Faktor pembentuk teacher identity pada calon guru menjadi topik yang semakin penting dalam kajian pendidikan, khususnya dalam upaya meningkatkan kualitas guru di masa depan. Teacher identity atau identitas guru bukan hanya berkaitan dengan kemampuan mengajar di kelas, tetapi juga mencakup cara seorang calon guru memandang dirinya sendiri sebagai pendidik, nilai-nilai yang dipegang, serta peran profesional yang dijalani dalam lingkungan sekolah dan masyarakat. Identitas ini terbentuk melalui proses panjang yang dimulai sejak masa pendidikan keguruan.
Dalam konteks pendidikan tinggi, lembaga seperti Ma’soem University, khususnya Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), memiliki peran strategis dalam membentuk teacher identity mahasiswa calon guru. Melalui kurikulum, pengalaman praktik, serta budaya akademik, calon guru diarahkan untuk tidak hanya menjadi pengajar yang kompeten, tetapi juga pendidik yang berkarakter.
Pengertian Teacher Identity
Teacher identity dapat dipahami sebagai konstruksi dinamis yang mencerminkan bagaimana guru atau calon guru memahami peran, tanggung jawab, dan jati dirinya sebagai pendidik. Identitas ini tidak bersifat statis, melainkan terus berkembang seiring pengalaman belajar, interaksi sosial, dan refleksi diri. Bagi calon guru, teacher identity mulai terbentuk sejak mereka memilih jurusan kependidikan dan semakin menguat melalui proses perkuliahan, praktik mengajar, serta interaksi dengan dosen dan siswa.
Identitas guru juga berkaitan erat dengan nilai personal, keyakinan pedagogis, dan visi pendidikan yang dimiliki seseorang. Oleh karena itu, pembentukan teacher identity tidak dapat dilepaskan dari berbagai faktor yang saling memengaruhi.
Faktor Personal dalam Pembentukan Teacher Identity
Salah satu faktor pembentuk teacher identity pada calon guru adalah faktor personal. Faktor ini meliputi latar belakang keluarga, pengalaman belajar di masa sekolah, motivasi menjadi guru, serta nilai dan keyakinan individu. Banyak calon guru yang terinspirasi oleh sosok guru semasa sekolah, baik karena keteladanan maupun pendekatan mengajar yang dirasakan bermakna.
Motivasi intrinsik, seperti panggilan jiwa untuk mendidik atau keinginan berkontribusi bagi masyarakat, juga berperan penting. Calon guru dengan motivasi yang kuat cenderung memiliki identitas profesional yang lebih positif dan komitmen yang tinggi terhadap profesi keguruan.
Faktor Akademik dan Kurikulum Pendidikan Guru
Faktor berikutnya adalah aspek akademik, khususnya kurikulum pendidikan guru. Mata kuliah kependidikan, pedagogik, psikologi pendidikan, dan evaluasi pembelajaran memberikan landasan teoretis yang membentuk cara pandang calon guru terhadap proses belajar mengajar. Kurikulum yang relevan dan kontekstual membantu mahasiswa memahami peran guru secara utuh, tidak hanya sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator dan pembimbing.
Di FKIP Ma’soem University, kurikulum dirancang untuk menyeimbangkan antara teori dan praktik. Pendekatan ini mendorong mahasiswa untuk mengaitkan konsep yang dipelajari dengan realitas di lapangan, sehingga identitas keguruan terbentuk secara lebih realistis dan aplikatif.
Pengalaman Praktik Mengajar
Pengalaman praktik mengajar, seperti microteaching dan praktik pengalaman lapangan (PPL), merupakan faktor krusial dalam pembentukan teacher identity. Melalui praktik ini, calon guru menghadapi situasi nyata di kelas, berinteraksi langsung dengan siswa, serta merasakan tantangan dan dinamika pembelajaran.
Pengalaman ini sering kali menjadi titik balik dalam pembentukan identitas guru. Calon guru mulai merefleksikan gaya mengajar, cara berkomunikasi, dan strategi menghadapi perbedaan karakter siswa. Refleksi tersebut membantu mereka mengenali kekuatan dan kelemahan diri, sekaligus membentuk kepercayaan diri sebagai pendidik.
Faktor Sosial dan Lingkungan Akademik
Lingkungan sosial juga memengaruhi pembentukan teacher identity pada calon guru. Interaksi dengan dosen, teman sejawat, serta komunitas akademik membentuk cara berpikir dan bersikap profesional. Dosen tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai role model yang menunjukkan nilai-nilai keguruan, etika profesi, dan komitmen terhadap pendidikan.
Budaya akademik yang positif, kolaboratif, dan suportif akan mendorong calon guru untuk mengembangkan identitas profesional yang sehat. Diskusi, kerja kelompok, dan kegiatan organisasi kemahasiswaan juga menjadi wadah bagi mahasiswa untuk melatih kepemimpinan dan tanggung jawab sosial sebagai calon pendidik.
Refleksi Diri dan Kesadaran Profesional
Refleksi diri merupakan faktor internal yang sangat penting dalam pembentukan teacher identity. Melalui refleksi, calon guru mengevaluasi pengalaman belajar dan mengajarnya, serta mengaitkannya dengan tujuan profesional jangka panjang. Kesadaran akan peran dan tanggung jawab sebagai guru membantu mahasiswa membangun identitas yang matang dan berorientasi pada pengembangan diri berkelanjutan.
Perguruan tinggi yang mendorong budaya reflektif akan membantu mahasiswa menjadi calon guru yang adaptif dan terbuka terhadap perubahan, sejalan dengan tuntutan dunia pendidikan yang terus berkembang.
Peran LPTK dalam Membentuk Teacher Identity
Sebagai Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK), FKIP memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk teacher identity mahasiswa. Melalui kurikulum yang terstruktur, pengalaman praktik yang memadai, serta pembinaan karakter, calon guru dipersiapkan untuk menghadapi dunia kerja secara profesional.
FKIP Ma’soem University berupaya mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki identitas keguruan yang kuat, beretika, dan berorientasi pada nilai-nilai pendidikan nasional.
Faktor pembentuk teacher identity pada calon guru meliputi faktor personal, akademik, pengalaman praktik, lingkungan sosial, dan refleksi diri. Semua faktor tersebut saling berkaitan dan membentuk identitas guru secara bertahap dan dinamis. Perguruan tinggi, khususnya FKIP, memiliki peran sentral dalam memfasilitasi proses ini.





