Bagi mahasiswa Fakultas Pertanian atau Agribisnis di Universitas Ma’soem, kunjungan lapangan ke desa mitra atau lahan petani adalah momen krusial untuk mempraktikkan ilmu. Namun, terjun ke masyarakat bukan sekadar membawa buku catatan dan instrumen penelitian. Ada etika tak tertulis yang harus dijaga agar hubungan antara akademisi dan praktisi di lapangan tetap harmonis.
Seringkali, niat baik mahasiswa terhambat oleh kesalahan sikap yang tidak disengaja. Untuk menjaga nama baik almamater dan memastikan program kemitraan berjalan lancar, berikut adalah hal-hal yang pantang dilakukan saat berinteraksi dengan petani di lapangan:
1. Datang dengan Sikap “Menggurui”
Mahasiswa mungkin memiliki teori terbaru tentang teknologi pertanian, namun petani memiliki pengalaman praktis selama puluhan tahun. Jangan pernah memposisikan diri sebagai orang yang paling tahu segalanya. Hindari penggunaan istilah teknis yang terlalu rumit tanpa penjelasan sederhana, karena hal ini dapat menciptakan jarak komunikasi dan membuat petani merasa enggan untuk berbagi pengalaman mereka.
2. Mengabaikan Adat Istiadat dan Etika Lokal
Setiap desa memiliki norma kesopanan yang berbeda. Mengabaikan cara berpakaian yang pantas atau cara bertegur sapa yang berlaku di desa tersebut adalah kesalahan besar. Sebagai tamu, mahasiswa wajib menghormati kearifan lokal. Misalnya, jangan masuk ke area rumah atau lahan tertentu tanpa izin, dan selalu perhatikan bahasa tubuh yang sopan saat berbicara dengan orang yang lebih tua.
3. Memberikan Harapan atau Janji Manis
Ini adalah kesalahan yang paling sering dilakukan. Jangan pernah menjanjikan bantuan dana, alat mesin pertanian (alsintan), atau kepastian pasar jika Anda tidak memiliki otoritas atau anggaran untuk mewujudkannya. Janji yang tidak ditepati akan merusak kepercayaan petani terhadap kunjungan-kunjungan mahasiswa berikutnya di masa depan.
4. Melakukan Dokumentasi Tanpa Izin
Di era media sosial, mahasiswa seringkali langsung memotret atau merekam aktivitas petani demi konten atau laporan praktikum. Selalu mintalah izin sebelum mengambil gambar, terutama jika melibatkan wajah petani atau area pribadi mereka. Jelaskan tujuan dokumentasi tersebut agar mereka merasa nyaman dan dihargai sebagai mitra, bukan sekadar objek penelitian.
5. Memaksakan Waktu Kunjungan
Petani memiliki jadwal kerja yang sangat bergantung pada alam dan waktu matahari. Jangan datang tepat saat mereka sedang sibuk-sibuknya melakukan panen atau pemupukan jika tidak ingin mengganggu produktivitas mereka. Selalu lakukan koordinasi waktu sebelumnya melalui penyuluh lapangan atau ketua kelompok tani setempat.
6. Meremehkan Metode Tradisional
Hanya karena sebuah metode dianggap “kuno” dalam buku teks, bukan berarti metode tersebut tidak efektif. Jangan langsung mengkritik praktik pertanian tradisional yang dilakukan petani. Tugas mahasiswa adalah mengamati, memahami mengapa mereka melakukan hal tersebut, baru kemudian memberikan saran perbaikan secara perlahan dan berbasis bukti.
Peran Mahasiswa Universitas Ma’soem sebagai Fasilitator
Kunjungan lapangan adalah ajang untuk belajar, bukan sekadar menilai. Mahasiswa Universitas Ma’soem diharapkan hadir sebagai fasilitator yang mampu mendengar lebih banyak daripada berbicara. Dengan menjaga sikap dan menghormati posisi petani sebagai pahlawan pangan, mahasiswa dapat menyerap ilmu lapangan yang tidak akan pernah ditemukan di dalam ruang kelas.
Keberhasilan kunjungan lapangan tidak hanya diukur dari data yang didapat, tetapi dari kesan baik yang ditinggalkan. Dengan menghindari hal-hal di atas, hubungan antara perguruan tinggi dan desa mitra akan semakin kuat, membuka jalan bagi kolaborasi riset yang lebih bermakna, dan pada akhirnya membantu meningkatkan kesejahteraan petani lokal melalui sinergi antara sains dan pengalaman lapangan.





