HALAL FILES #2 Perjalanan Sebungkus Biskuit Menuju Sertifikasi Halal: Ternyata Tidak Sesederhana yang Kita Bayangkan!

Oleh : Lenny Amelia HK

Hari Pertama: Sebuah Ide Lahir

Sebuah perusahaan ingin meluncurkan produk baru. Bukan minuman. Bukan mi instan. Melainkan biskuit cokelat yang ditargetkan untuk pasar Indonesia dan beberapa negara lain. Tim pemasaran sangat optimis. Kemasan sudah didesain. Rasa sudah disukai dalam uji sensori. Namun… Direktur perusahaan berkata, “Produk ini belum boleh dipasarkan. Kita harus memastikan seluruh persyaratan telah dipenuhi, termasuk aspek kehalalannya.” Mengapa? Karena di industri pangan, kualitas produk tidak hanya diukur dari rasa, tetapi juga dari proses yang menjamin kepercayaan konsumen

Tahap Pertama: Memeriksa Setiap Bahan

Satu bungkus biskuit mungkin hanya terlihat sederhana. Namun di baliknya terdapat banyak komponen, seperti:

  • Tepung terigu.
  • Gula.
  • Kakao.
  • Susu bubuk.
  • Minyak nabati.
  • Pengembang.
  • Perisa.
  • Garam.

Tim perusahaan harus mengetahui informasi mengenai setiap bahan yang digunakan, termasuk dokumen pendukung yang diperlukan sesuai ketentuan yang berlaku. Satu bahan saja yang belum jelas status atau asal-usulnya dapat memerlukan evaluasi lebih lanjut sebelum digunakan

Tahap Kedua: Mengawasi Proses Produksi

Setelah bahan dinyatakan siap digunakan, perhatian beralih ke proses produksi. Pertanyaan yang harus dijawab antara lain:

  • Apakah bahan disimpan dengan benar?
  • Apakah proses pencampuran mengikuti prosedur?
  • Apakah peralatan dipelihara sesuai ketentuan perusahaan?
  • Apakah setiap tahapan terdokumentasi?

Semua proses harus dilakukan secara konsisten agar mutu dan kehalalan produk tetap terjaga.

Tahap Ketiga: Dokumentasi yang Sangat Penting

Banyak orang mengira kualitas hanya dibuktikan oleh produk. Padahal di industri pangan berlaku prinsip: “Apa yang tidak terdokumentasi dengan baik akan sulit dibuktikan. Karena itu perusahaan menyimpan berbagai catatan, seperti:

  • Data penerimaan bahan.
  • Catatan produksi.
  • Hasil pemeriksaan mutu.
  • Program pelatihan karyawan.
  • Prosedur operasional.

Dokumentasi membantu memastikan proses dapat ditelusuri apabila diperlukan.

Tahap Keempat: Semua Tim Harus Terlibat

Menjaga kehalalan bukan hanya tugas satu orang. Di perusahaan pangan, banyak bagian bekerja bersama, antara lain:

🧪 Quality Control memeriksa mutu bahan dan produk.

📋 Quality Assurance memastikan sistem berjalan sesuai prosedur.

📦 Gudang mengelola penyimpanan bahan dengan benar.

🏭 Produksi menjalankan proses sesuai standar.

👨‍💼 Tim halal mengoordinasikan penerapan sistem jaminan halal di perusahaan.

Inilah contoh nyata bahwa industri pangan mengandalkan kerja sama lintas bidang.

Mengapa Sertifikasi Halal Menjadi Nilai Tambah?

Saat ini, permintaan terhadap produk halal terus meningkat, baik di dalam negeri maupun di pasar internasional. Bagi perusahaan, penerapan sistem jaminan halal dapat meningkatkan kepercayaan konsumen dan memperluas peluang pasar. Bagi konsumen, keberadaan sertifikasi halal memberikan informasi bahwa produk telah melalui proses sesuai mekanisme yang berlaku.

Apa yang Dipelajari Mahasiswa Teknologi Pangan?

Di Program Studi Teknologi Pangan Universitas Ma’soem, mahasiswa tidak hanya belajar membuat produk. Mereka juga mempelajari:

  • Sistem jaminan mutu.
  • Sistem jaminan produk halal.
  • Keamanan pangan.
  • Dokumentasi industri.
  • Audit internal.
  • Ketertelusuran bahan.
  • Regulasi pangan.
  • Manajemen proses produksi.

Kemampuan tersebut sangat dibutuhkan oleh industri pangan modern.