Setiap anak memiliki ketertarikan yang berbeda. Ada yang senang menggambar, bermain sepak bola, membaca cerita, memasak, menggunakan teknologi, atau mendengarkan musik. Ketertarikan tersebut ternyata dapat menjadi salah satu jalan untuk membuat proses belajar terasa lebih mudah dan menyenangkan.
Ketika materi pelajaran dikaitkan dengan sesuatu yang sudah dikenal dan disukai, anak tidak merasa sedang berhadapan dengan informasi yang sepenuhnya asing. Mereka memiliki pengalaman atau pengetahuan awal yang dapat digunakan untuk memahami materi baru. Karena itu, menghubungkan pembelajaran dengan minat anak dapat menjadi salah satu pendekatan yang membantu meningkatkan keterlibatan mereka di kelas.
Minat Membantu Anak Lebih Fokus Saat Belajar
Perhatian merupakan bagian penting dalam proses pembelajaran. Anak cenderung lebih mudah memusatkan perhatian pada sesuatu yang menurut mereka menarik. Sebaliknya, materi yang dianggap membosankan atau terlalu jauh dari pengalaman sehari-hari dapat membuat perhatian cepat berpindah.
Misalnya, anak yang menyukai sepak bola mungkin lebih tertarik mempelajari matematika ketika soal cerita menggunakan konteks pertandingan, jumlah pemain, skor, atau statistik sederhana. Materi matematika tetap sama, tetapi konteks yang digunakan membuatnya terasa lebih dekat.
Ketertarikan tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi guru untuk memperkenalkan konsep yang lebih kompleks. Setelah perhatian anak terbentuk, guru dapat secara bertahap mengarahkan mereka pada tujuan pembelajaran yang sebenarnya.
Materi yang Dekat dengan Pengalaman Lebih Mudah Dipahami
Anak tidak belajar dari ruang kosong. Mereka sudah memiliki pengalaman, pengetahuan, kebiasaan, dan lingkungan yang membentuk cara mereka memahami informasi baru.
Ketika materi pelajaran dikaitkan dengan pengalaman yang familiar, anak dapat menghubungkan informasi baru dengan sesuatu yang sudah mereka ketahui. Proses tersebut membuat konsep yang abstrak menjadi lebih konkret.
Sebagai contoh, pembelajaran bahasa Inggris tentang kosakata dapat menggunakan benda atau aktivitas yang sering ditemui anak. Anak yang menyukai hewan dapat diperkenalkan pada kosakata seperti cat, dog, rabbit, atau bird melalui gambar, cerita, maupun permainan. Anak tidak hanya menghafalkan kata, tetapi juga menghubungkannya dengan sesuatu yang sudah menarik perhatian mereka.
Pendekatan seperti ini dapat membuat pembelajaran terasa lebih relevan. Anak memiliki alasan yang lebih jelas untuk memahami materi karena mereka dapat melihat hubungan antara pelajaran dan kehidupan sehari-hari.
Rasa Senang Dapat Mendorong Motivasi Belajar
Motivasi memiliki peran penting dalam menentukan seberapa besar usaha yang diberikan anak ketika belajar. Anak yang merasa tertarik biasanya lebih bersedia mencoba, bertanya, dan mengikuti aktivitas pembelajaran.
Menggunakan minat anak bukan berarti semua materi harus dibuat seperti permainan. Guru tetap perlu menjaga tujuan pembelajaran. Hal yang berubah adalah cara materi diperkenalkan agar lebih sesuai dengan dunia anak.
Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain:
- Menggunakan topik yang sesuai dengan hobi atau ketertarikan siswa.
- Menghubungkan soal dengan pengalaman sehari-hari.
- Memberikan pilihan aktivitas ketika memungkinkan.
- Menggunakan cerita, gambar, atau media yang relevan dengan usia siswa.
- Memberikan kesempatan kepada anak untuk menjelaskan materi melalui sesuatu yang mereka sukai.
Pilihan tersebut dapat memberikan ruang bagi anak untuk lebih aktif dalam proses pembelajaran.
Anak Lebih Aktif Ketika Merasa Memiliki Keterkaitan
Pembelajaran yang menarik tidak hanya membuat anak memperhatikan guru. Ketertarikan juga dapat mendorong mereka untuk berpartisipasi.
Anak yang menyukai teknologi, misalnya, dapat lebih antusias ketika diminta mencari informasi, membuat presentasi sederhana, atau menggunakan media digital sebagai bagian dari pembelajaran. Anak yang gemar menggambar dapat diberi kesempatan menyampaikan pemahaman melalui ilustrasi. Sementara itu, anak yang senang berbicara atau bercerita dapat dilibatkan dalam kegiatan presentasi dan diskusi.
