Pembelajaran bahasa Inggris tidak hanya berkaitan dengan penguasaan kosakata dan tata bahasa. Proses belajar yang berhasil juga sangat ditentukan oleh bagaimana interaksi terjadi di dalam kelas. Di sinilah discourse strategy atau strategi wacana berperan penting. Strategi ini membantu guru mengelola komunikasi, membangun makna bersama, serta mendorong partisipasi aktif siswa. Dalam konteks pengajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing (EFL), discourse strategy menjadi jembatan antara materi yang diajarkan dan pemahaman nyata yang dibangun siswa melalui interaksi.
Konsep Dasar Discourse Strategy dalam Pengajaran Bahasa
Discourse strategy merujuk pada cara guru dan siswa menggunakan bahasa secara terencana dalam interaksi kelas. Strategi ini mencakup pilihan ujaran, struktur tanya jawab, pola giliran berbicara, hingga cara memberikan umpan balik. Fokusnya bukan sekadar “apa yang diajarkan”, melainkan “bagaimana bahasa digunakan” selama proses belajar berlangsung.
Dalam kelas bahasa Inggris, discourse strategy berfungsi sebagai alat pedagogis. Guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga memodelkan penggunaan bahasa yang komunikatif, kontekstual, dan relevan dengan kebutuhan siswa.
Peran Guru sebagai Pengelola Wacana Kelas
Guru memiliki peran sentral dalam membentuk wacana kelas. Melalui pilihan bahasa, guru dapat menciptakan suasana belajar yang inklusif atau sebaliknya, kaku dan satu arah. Strategi seperti scaffolding talk, prompting, dan recasting sering digunakan untuk membantu siswa mengekspresikan ide tanpa merasa terintimidasi oleh kesalahan.
Alih-alih langsung mengoreksi, guru dapat mengulang ujaran siswa dalam bentuk yang lebih tepat. Cara ini menjaga kelancaran komunikasi sekaligus memberi contoh penggunaan bahasa yang benar. Peran guru sebagai fasilitator wacana menuntut kepekaan terhadap respons siswa dan fleksibilitas dalam menyesuaikan strategi komunikasi.
Discourse Strategy dan Interaksi Guru–Siswa
Interaksi guru–siswa menjadi inti pembelajaran bahasa. Strategi wacana seperti open-ended questions mendorong siswa berpikir kritis dan berbicara lebih panjang. Pertanyaan tertutup memang berguna, tetapi terlalu sering digunakan akan membatasi ruang ekspresi siswa.
Selain itu, wait time atau jeda waktu setelah guru bertanya juga merupakan bagian penting dari discourse strategy. Jeda ini memberi kesempatan siswa memproses bahasa dan menyusun jawaban, terutama bagi pembelajar EFL yang membutuhkan waktu lebih lama untuk merespons dalam bahasa target.
Strategi Wacana dalam Diskusi Kelas
Diskusi kelas menawarkan ruang luas bagi penerapan discourse strategy. Guru dapat mengatur giliran bicara agar tidak didominasi oleh siswa tertentu. Teknik seperti turn-taking cues dan follow-up questions membantu menjaga alur diskusi tetap hidup.
Penggunaan bahasa yang mendukung, misalnya ungkapan apresiasi atau klarifikasi, berkontribusi pada rasa aman siswa. Ketika siswa merasa dihargai, mereka cenderung lebih berani menggunakan bahasa Inggris meskipun masih terbatas.
Hubungan Discourse Strategy dan Kompetensi Komunikatif
Tujuan akhir pengajaran bahasa Inggris adalah pengembangan kompetensi komunikatif. Discourse strategy berperan langsung dalam proses ini karena siswa belajar menggunakan bahasa dalam konteks nyata. Melalui interaksi yang terstruktur namun fleksibel, siswa memahami fungsi bahasa untuk menyampaikan makna, bernegosiasi, dan membangun hubungan sosial.
Strategi wacana juga membantu siswa memahami norma komunikasi, seperti kapan harus berbicara, bagaimana merespons pendapat orang lain, dan cara menyampaikan ketidaksetujuan secara sopan.
Tantangan Penerapan Discourse Strategy di Kelas EFL
Penerapan discourse strategy tidak selalu berjalan mulus. Jumlah siswa yang besar, keterbatasan waktu, serta perbedaan tingkat kemampuan menjadi tantangan tersendiri. Beberapa guru masih terbiasa menggunakan pendekatan satu arah karena dianggap lebih efisien.
Namun, tanpa interaksi yang bermakna, pembelajaran bahasa cenderung bersifat pasif. Oleh karena itu, guru perlu menyesuaikan strategi wacana secara realistis sesuai konteks kelas. Perubahan kecil, seperti variasi jenis pertanyaan atau cara memberi umpan balik, sudah dapat membawa dampak signifikan.
Konteks Pendidikan Calon Guru Bahasa Inggris
Dalam pendidikan calon guru, pemahaman tentang discourse strategy menjadi bekal penting sebelum terjun ke kelas nyata. Program pendidikan guru bahasa Inggris menekankan pentingnya refleksi terhadap praktik komunikasi di kelas. Mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga mengamati dan mempraktikkan strategi wacana melalui kegiatan microteaching dan praktik lapangan.
Di lingkungan seperti FKIP Ma’soem University, pembelajaran bahasa Inggris diarahkan pada pengembangan kompetensi pedagogis yang realistis. Penekanan diberikan pada kemampuan mengelola kelas dan membangun interaksi yang efektif, bukan sekadar penguasaan materi linguistik. Pendekatan ini membantu calon guru memahami bahwa kualitas pembelajaran sangat dipengaruhi oleh cara mereka berkomunikasi dengan siswa.
Implikasi Discourse Strategy terhadap Kualitas Pembelajaran
Penerapan discourse strategy yang tepat berkontribusi pada peningkatan kualitas pembelajaran bahasa Inggris. Siswa menjadi lebih aktif, percaya diri, dan terbiasa menggunakan bahasa Inggris sebagai alat komunikasi. Guru pun memperoleh gambaran yang lebih akurat mengenai perkembangan kemampuan siswa melalui interaksi langsung.
Strategi wacana juga mendukung pembelajaran yang berpusat pada siswa. Kelas tidak lagi didominasi ceramah, melainkan menjadi ruang dialog yang dinamis. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini membentuk sikap positif terhadap pembelajaran bahasa.





