dengan topik picky eater atau kebiasaan memilih makanan. Guru dapat menggunakannya untuk mengajak siswa mengenal kosakata bahasa Inggris tentang makanan, membicarakan pola makan, menyampaikan alasan, atau berlatih membuat percakapan.
Pengalaman yang sudah dikenal siswa menjadi titik awal sebelum mereka diarahkan menuju konsep yang lebih luas.
Gunung Meletus Bisa Masuk ke Banyak Mata Pelajaran
Gunung meletus merupakan contoh topik sehari-hari yang memiliki banyak kemungkinan untuk dikembangkan menjadi kegiatan pembelajaran. Peristiwa tersebut tidak hanya berkaitan dengan ilmu pengetahuan alam.
Beberapa materi yang dapat dikaitkan antara lain:
- IPA: proses terbentuknya gunung api, magma, lava, abu vulkanik, dan dampaknya terhadap lingkungan.
- Geografi: kondisi wilayah yang berada di sekitar gunung berapi dan persebaran gunung api.
- Bahasa Indonesia: menulis teks eksplanasi atau membuat laporan mengenai bencana.
- Bahasa Inggris: mempelajari vocabulary tentang natural disasters dan melakukan presentasi sederhana.
- Pendidikan sosial: membahas dampak bencana terhadap masyarakat dan pentingnya kesiapsiagaan.
- Literasi informasi: membandingkan informasi dari berita, media sosial, dan sumber resmi.
Satu topik dapat menghasilkan beberapa aktivitas pembelajaran selama guru menentukan tujuan yang jelas. Siswa juga dapat melihat bahwa sebuah fenomena tidak berdiri sendiri karena memiliki hubungan dengan ilmu dan kehidupan sosial.
Picky Eater Bisa Menjadi Materi Bahasa yang Menarik
Istilah picky eater merujuk pada seseorang yang cenderung sangat selektif dalam memilih makanan. Bagi siswa, topik ini cukup dekat karena pengalaman mengenai makanan biasanya mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pembelajaran bahasa Inggris, misalnya, guru dapat memulai kegiatan dari pertanyaan sederhana seperti “What food do you like?”, “What food don’t you like?”, atau “Why don’t you like it?”
Dari pertanyaan tersebut, pembelajaran dapat berkembang menjadi materi vocabulary, expression of preference, alasan, hingga percakapan.
Siswa dapat belajar menggunakan kata-kata seperti sweet, salty, spicy, sour, bitter, delicious, dan healthy. Mereka juga dapat berlatih membuat kalimat untuk menyatakan kesukaan dan ketidaksukaan terhadap makanan.
Topik tersebut menjadi lebih dari sekadar latihan kosakata. Siswa belajar menggunakan bahasa untuk membicarakan sesuatu yang memang mereka kenal.
Topik Sederhana Dapat Melatih Kemampuan Berpikir Kritis
Menggunakan kehidupan sehari-hari sebagai bahan belajar bukan berarti pembelajaran harus dibuat sederhana tanpa tantangan. Justru topik yang dekat dapat dikembangkan menjadi pertanyaan yang membutuhkan penalaran.
Pada topik picky eater, misalnya, siswa dapat diajak menjawab pertanyaan:
- Mengapa seseorang mungkin tidak menyukai makanan tertentu?
- Apakah semua makanan yang disukai seseorang pasti sehat?
- Bagaimana cara menyampaikan pendapat mengenai makanan tanpa menyinggung orang lain?
- Apakah kebiasaan memilih makanan dapat berubah?
Sementara itu, topik gunung meletus dapat diarahkan pada pertanyaan mengenai tindakan yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah bencana. Siswa juga dapat diminta membedakan informasi yang bersifat fakta dari informasi yang belum terverifikasi.
Aktivitas seperti ini membantu siswa tidak hanya mengingat materi, tetapi juga menilai informasi dan memberikan alasan atas pendapat mereka.
Guru Berperan Memilih Sudut Pandang yang Tepat
Tidak semua topik sehari-hari otomatis menjadi bahan belajar yang efektif. Guru tetap perlu menentukan tujuan pembelajaran dan menyesuaikan topik dengan usia serta kemampuan siswa.
Sebuah topik dapat dikembangkan melalui beberapa tahap:
Mulai dari pengalaman siswa. Guru mengangkat situasi yang familiar agar siswa memiliki pengetahuan awal.