Aktivitas tersebut memberi kesempatan kepada anak untuk menunjukkan pemahamannya melalui cara yang sesuai dengan kekuatan dan ketertarikannya. Guru pun dapat melihat bahwa satu materi bisa dipahami melalui berbagai bentuk kegiatan.
Guru Tetap Perlu Menyesuaikan dengan Tujuan Pembelajaran
Mengaitkan materi dengan hal yang disukai anak bukan berarti guru harus selalu mengikuti keinginan siswa. Minat berfungsi sebagai jembatan menuju materi, bukan menggantikan tujuan pembelajaran.
Guru perlu memastikan bahwa aktivitas yang digunakan tetap berkaitan dengan kompetensi yang ingin dicapai. Jika pembelajaran bertujuan meningkatkan kemampuan membaca, misalnya, topik favorit siswa dapat digunakan sebagai bahan bacaan. Setelah itu, siswa tetap diarahkan untuk menemukan gagasan utama, memahami kosakata, atau menjawab pertanyaan berdasarkan teks.
Pendekatan ini juga perlu mempertimbangkan bahwa tidak semua anak memiliki minat yang sama. Guru dapat menggunakan beberapa konteks atau memberikan pilihan agar pembelajaran tidak hanya cocok bagi kelompok siswa tertentu.
Peran Orang Tua dalam Menghubungkan Belajar dan Minat Anak
Upaya mengaitkan pembelajaran dengan minat anak juga dapat dilakukan di rumah. Orang tua tidak harus selalu menyediakan kegiatan belajar formal. Aktivitas sehari-hari dapat menjadi kesempatan untuk memperkenalkan berbagai konsep.
Anak yang menyukai kegiatan memasak dapat belajar mengenal ukuran, angka, dan urutan melalui resep. Anak yang senang membaca komik dapat diajak berdiskusi tentang karakter dan alur cerita. Anak yang tertarik pada olahraga dapat belajar menghitung skor, memahami waktu, atau mencari informasi tentang atlet dan pertandingan.
Hal yang penting adalah memberikan kesempatan kepada anak untuk menyadari bahwa belajar tidak hanya terjadi ketika mereka membuka buku pelajaran. Pengetahuan dapat ditemukan melalui berbagai aktivitas yang dekat dengan kehidupan mereka.
Lingkungan Pendidikan Perlu Memberi Ruang bagi Minat Siswa
Kemampuan memahami karakter dan kebutuhan peserta didik menjadi salah satu bagian penting dalam dunia pendidikan. Guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi, tetapi juga perlu mempertimbangkan bagaimana siswa dapat terlibat secara aktif dalam pembelajaran.
Hal tersebut berkaitan pula dengan pendidikan calon tenaga pendidik. Di Ma’soem University, salah satu kampus swasta di Bandung, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) memiliki dua program studi, yaitu Bimbingan dan Konseling (BK) serta Pendidikan Bahasa Inggris. Kedua bidang tersebut memiliki keterkaitan dengan pemahaman terhadap peserta didik dan proses pembelajaran, meskipun fokus keilmuannya berbeda.
Pemahaman terhadap karakter, kebutuhan, dan ketertarikan siswa dapat menjadi bekal penting bagi mahasiswa yang nantinya berkecimpung di bidang pendidikan. Guru maupun calon pendidik perlu melihat siswa bukan hanya dari hasil tugas dan nilai, tetapi juga dari cara mereka belajar, berinteraksi, serta menunjukkan ketertarikannya.
Ketertarikan Anak Bisa Menjadi Awal dari Kebiasaan Belajar
Minat tidak selalu menentukan bidang yang akan ditekuni anak di masa depan. Namun, ketertarikan dapat menjadi titik awal yang membuat anak lebih terbuka terhadap pengalaman belajar.
Ketika anak merasa bahwa apa yang dipelajari memiliki hubungan dengan dirinya, proses belajar dapat terasa lebih bermakna. Dari ketertarikan sederhana, anak dapat mulai bertanya, mencari informasi, mencoba sesuatu, dan mengembangkan rasa ingin tahu.
Karena itu, menghubungkan materi pelajaran dengan hal yang disukai anak bukan sekadar membuat kegiatan belajar lebih menyenangkan. Strategi tersebut dapat membantu guru menciptakan pembelajaran yang lebih dekat, relevan, dan memberi ruang bagi anak untuk terlibat secara aktif.
Informasi Ma’soem University
No. WhatsApp: 085185634253
Instagram: @masoem_university
Web Pendaftaran: pmb.masoemuniversity.com




