Jurusan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) sering dianggap “klasik”, bahkan oleh sebagian Gen Z dicap sebagai pilihan terakhir. Namun, jika dilihat dari masa ke masa, FKIP justru menjadi salah satu fakultas yang paling konsisten diminati dan tidak pernah kehilangan peminat. Menariknya, di balik isu gaji rendah dan penyesalan masuk FKIP, fakultas ini justru kerap menjadi tempat pelarian yang aman di tengah ketidakpastian dunia kerja.
FKIP: Jurusan Lama yang Tak Pernah Sepi
Sejak dulu hingga sekarang, jurusan FKIP selalu hadir di hampir semua perguruan tinggi. Alasannya sederhana: pendidikan tidak pernah mati. Selama masih ada manusia, sekolah, dan proses belajar, tenaga pendidik akan selalu dibutuhkan.
Beberapa jurusan FKIP yang paling diminati dari masa ke masa antara lain:
- Pendidikan Bahasa Indonesia
- Pendidikan Bahasa Inggris
- Pendidikan Matematika
- Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD)
- Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
- Bimbingan dan Konseling
Jurusan-jurusan ini memiliki peminat stabil karena lulusannya bisa masuk ke berbagai sektor, tidak hanya menjadi guru formal.
Pandangan Gen Z terhadap Jurusan FKIP
Bagi Gen Z, memilih jurusan kuliah bukan sekadar soal minat, tetapi juga prospek kerja, fleksibilitas, dan penghasilan. Di sinilah FKIP sering dipandang sebelah mata. Banyak konten media sosial yang menggambarkan:
- Guru dengan gaji kecil
- Lulusan FKIP yang “salah jurusan”
- Penyesalan karena peluang kerja dianggap sempit
Tak sedikit mahasiswa yang mengaku masuk FKIP karena tidak lolos jurusan favorit, mengikuti saran orang tua, atau sekadar ingin aman.
Namun, seiring berjalannya waktu, persepsi ini mulai berubah.
Isu Gaji Rendah: Fakta yang Tidak Bisa Diabaikan
Tidak bisa dimungkiri, isu gaji rendah memang menjadi tantangan nyata bagi lulusan FKIP, terutama di awal karier. Guru honorer, misalnya, sering digaji jauh di bawah UMR. Hal inilah yang memicu stigma bahwa masuk FKIP adalah pilihan yang salah.
Namun, banyak yang lupa bahwa:
- Guru PNS memiliki jenjang karier dan tunjangan
- Guru swasta berkualitas bisa memiliki penghasilan kompetitif
- Lulusan FKIP tidak terbatas pada profesi guru saja
Selain mengajar di sekolah, lulusan FKIP kini merambah ke dunia:
- Edukasi digital
- Content creator pendidikan
- Tutor online
- HR dan training perusahaan
- Konselor dan pendamping pendidikan
Dari Penyesalan ke Kesadaran
Menariknya, banyak mahasiswa FKIP yang awalnya menyesal masuk jurusan ini, justru menemukan kenyamanan setelah menjalaninya. FKIP dikenal sebagai fakultas dengan:
- Lingkungan akademik yang lebih humanis
- Tekanan kompetisi yang relatif lebih sehat
- Ilmu yang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari
Bagi sebagian mahasiswa, FKIP menjadi tempat pelarian yang aman. Saat jurusan lain penuh tekanan, target karier kaku, dan kompetisi brutal, FKIP menawarkan ruang untuk tumbuh secara perlahan namun stabil.
FKIP dan Stabilitas di Masa Depan
Di tengah ketidakpastian dunia kerja, otomatisasi, dan AI, profesi pendidik justru semakin relevan. Mesin bisa menggantikan banyak pekerjaan, tetapi peran manusia dalam mendidik, membimbing, dan membangun karakter masih sangat dibutuhkan.
Inilah alasan mengapa jurusan FKIP tetap diminati dari masa ke masa. Bagi Gen Z yang mulai memikirkan work-life balance, makna pekerjaan, dan kebermanfaatan sosial, FKIP perlahan kembali dilirik.
Jurusan FKIP yang paling diminati dari masa ke masa membuktikan satu hal: pendidikan adalah fondasi peradaban. Meski sempat dipandang sebelah mata karena isu gaji rendah dan cerita penyesalan, FKIP justru menjadi pilihan aman, relevan, dan adaptif di era modern.
Bagi sebagian orang, FKIP bukan pilihan pertama. Namun bagi banyak lainnya, FKIP adalah tempat pulang, tempat belajar bertumbuh, menemukan makna, dan membangun masa depan dengan cara yang lebih manusiawi.