Hubungkan dengan materi. Fenomena tersebut kemudian dikaitkan dengan konsep yang sedang dipelajari.
Berikan aktivitas. Siswa dapat berdiskusi, melakukan pengamatan, membaca sumber, membuat presentasi, atau mengerjakan proyek.
Ajak melakukan refleksi. Siswa melihat kembali apa yang mereka pelajari dan bagaimana pengetahuan tersebut berkaitan dengan kehidupan mereka.
Pola ini membuat pembelajaran tetap memiliki arah. Topik yang digunakan bukan sekadar pemanis kegiatan, melainkan menjadi media untuk mencapai kompetensi tertentu.
Pembelajaran Kontekstual Membuat Materi Lebih Dekat
Pendekatan yang menghubungkan pembelajaran dengan situasi nyata sering kali membuat siswa lebih mudah memahami alasan mengapa mereka perlu mempelajari suatu materi. Konsep yang awalnya terlihat jauh dapat memperoleh konteks melalui pengalaman sederhana.
Misalnya, pembelajaran tentang lingkungan dapat dimulai dari kondisi sampah di sekitar sekolah. Materi matematika dapat dikaitkan dengan perhitungan uang saku atau harga makanan. Bahasa Inggris dapat menggunakan percakapan tentang makanan, pakaian, hobi, dan aktivitas sehari-hari.
Kedekatan konteks juga membuka kesempatan bagi siswa untuk mengemukakan pengalaman dan pendapat. Hal tersebut dapat membuat interaksi kelas menjadi lebih aktif, terutama jika guru memberikan pertanyaan terbuka dan kesempatan bagi siswa untuk saling menanggapi.
Relevansinya bagi Calon Guru
Kemampuan mengubah fenomena sehari-hari menjadi kegiatan belajar merupakan salah satu keterampilan yang relevan bagi calon pendidik. Guru perlu memahami materi sekaligus mampu melihat kemungkinan pembelajaran dari lingkungan sekitar.
Di tingkat perguruan tinggi, mahasiswa yang mempelajari bidang pendidikan dapat berlatih menyusun kegiatan pembelajaran berdasarkan kebutuhan dan karakteristik peserta didik. Ma’soem University sebagai salah satu kampus swasta di Bandung dapat menjadi pilihan bagi mahasiswa yang ingin menekuni bidang pendidikan.
Pada FKIP Ma’soem University, program studi yang tersedia adalah Bimbingan dan Konseling (BK) serta Pendidikan Bahasa Inggris. Kedua bidang tersebut memiliki ruang pembelajaran yang berkaitan dengan pemahaman peserta didik, proses pendidikan, dan penggunaan strategi yang sesuai dalam kegiatan belajar.
Bagi calon guru Bahasa Inggris, misalnya, kemampuan mengambil topik yang dekat dengan siswa dapat membantu menciptakan kegiatan pembelajaran bahasa yang lebih komunikatif. Topik seperti makanan, olahraga, lingkungan, teknologi, atau peristiwa alam dapat menjadi konteks untuk melatih kemampuan berbicara, membaca, menulis, dan menyimak.
Dari Hal yang Dekat Menuju Pengetahuan yang Lebih Luas
Gunung meletus dan picky eater menunjukkan bahwa bahan belajar tidak selalu harus dicari dari topik yang rumit. Hal yang ditemui siswa dalam kehidupan sehari-hari justru dapat menjadi titik awal untuk mengenalkan konsep yang lebih luas.
Kuncinya terletak pada bagaimana guru mengolah topik tersebut menjadi pengalaman belajar yang memiliki tujuan. Fenomena sederhana dapat menghasilkan diskusi, latihan bahasa, analisis informasi, kegiatan proyek, maupun pemecahan masalah ketika dirancang sesuai kebutuhan pembelajaran.
Pendekatan ini juga memberikan ruang bagi siswa untuk memahami bahwa belajar tidak hanya berlangsung ketika mereka membuka buku pelajaran. Lingkungan, pengalaman, percakapan, berita, makanan, dan berbagai peristiwa yang mereka temui dapat menjadi sumber pertanyaan yang mendorong mereka untuk terus belajar.
Informasi Ma’soem University
No. WhatsApp: 085185634253
Instagram: @masoem_university
Web Pendaftaran: pmb.masoemuniversity.com




